Milad Ke-2, Sekolah Alam Bandar Bakau

Ketika Raja Udang Tak Lagi Menjadi Raja

5 Januari 2014 - 08.11 WIB > Dibaca 1058 kali | Komentar
 
Ikan lomek mak iloi-iloi
Ikan gulame mak iloi-iloi
Dapat ikan sedapnyo amboi
Ikan lomek sedap digulai


BEGITULAH sambutan anak-anak Sekolah Alam Bandar Bakau ketika Riau Pos berkunjung ke tempat pesanggrahannya tepatnya di Kelurahan Pangkalan Sesai, Kota Dumai. Lagu klasik yang mereka nyanyikan secara serentak mengekspresikan kebahagian mereka hari itu sebagai tanda hari ulang tahun sekolah tersebut yang ke-2 tahunnya.

Uniknya, ulang tahun yang ke-2 itu, mereka merayakan dalam usia yang sesungguhnya sudah mencapai tiga tahun. Dikatakan Pembina Sekolah Alam Bandar Bakau, Darwis Muh Saleh perayaan ulang tahun yang ke-2 ini sebenarnya dalam tahun riilnya sudah masuk tiga tahun. Tapi dirayakan dua tahun karena di Sekolah Alam Bandar Bakau anak-anak masuknya sekali seminggu. Jadi berdasarkan perhitungan itulah, setahun di sekolah ini terhitung setahun setengah dalam tahun sesungguhnya, jelas Darwis yang  biasa akrab dipanggil Pak Wo oleh muridnya.

Tak ada perayaan khusus di tahun kedua ini. Hanya saja pertemuan hari itu, mereka belajar dari pagi hinggalah ke petang. Seperti yang dikatakan Darwis, mereka datang ke sekolah Alam ini sudah merupakan wisata dan perayaan ulang tahun tidak begitu penting ketimbang memberikan mereka pembelajaran tentang alam, tumbuhan dan juga kesenian.

Sekolah Alam Bandar Bakau itu sendiri dibangun Darwis 2010, tepatnya di September. Seperti yang diceritakannya, pada waktu itu musim liburan sekolah. Darwis melihat banyak anak-anak yang orang tuanya tidak mampu dari segi ekonomi  tidak dapat mengecap yang namanya liburan sekolah terutama liburan bersama yang menjadi agenda di sekolah. Tentu saja anak-anak itu tak bisa ikut karena orang tuanya tak mampu membayar iuran yang ditetapkan oleh pihak sekolah, ujarnya.

Lalu kemudian melihat fenomena itulah akhirnya ia berupaya mengumpul anak-anak tersebut untuk berwisata di hutan Bakau. Awalnya hanya berupa jalan-jalan mengelilingi hutan bakau ini. Seingat saya waktu itu ada sekitar tujuh orang anak, katanya.

Lalu kemudian sembari berwisata mulai ditingkatkan kepada pengenalan ilmu dasar lingkungan, spesies pesisir, seni sastra, teater dan seni rupa. Dijelaskan Darwis, akhirnya secara alami, mereka bertambah ramai hasil dari ajakan tujuh orang awal tadi itu. Yang jelas pada waktu itu tidak ada pasilitas sedikitpun di dalam hutan bakau ini, katanya lagi.

Saat ini dapat dilihat, banyak sekali di bangun pendopo atau pondok untuk anak-anak belajar di dalamnya bahkan tampak pula beberapa warga berwisata sambil makan bersama keluarga di dalam pondok yang telah disediakan. Untuk menghubung antara pondok ke pondok yang lainnya, dibangun jalan atau lebih pantas disebut jambat kecil yang memanjang. Dengan demikian, terasa sekali kenyamanan dan keasrian hutan tersebut. Hal ini tentu saja berbanding terbalik dengan keadaan di Kota Dumai yang panas oleh sengatan matahari, uap laut dan juga kilang minyak.

Saat ini, siswa sekolah alam Bandar Bakau berjumlah 63 orang dari semua keluarga dengan status sosial beragam yang ada di Dumai ini. Para siswa pun tak dipungut biaya, hanya saja mereka menyetor 1000 rupiah setiap kali pertemuan untuk KAS mereka. Menurut pengakuan Darwis lagi, apa yang dilakukannya mendapat respon positif dari orang tua yang menitipkan anak-anaknya tiap hari minggu untuk belajar di sekolah alam Bandar Bakau tersebut.

Alasan mereka agar anak-anak mereka tidak terlena dan asyik dengan game serta internet. Dan saya tidak ada target apa-apa. Paling tidak, mereka saya bekali dengan pemahaman pentingnya mencintai lingkungan, hewan serta bagaimana berkreativitas dan berekspresi dengan seni dan budaya. Kelak mau jadi apapun mereka ke depannya, mereka sudah punya dasar, jadi pemimpin, tentu pemimpin yang cinta akan lingkungan dan seni. Jadi pegawai, dokter, guru dan lainnya tetap dengan pemahaman yang cukup terhadap pentingnya mencintai lingkungan alam dan seni, jelas Darwis panjang lebar.

