Wonderful Indonesia
Depan >> Berita >> Hukum >>
USAI DIJEMPUT PAKSA
Kesal Ditahan KPK, Fredrich Yunadi: Bohong Semua
Minggu, 14 Januari 2018 - 00:10 WIB > Dibaca 26166 kali Print | Komentar
Kesal Ditahan KPK, Fredrich Yunadi: Bohong Semua
Fredrich Yunadi saat akan dimasukkan ke Rutan KPK Sabtu (13/01). (DESYNTA NURAINI/JAWAPOS.COM)
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Sebuah rompi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya dikenakan ke tubuh Fredrich Yunadi, mantan pengacara Setya Novanto.

Dia sendiri mengaku kesal akan hal itu lantaran dirinya hanya menjalani profesinya sebagai advokat selama menjadi kuasa hukum mantan ketua DPR tersebut. Tak hanya itu, dia pun mengaku telah difitnah melakukan upaya menghalang-halangi penyidik KPK.

"Sama sekali tidak ada. Buktikan! Iya kan itu permainan, nggak ada itu, sesuatu hal rangkaian itu. Namanya skenario ingin membumihanguskan," katanya saat keluar dari lobi Gedung KPK mengenakan rompi oranye, Sabtu (13/1/2018).

Fredrich pun menyinggung soal kabar dia menyewa ruang VIP di Rumah Sakit Medika Permata Hijau agar Novanto bisa dirawat.

"Nggak ada, bohong semua," tegasnya.

Ditegaskannya, seorang advokat tidak bisa dikenakan hukum pidana maupun perdata. Menurutnya, itu sesuai Pasal 16 UU 18 tahun 2013 tentang advokat yang diperkuat dengan putusan MK Nomor 26 tahun 2013.

"Namun, sekarang saya dibumihanguskan. Ini adalah suatu pekerjaan yang diperkirakan ingin menghabiskan profesi advokat," jelasnya.

Dia menyebut, yang membungihanguskan itu adalah KPK

"Jelas KPK dong, siapa lagi," bebernya.

Atas perlakuan KPK terhadapnya hari ini, Fredrich menegaskan itu akan menjadi preseden buruk ke depannya. Bahkan, bisa diikuti lembaga penegak hukum lainnya, seperti kepolisian dan kejaksaan.

"Saya tanya sekarang, kalau praperadilan saya menang, gara-gara praperadilan, kasus nggak bisa jalan, dijerat juga nanti," sindirnya.

Penyidik KPK sebelumnya menjemput paksa Advokat Fredrich Yunadi, Jumat (12/1/2018) malam. Ketika diamankan di bilangan Jakarta Selatan, tim penyidik membawa surat penangkapan.
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
HUKUM & KRIMINAL
Asyik Nyabu, Dua Warga Duri Ditangkap Polisi
Rabu, 17 Januari 2018 - 10:28 wib
DPP Sita 47 Tabung
Rumah Makan Jual Gas Subsidi
Rabu, 17 Januari 2018 - 10:22 wib
DUMAI
Pasca Relokasi, Arus Lalu Lintas Jalan Thamrin Jadi Lancar
Rabu, 17 Januari 2018 - 10:22 wib
TAMU REDAKSI
BEM FISIP Universitas Riau Belajar Jurnalistik ke Riau Pos
Rabu, 17 Januari 2018 - 10:19 wib

Kabut Tak Pengaruhi Penerbangan
Rabu, 17 Januari 2018 - 10:16 wib
DIMINTA SECARA KHUSUS
Setya Novanto Jadi JC Kasus e-KTP? Ini Bantahan KPK
Rabu, 16 Januari 2018 - 21:00 wib
TERKAIT PILKADA JATIM
Tanyakan soal Mahar Gerindra, Bawaslu Kembali Panggil La Nyalla
Rabu, 16 Januari 2018 - 20:50 wib
77 ORANG JADI KORBAN
Ngeri! Korban Dengar Bisikan Aneh Sebelum Selasar BEI Roboh
Rabu, 16 Januari 2018 - 20:40 wib
BISA TERELIMINASI PADA 2019
Pengamat: Hanura Terancam karena Oso Selalu Gagal Urus Partai
Rabu, 16 Januari 2018 - 20:30 wib
BERTEMU KOMISI III DPR
Untuk Kedua Kalinya, Ketua MK Kembali Langgar Kode Etik
Rabu, 16 Januari 2018 - 20:20 wib
Cari Berita
Hukum Terbaru
Asyik Nyabu, Dua Warga Duri Ditangkap Polisi

Rabu, 17 Januari 2018 - 10:28 WIB

Setya Novanto Jadi JC Kasus e-KTP? Ini Bantahan KPK

Selasa, 16 Januari 2018 - 21:00 WIB

Untuk Kedua Kalinya, Ketua MK Kembali Langgar Kode Etik

Selasa, 16 Januari 2018 - 20:20 WIB

Diperiksa KPK, Kader PKB Bantah Terima Duit e-KTP

Selasa, 16 Januari 2018 - 19:00 WIB

Dituntut Dua Tahun  Enam Bulan, Syahrani dan Ridwan Bungkam
sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us