Ais

5 Januari 2014 - 08.46 WIB > Dibaca 1255 kali | Komentar
 
Ais
Agus Sri Danardana
“Ais! Ais!” teriak Atan.

“Tak kena tangan awak,” jawab Midun kesal. Ia berhenti sejenak, mencoba meyakinkan Atan. Telunjuk tangan kirinya ditonjok-tonjokkan ke dada kanannya, sebelum melanjutkan menggiring bola.

Dialog antarpemain bola seperti itu, konon, masih dengan sangat mudah ditemukan (didengar) di perdesaan Riau pada belasan tahun yang lalu. Hal itu diungkapkan oleh Raja Saleh pada seminar karya tulis ilmiah yang diselenggarakan secara rutin (setiap pekan) oleh Balai Bahasa Provinsi Riau dalam makalahnya yang berjudul “Pemadanan Istilah-istilah Asing di Dunia Persepakbolaan Indonesia”.

Dalam makalahnya itu, salah satu kata (padanan) yang ditawarkannya adalah ais, sebagai padanan hands ball. Menurutnya, dulu kata ais sudah sangat popular di daerahnya (Kuantan Singingi, Riau,), bahkan juga di Sumatera Barat.

“Saat kecil dulu, kami selalu menyebutnya ais jika tangan pemain (sepak bola) menyentuh bola. Namun, setelah besar, kami pun mulai meninggalkan ais dan menggantinya dengan hands ball,” katanya.

Setakat ini, sikap negatif terhadap bahasa Indonesia seperti itu semakin menggejala. Para pengisi acara (baik pembawa acara maupun komentator) di media elektronik, misalnya, dapat dijadikan contoh adanya sikap negatif itu. Lihatlah, hampir semua pembawa acara dan/atau penyiar televisi dan radio di Indonesia (baik yang nasional maupun daerah) tidak mengenal lagi kata istirahat. Kata itu telah digusurnya dengan kata asing: break.

“Kita break dulu,” kata mereka setiap kali akan menayangkan iklannya. Begitu pula kata-kata yang lain, seperti pelatih, juara, bek, dan pencetak gol terbanyak. Keempat bentuk kata itu telah mereka gusur dengan coach, scudetto/champion, defender, dan top scorer.

Memang benar bahwa salah satu cara untuk memperkaya kosakata bahasa Indonesia adalah melalui penyerapan kata-kata bahasa asing. Akan tetapi, penyerapan itu (baik yang melalui translasi/penerjemahan, adaptasi/penyesuaian, maupun adopsi/pengambilan secara utuh) seharusnya baru akan dilakukan jika secara konseptual makna kata serapan itu tidak ditemukan dalam perbendaharaan kata (kosakata) bahasa Indonesia. Artinya, penyerapan kata-kata asing tidak digunakan untuk menggusur kosakata yang telah ada, tetapi untuk menambah dan memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Menggusur kosakata yang telah ada dengan kata-kata bahasa asing, dengan demikian, justru sama artinya dengan mengerdilkan bahasa Indonesia.

Dalam buku Pedoman Umum Pembentukan Istilah (2008:3) disebutkan bahwa bahan baku istilah Indonesia bersumber pada tiga golongan bahasa, yakni (1) bahasa Indonesia dan Melayu, (2) bahasa Nusantara yang serumpun, dan (3) bahasa asing. Artinya, penyerapan istilah asing merupakan alternatif terakhir setelah alternatif pertama dan kedua (pemadanan ke dalam bahasa Indonesia/Melayu dan bahasa-bahasa serumpun) tidak dapat lagi dilakukan. Itulah sebabnya bahasa Indonesia tidak menyerap kata-kata asing, seperti supermarket, master of ceremonies, tower, dan laundry karena kata-kata asing itu dapat dipadankan dengan pasar swalayan, pengatur acara, menara, dan binatu/dobi.

Upaya pemadanan kata-kata asing ke dalam bahasa Indonesia memang tidak selamanya berjalan mulus (berterima). Pemadanan kata efektif dan efisien menjadi sangkil dan mangkus, misalnya, dapat dijadikan contoh ketidakberterimaan itu. Sebaliknya, ketika diperkenalkan sebagai padanan kata sophisticated, kata canggih serta-merta menjadi laris manis bak kacang goreng. Entah apa penyebabnya, tingkat keberterimaan kata canggih itu sungguh mengagumkan. Padahal, awalnya kata canggih berarti ‘cerewet, bawel’ (Kamus Umum Bahasa Indonesia, Poerwadarminta, 1954).

Ada dua dalih utama yang biasa digunakan orang lebih menyukai kata-kata asing, yakni kemiskinan kosakata dan ketidak-praktis/simpel-an bahasa Indonesia. Kedua dalih itu sebenarnya telah terbantahkan, karena di samping telah memiliki 92 ribuan kosakata dan 450 ribuan istilah bidang ilmu, dalam hal-hal tertentu bahasa Indonesia juga dapat tampil praktis dan simpel. Selain beberapa contoh yang telah disebutkan, rasanya kata-kata seperti ranah, unggah, unduh, dan tetikus tidak kalah praktis dan simpel (bahkan lebih indah) daripada domain, upload, download, dan mouse.

Lalu, mengapa justru orang Indonesia sendiri yang enggan menggunakan kata/istilah bahasa Indonesia dan lebih senang menggunakan kata/istilah asing? Jawabannya beragam dan sudah sering dibicarakan orang. Yang pasti, apa pun alasannya, sikap tidak setia pada bahasa Indonesia itu justru memperlihatkan “kegagapan diri” dalam menghadapi era globalisasi yang sedang berlangsung saat ini sehingga rela mengorbankan identitas diri. Dalam hal ini, John Naisbitt melalui bukunya: Global Paradox menggambarkan bahwa betapa ketika dunia sedang terobsesi gerakan pengaburan batas-batas negara dan berupaya menjadi “satu”, ketika itu pula tengah terjadi gerakan pembentukan “negara baru”. Terbentuknya Uni Eropa, misalnya, ditengarai Naisbitt sebagai indikator gerakan yang kemudian melahirkan konsep globalisasi itu. Artinya, bukankah dalam setiap pergaulan (baik di tingkat lokal, regional, nasional, maupun internasional) identitas diri itu menjadi penting agar tetap dapat dikenali?

Begitulah, sesungguhnya hanya diperlukan kemauan dan keberanian untuk memopularkan kembali kata ais. Di samping sudah pernah di(ter)kenal, ais juga lebih praktis dan simpel daripada hands ball. Jika kemauan dan keberanian itu masih terus ada, tidak tertutup kemungkinan pada suatu saat nanti kata meniga pun akan mampu menggusur hattrick. Semoga.***



AGUS SRI DANARDANA
Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us