Seperti layaknya sekolah formal, sekolah alam Bandar Bakau juga memiliki waktu kelulusan. Waktu kelulusan tersebut menyesuaikan dengan kelulusan para siswa di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Mereka semua akan diberi sertifikat kelulusan setelah menyelesaikan skripsi, praktikum dengan menanam seratus mangrove. Mereka juga di tes secara lisan atau semacam sidang tugas akhir di depan orang tua mereka. Pengujinya saya datangkan dosen dari Universitas Riau (UN) dan juga saya sendiri, jelas Darwis lagi.

Di tahun ke-2 ini Darwis hanya berharap adanya perhatian pemerintah, perusahaan terkait dengan penyediaan bantuan berupa alat-alat untuk mendukung kegiatan belajar mengajar baik ilmu seni maaupun ilmu lingkungan. Misalnya alat-alat musik Melayu, alat-alat praktikum seperti alat pengukur angin, pengukur kadar air laut dan lainnya. Kita Alhamdulillah sudah ada ruang-ruang teori. Dan saya juga berharap di bangun panggung pementasan di sekolah alam Bandar Bakau ini, katanya.

Seni sebagai Corong Peduli Lingkungan
Keberadaan Sekolah Alam Bandar Bakau yang dibangun Darwis dari nol itu sesungguhnya tidak terlepas dari kondisi seni dan budaya yang cukup memprihatinkan menurutnya. Dulu Dumai ini kaya dengan seni dan budaya. Adapun keberagaman seni budaya itu berada di Kampung Pasar Pantai. Di sanalah cikal bakal keanekaragaman suku di Dumai. Tapi semua nilai seni dan budaya itu hilang yang diakibatkan pengaruh pembangunan pada masa Orde Baru. Pembangunan pelabuhan Pelindo di kampung Pasar Pantai dengan sistem ganti rugi merupakan salah satu penyebab berkecai berainya pusat kebudayaan Melayu tersebut. Kini masyarakat terpecah-pecah entah ke mana, ada yang di Purnama, Pangkalan Sesai dan entah ke mana lagi. Otomatis keterpecahan tempat tinggal itu mempengaruhi keberadaan seni dan budaya yang dimiliki, ungkap Darwis.

Dibangunnya sekolah alam ini menurut Darwis juga dalam rangka mengemban misi mendidik anak-anak peduli lingkungan dengan seni menjadi corong atau media untuk mengekspresikannya. Makanya setiap siswa sekolah alam ini diberi pelajaran bagaimana menulis yang baik. Mulai dari menulis laporan, menulis pengalaman, pantun, syair, cerpen bahkan puisi.

Tak heran kemudian beberapa orang anak menunjukkan kebolehannya dihadapan Riau Pos. Ada yang membacakan pantun, baca puisi dan cerita pengalaman mereka selama belajar di sekolah alam Bandar Bakau tersebut.  Bila dicermati, semua hasil karya mereka tak terlepas dari tema tentang lingkungan dan alam sekitar tempat mereka berproses. Diantaranya pantun tentang bagaimana menjaga lingkungan, puisi tentang laut tercemar, hutan bakau yang hampir punah.

Demikianlah kata Darwis dalam konsep pendidikan sekolah alam, anak-anak berada di dalamnya di mana alam sebagai ruang belajar, alam sebagai media dan bahan mengajar sekaligus alam sebagai objek pembelajaran. Mereka semua baru saja mementaskan sebuah naskah anak-anak yang berjudul Ketika Raja Udang Tak Lagi Menjadi Raja. Dan memang di sekolah alam Bandar Bakau ini akan ditargetkan sebagai pusat seni pertunjukan, katanya mengakhiri.(*6)

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 November 2018 - 15:54 wib

Prabowo Pasti Tepati Janji Tuntaskan Masalah Honorer K2

Rabu, 21 November 2018 - 15:50 wib

Tim Kampanye Jokowi Manfaatkan Popularitas Djarot

Rabu, 21 November 2018 - 15:45 wib

Dewan Rekomendasikan Cabut Izin PT MAS

Rabu, 21 November 2018 - 15:30 wib

Gunakan Sampan, Kapolres Jangkau Lokasi Banjir Temui Warga

Rabu, 21 November 2018 - 15:00 wib

APBD 2019 Rp1,47 T

Rabu, 21 November 2018 - 14:45 wib

Fokus Siapkan PK, Nuril Minta Perlindungan LPSK

Rabu, 21 November 2018 - 14:42 wib

141 Kades Tersangka Korupsi

Rabu, 21 November 2018 - 14:39 wib

Jadwal Pemeriksaan Kesehatan JCH Sesuai Konfirmasi Diskes

Follow Us