Jangan Mau Merugi

5 Januari 2014 - 08.51 WIB > Dibaca 814 kali | Komentar
 
Jangan Mau Merugi
Alwaqtu kasysyaifi, fainlam taqtohu qothoaka. Waktu itu bagaikan pedang, jika engkau tidak memotongnya, maka waktu lah yang akan memotongmu.

Kata mutiara ini memberitahu kita kalau waktu itu sangat berharga. Dia akan terus berjalan tanpa pernah menoleh ke belakang. Seperti tahun 2014 yang baru sepekan ini kita lewati. Sangat tidak terasa, sehingga berlalunya waktu begitu cepatnya. Dari detik ke menit, dari menit ke jam, dari jam ke hari, dari hari ke minggu, minggu menjadi bulan dan bulan menjadi tahun.

Demikianlah, kita terkejut-kejut dibuatnya. Baru kemarin rasanya si buah hati lahir, sekarang sudah pandai berjalan. Baru rasanya kemarin si buyung tamat sekolah dasar, tau-taunya sudah tamat sekolah menengah. Kita selalu berkata, tak terasa begini dan begitu setiap menyikapi suatu perubahan.

Perubahan yang begitu cepat, tanpa kita sadari, kita telah terlalu jauh tertinggal. Ketertinggalan ini tentunya sangat merugi. Sebagaimana firman Allah dalam surat AlAshri, yang artinya; Demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi. Kecuali bagi orang orang yang beriman dan mengerjakan amal kebaikan dan saling menasehati dalam  kebenaran dan dalam kesabaran.

Dari ayat ini jelas sudah siapa manusia yang merugi dan siapa manusia yang beruntung. Tinggal kita yang memilih  mau jadi manusia seperti apa, apakah manusia yang merugi atau sebaliknya.

Seiring dengan waktu pula, berbagai suka, duka, sudah dilalui. Baik itu skala individu, keluarga, lokal, nasional maupun skala internasional. Berbagai peristiwa yang memilukan, menyedihkan hingga membahagiakan datang silih berganti.

Jika sebuah musibah datang karena ulah sendiri, hingga berakibat alam tak lagi mau bersahabat, jangan tanyakan pada rumput yang bergoyang. Tapi tanyakanlah pada nurani kita, mengapa semua itu bisa terjadi.

Di ceruk negeri ini, masih saja kepiluan mendera sebagian kampung, sebagian wilayah, karena musibah tak kunjung reda. Belum lagi musibah utama terselesaikan, musibah lain sudah menanti. Sebut saja yang dialami sebagian warga Kampar. Musibah banjir memang sudah surut, namun kelaparan karena kekurangan bahan pangan datang mengancam.

Ironisnya, di zaman yang katanya sudah canggih di segala bidang, masih saja ada warga terisolir, hanya karena pembangunan yang belum merata atau pembangunan yang asal asalan. Asal buat, asal selesai. Sayangnya, sebentar saja dipakai dan tak perlu menunggu waktu lama, sebentar itu pula rusak.

Padahal pemimpin negerini sudah terlalu banyak belajar dari peristiwa yang berlalu. Bagaimana membuat sesuatu lebih berdayaguna dalam waktu yang lama. Kalau memang jembatan kayu sudah tak mempan, hendaknya jangan lagi direncanakan bangunan yang serupa di tahun berikutnya. Sayangnya, waktu yang sudah banyak memberi tamsilan agar kita mau belajar dari yang sudah terjadi , tidak digunakan sebaimana mestinya.

Selalu saja kata harapan ini berulang dari tahun ke tahun, agar  tahun yang baru lebih baik dari tahun yang sudah-sudah. Dan tahun yang lalu menjadi pelajaran untuk kebaikan masa depan. Akankah harapan ini hanya sebagai lipservice saja?  Jika ini terjadi, siap-siaplah kita tak akan luput dari derita yang itu ke itu saja. Nauzubillahi min zaalik!***


Nurizah Johan
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us