Mengejar Ke(ter)tinggalan

22 Desember 2013 - 09.01 WIB > Dibaca 1972 kali | Komentar
 
Mengejar Ke(ter)tinggalan
“Di babak kedua, Myanmar berusaha mengejar ketinggalan. ”Itulah salah satu kalimat dalam satu surat kabar saat memberitakan pertandingan sepak bola antara Tim Indonesia dan Tim Myanmar pada SEA Games 2013 di Yangon, Myanmar beberapa hari yang lalu. Saat itu, Tim Indonesia lebih dahulu unggul 1 gol daripada Myanmar. Sudah dapat dipastikan bahwa Tim Myanmar tidak akan pernah sampai pada tujuannya (menyamakan skor, bahkan mengungguli Tim Indonesia), karena mereka mengejar ketinggalan.

Ungkapan mengejar ketinggalan, kalau dicermati, memang sering kita dengar/baca dalam kehidupan sehari-hari terutama menyangkut dunia olah raga, khususnya sepak bola. Barangkali karena “keakraban” itu, kita tidak peduli arti yang sebenarnya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008), kata mengejar memiliki beberapa arti: “1 berlari untuk menyusul (menangkap dsb); memburu: ia berusaha ~ dan menangkap saya; 2 ki berusaha keras hendak mencapai (mendapatkan dsb); menginginkan dng sungguh-sungguh: ~pangkat; ~ ilmu. “

Kalau demikian, tentulah ungkapan mengejar ketinggalan tersebut tidak sesuai dengan pernalaran (reasoning) yang baik. Mengapa demikian? Sebelum mengungguli Tim Indonesia, Tim Myanmar harus menyamakan skor. Kalau Tim Myanmar mengejar ketinggalan, tentu mereka akan semakin tertinggal (tidak mampu menyamakan skor, apalagi mengungguli).

Ungkapan yang hampir sama, mengejar ketertinggalan, juga pernah kita dengar dalam kalimat heroik: “Agar menjadi bangsa yang maju, Indonesia harus mengejar ketertinggalan dalam berbagai bidang kehidupan.” Kalimat tersebut sebenarnya dimaksudkan untuk memotivasi bangsa Indonesia agar lebih maju. Namun, tampaknya si pemakai kalimat lupa (tidak tahu) arti kata ketertinggalan. Dalam KBBI (2008), kata ketertinggalan berarti ‘keadaan tertinggal’. Ungkapan mengejar ketertinggalan berarti ‘mengejar keadaan tertinggal’. Barangkali dengan mencermati makna kalimat tersebut, salah satunya, kita dapat memahami berbagai ketertinggalan bangsa kita daripada bangsa lain. Kita mengejar keadaan tertinggal, bukan mengejar kemajuan.

Melengkapi Kekurangan?

Ungkapan melengkapi kekurangan juga setali tiga uang dengan mengejar ketertinggalan. Dalam surat menyurat (dinas), ungkapan tersebut dipakai untuk menyampaikan suatu kekurangan pada pengiriman berkas bersama surat sebelumnya. Misalnya, "Bersama ini kami kirimkan berkas untuk melengkapi kekurangan laporan yang sudah kami kirimkan pada 12 Agustus 2012".

Yang dimaksudkan oleh pengirim surat pastilah melengkapi laporan, bukan melengkapi kekurangan. Kalau laporan yang dilengkapi, tentu akan lengkap, tetapi apabila kekurangan yang dilengkapi tentu akan semakin kurang. Seharusnya, kekurangan tersebut diatasi, bukan dilengkapi. Agar bernalar, kalimat itu dapat diperbaiki menjadi sebagai berikut.

(1)    Bersama ini kami kirimkan berkas untuk melengkapi laporan yang sudah kami kirimkan pada 12 Agustus 2012.
(2)    Bersama ini kami kirimkan berkas untuk mengatasi kekurangan laporan yang sudah kami kirimkan pada 12 Agustus 2012.

Menghilangkan wajah berjerawat?


Kalimat ”Bedak ini mampu menghilangkan wajah berjerawat,” juga membuat kita geleng-geleng kepala sekaligus takjub. Bedak apakah yang  sedemikian adikodratinya sehingga mampu membuat wajah hilang? Pasti calon pembeli mengurungkan niatnya untuk membeli. Bahkan, pihak yang berwenang harus melarang peredarannya, karena sangat mematikan. Maksud kalimat tersebut yang akan dihilangkan ialah jerawat, bukanlah wajah. Namun, sekali lagi, si pemakai bahasa (Indonesia) lupa bahwa berbahasa juga memerlukan pernalaran yang baik. Oleh karena itu, kalimat tersebut seharusnya: “Bedak ini mampu menghilangkan jerawat.” Apabila sudah demikian, diyakini banyak yang akan membeli bedak tersebut.
 
Yang punya HP, harap dimatikan?

Ada lagi kalimat “kejam” yang sering didengar saat suatu acara, rapat misalnya, akan berlangsung, atau ditulis di tempat ibadat: “Yang punya HP, harap dimatikan.” Sepintas lalu, orang pasti paham maksud perkataan/tulisan tersebut, yaitu agar yang memiliki/membawa HP (telepon genggam) menonaktifkan HP-nya. Namun, kalimat tersebut bukanlah bermakna demikian, yang dimatikan justru yang memiliki/membawa HP. “Agar yang punya HP bisa tetap hidup, memang HP-nya yang harus dinonaktifkan,” demikian seloroh seorang teman. Maka, imbauan tersebut harus diperbaiki, misalnya menjadi HP Anda mohon dinonaktifkan, bukan pula HP Anda mohon dimatikan (dalam konteks tersebut, kata sanding yang tepat untuk HP adalah nonaktif, bukan mati).

Absen 2 kali sehari?

Absen berarti ‘tidak masuk (sekolah, kerja, dsb); tidak hadir’ (KBBI, 2008). Pemakaian  kata ini sering menyalahi pernalaran. Coba cermati peraturan Setiap pegawai harus absen 2 kali  sehari, yaitu ketika datang dan akan pulang. Artinya, setiap pegawai harus tidak masuk/hadir 2 kali sehari, .... Padahal, yang dimaksudkan adalah setiap pegawai harus menandatangani daftar kehadiran sebanyak 2 x sehari: saat datang dan akan pulang. Apakah bukan karena itu sebagian pegawai menjadi sering absen di kantor? Mudah-mudahan bukan. Alhamdulillah.  



Imelda Yance
Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 10:55 wib

Oplet Mulai Ditinggal

Kamis, 15 November 2018 - 10:30 wib

Pencatut Nama Kapolda Riau Ditangkap

Kamis, 15 November 2018 - 10:16 wib

Puluhan Pasangan Terjaring Razia

Kamis, 15 November 2018 - 10:00 wib

Anggaran Makan SMAN Plus Dihentikan

Kamis, 15 November 2018 - 09:55 wib

GTT Digaji Rp1,5 Juta Sebulan

Kamis, 15 November 2018 - 09:38 wib

Kerusakan Jalan Datuk Laksamana Semakin Parah

Kamis, 15 November 2018 - 09:36 wib

Geger, Harimau Terjebak di Antara Ruko

Kamis, 15 November 2018 - 09:00 wib

BPK Temukan Kelebihan Bayar Rp239 Juta

Follow Us