Mereka Ibu

22 Desember 2013 - 09.36 WIB > Dibaca 805 kali | Komentar
 
Mereka Ibu
PETANG menjelang, matahari menampakkan warna jingga di ufuk barat, sekejap lagi rembang malam akan menjelang.  Dari kejauhan Niar, seorang nelayan wanita sedang mengayuh sampan kecilnya, dia baru saja pulang dari memancing dan melihat lukah yang dia pasang pada malam harinya. Aktivitas seperti ini sudah bertahun-tahun lamanya dia lakukan.

Dengan kayuhan yang perlahan namun pasti, sampan kecilnya merapat ke dermaga yang sangat-sangat sederhana. Niar pun menambatkan sampan kecilnya dan tak lama berselang dia mengeluarkan beberapa ekor ikan gabus yang berhasil dipancing ataupun yang terperangkap dalam lukah. Ikan yang masih hidup dia pisahkan dengan ikan yang mati.

Ikan-ikan yang sudah mati selanjutnya dia bersihkan untuk dijadikan ikan asin, sementara ikan yang masih hidup ditempatkan pada satu wadah khusus yang ada tak jauh dari dermaga sederhana tadi.  Seminggu sekali atau dua minggu sekali, Niar akan mengantar ikan-ikan tadi ke desa tempat dia tinggal bersama keluarganya.

Hampir setiap hari aktivitas mencari ikan dengan memancing dan menahan lukah dia lakukan. Niar tidak sendiri, bersama dia ada sejumlah wanita lainnya yang berprofesi serupa. Hanya saja ketika aktivitas memancing dan melihat lukah itu dilakukan mereka selalu berpencar sesuai naluri dan keinginan masing-masing.

Perjumpaan kami dengan Niar dan sejumlah ibu-ibu lainnya terjadi beberapa waktu lalu. Saat itu kami sedang melakukan ekspedisi ke kawasan Danau Zamrud. Lebatnya hutan memang sedikit membuat kami sedikit takut, terlebih ketika beberapa orang warga bercerita di dalam kawasan itu masih bermukim harimau sementara di dalam sungai masih ada buaya rawa.

Potret Niar dan ibu-ibu lainnya aku pikir adalah potret ibu sejati, dia rela berpisah dengan anak-anak dan keluarganya yang tinggal puluhan kilometer dari tempat pondok dia tinggal. Semua ikan yang dia dapat akan dijual, satu yang menjadi tujuan utama dari hasil penjualan ikan itu adalah untuk biaya sekolah anaknya. Dia berujar kepada kami ketika itu, biarlah aku susah asal anak sekolah.

Niar dan ibu-ibu lainnya adalah perempuan dan ibu perkasa, mereka tidak mau berkeluh kesah ketika semuanya tiada, mereka berupaya sedaya upaya mencari untuk dibuat sesuatu yang berguna. Memang masih banyak wanita-wanita perkasa lainnya di negeri ini, namun potret Niar dan ibu-ibu lain yang mencari nafkah dari kebaikan alam patutlah diacungi jempol.

Mereka bersahabat dengan alam, karenanya ketika hutan di rapah mereka tidak takut pada harimau dan ketika sungai diarung mereka tak takut dengan buaya. Harimau mereka jadikan teman dan kawan, buaya mereka jadikan sahabat yang mendendangkan sunyi malam dan mendodoikan panas ketika matahari di puncak ubun-ubun.

Sangat bertolak belakang dengan potret ibu-ibu di perkotaan  terlebih di kota-kota besar seperti di Jakarta dan sebagainya. Dari berbagai media massa paras ibu yang seharusnya menjadi panutan bagi anak-anaknya bertolak belakang dari kenyataan seharusnya. Tak sedikit kita lihat seorang ibu yang tega membunuh anak yang baru dilahirkannya dan tak sedikit pula ibu yang memberi malu pada dirinya dan keluarga besarnya.

Mereka tidak pernah puas atas materi yang diberikan Allah SWT, mereka tidak pernah puas dengan satu kendaraan mobil, mereka tidak pernah puas dengan gelayutan permata di sekujur tubuh dan mereka pada akhirnya tidak pernah puas-puas dengan kondisi yang ada, akibatnya mereka menghalalkan segala cara walau itu dilarang oleh agama. Patutkah ini menjadi tauladan bagi anak-anaknya? Entahlah.

Lihatlah di televisi. Betapa banyak kaum ibu yang tersandung dengan berbagai persoalan, mulai dari korupsi, asusila dan sebagainya. Ini sungguh memalukan, sementara di berbagai ceruk negeri lainnya ibu dengan berbagai latar belakang bertungkus lumus mengangkat harkat dan drajat diri dan keluarganya, mereka adalah ibu sejati, mereka adalah ibu yang harus ditiru oleh ibu-ibu lainnya. Mereka ibu yang menjadi panutan bagi anak-anaknya

Terkenang Niar. Mungkinkah dia masih di belantara itu, merapah jengkal demi jengkel bibir pantai sungai, merapah alur-alur sungai, menajur batang-batang bambu dan membenam-benam lukah ke sungai dan anak sungai. Mereka ibu perkasa yang tidak mau takluk pada ketakutan, pada kemiskinan dan kebodohan. Selamat hari ibu, maaf dan salam takzim kepada mereka yang merasa menjadi ibu dan sepaling alfatihah bagi ibu yang sudah mendahului.***


Gema Setara
Redaktur
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 November 2018 - 10:00 wib

Pekanbaru Yakin Jadi Tuan Rumah Porprov 2021

Rabu, 21 November 2018 - 10:00 wib

Polisi Telusuri Jaringan Pengedar Empat Kilogram Sabu-Sabu

Rabu, 21 November 2018 - 09:53 wib

Solar Langka di Batam

Rabu, 21 November 2018 - 09:50 wib

dembele kecanduan game

Rabu, 21 November 2018 - 09:46 wib

Beban Belanja Pegawai Makin Berat

Rabu, 21 November 2018 - 09:45 wib

Jembatan Kayu Sei Mondiang Kota Lama Butuh Perhatian

Rabu, 21 November 2018 - 09:41 wib

MoU APBD Terkendala Utang

Rabu, 21 November 2018 - 09:40 wib

Ekspedisi Terios 7 Wonders Tempuh 1.574 Km

Follow Us