Buruk Muka, Cermin Jangan Dibelah

29 Desember 2013 - 08.16 WIB > Dibaca 1173 kali | Komentar
 
Buruk Muka, Cermin Jangan Dibelah
Aditya Atmaja (7) atau Adit  layaknya anak lainnya di negeri ini, tidak ada keistimewaannya. Di usia tujuh tahun, yang seharusnya duduk di bangku SD kelas 1 atau TK, tapi dia tidak pernah mengecap dunia pendidikan itu, yang konon menurut undang-undang di negeri bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan.

Adit malah dibuang di tengah kebun sawit, suaranya tidak mampu berteriak minta tolong, karena lidahnya terluka, sekujur tubuhnya penuh luka. Untung ada tukang sayur yang menemukannya, Adit pun dibawa ke rumah sakit terdekat, yakni RS PTPN V Tandun.
Adit tidak tahu harus berbuat apa, saat titik kulminasi kebencian orangtuanya (ayah kandung dan ibu tiri) sempurna sudah.

Namun yang Adit peroleh campur tangan tangan Tuhan pada nasib dirinya. Malah dia mendapatkan banyak bantuan, sementara dua orang yang menyiksanya mendapatkan ganjaran. Jeritan  hati Adit yang tulus itu mendapatkan jawaban dari Tuhan, benar bahwa doa orang yang dhaif (lemah) itu mustajab (dikabulkan).

Kasus Adit menjadi pelajaran kita semua, bahwa posisi anak sangat lemah, di kala kedua orangtua mereka kelahi (konflik) maka anak yang selalu jadi sasaran. Beban hidup saat ini sangat berat, antara tuntutan dan pendapatan tidak sebanding, ini yang menyebabkan stres dan berujung perkelahian suami istri, lagi-lagi sasarannya anak, sebagai komponen terkecil dalam keluarga.

Dalam hidup berbangsa dan bermasyarakat, kasus Adit sebenarnya tak terlepas dari sistem yang dibangun di negeri ini, tatkala ekonomi keluarga melemah, maka tingkat stres keluarga pun tinggi. Kenaikan harga dolar (merosotnya rupiah) belakangan ini berdampak terhadap kenaikan harga barang-barang, sementara penghasilan buruh (karyawan) tidak sebanding dengan kenaikan gaji, maka ribuan buruh di negeri melakukan demo menuntut kenaikan upah minimum.

Buruh-buruh itu berupaya melindungi keluarga mereka agar bisa makan, berteduh dan mendapatkan layanan pendidikan, kesehatan yang layak. Namun di sisi lain, pihak perusahaan sudah kembang kempis, kalau dipaksa membayar gaji yang sesuai dengan tuntutan buruh, maka perusahaan akan bangkrut. Semua bermuara ke perut. Pihak buruh menuntut demi keluarga mereka, perusahaan bertahan demi keuntungan sesuai targetnya atau demi lainnya.
Membaca 2013 cukup dengan dunia kecil, yakni kasus Adit dan keluarganya. Ibunda Adit yang bekerja merantau ke negeri jiran Malaysia jadi TKW, adalah sisi lain dari negeri ini, di mana negara tidak bisa memberi lapangan kerja yang memadai. Sosok Adit yang seharusnya mendapat perlindungan, malah terzalimi.

Kondisi negeri memang membuat sendi-sendi keluarga rawan terkoyakkan. Undang-undang menyatakan bahwa setiap anak usia 7-12 tahun wajib belajar, tapi coba kita cek di dinas pendidikan atau Kemendiknas, berapa ribu anak usia sekolah yang tidak bisa sekolah, tak usah jauh kita mencari contoh, lihat Adit, haknya untuk sekolah pun tak mampu. Masih banyak Adit lainnya di negeri ini.

Seakan-akan antara undang-undang dan kenyataan itu seperti panggang jauh dari api. Jika undang-undang menjamin setiap anak usia sekolah wajib belajar, namun kenyataannya banyak yang tidak duduk di bangku sekolah, karena miskin.

Benar seperti sebuah ungkapan pengamat bahwa Indonesia negara yang belum jadi. Negeri ini terus mencari bentuknya, namun di tengah upaya mencari bentuk itu, ada segelintir oknum yang memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Kita saksikan sendiri bagaimana sosok Ratu Atut (Gubernur Banten) yang berhasil mendudukkan seluruh keluarganya jadi pejabat, mulai dari bupati, wakil bupati dan anggota DPR RI.

Bagi Riau, untuk melihat bagaimana tahun 2013, cukup dengan melihat Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa), yakni mencapai Rp1,1 triliun. Ini merupakan angka yang cukup tinggi, padahal banyak infrastruktur pendidikan, kesehatan, pembangunan rumah layak huni,  yang memerlukan dana itu. Artinya pejabat tidak mampu mengemban amanah rakyat untuk mengelola APBD.

Buruk rupa, cermin jangan dibelah. Mari kita songsong tahun 2014 dengan rasa optimis. Ada ungkapan, jika kamu hendak mengurus bangsamu, uruslah masyarakat sekitarmu terlebih dahulu. Jika hendak mengurus masyarakat sekitarmu, maka uruslah keluargamu dulu. Jika hendak mengurus keluargamu, maka uruslah dirimu sendiri dulu. Ini sejalan dengan pesan Alquran, jaga dirimu dan keluargamu dari api neraka. Dirimu dulu, baru keluarga, masyarakat, bangsa dan seterusnya.***


JARIR AMRUN
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us