Helat Seni Menjunjung Negeri 2013

Punca dari Kerisauan

12 Januari 2014 - 09.10 WIB > Dibaca 1138 kali | Komentar
 
Seni dan kebudayaan adalah sebuah penanda identitas, penegasan eksistensi dan menunjukkan keseluruhan potensi kaum atau bangsa. Ketika semua bentuk budaya luar dapat menjengah kehidupan setiap manusia melalui teknologi informasi, maka seni dan kebudayaanlah yang merupakan satu dari sedikit hal yang dapat meneguhkan identitas tersebut.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru    

UNTUK meneguhkan seni budaya perlu pula dilakukan sejumlah tindakan nyata seperti yang dilakukan Suhaimi dan kawan-kawan di Bengkalis. Melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora), mereka menggunakan berbagai medium yang mungkin seperti melalui pengembangan sentra-sentra seni dan budaya, melalui pendidikan, penguatan tradisi dan lain sebagainya.

Helat Seni nama acara yang ditaja. Dimulai dari 2006 yang lalu, helat tersebut sudah yang ke delapan kalinya dilangsungkan  di Negeri Terubuk. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 16 percabangan seni diperlombakan. Diantaranya, lomba sandiwara klasik, vokal grup, tari zapin tradisi dan modern, mendongeng, berbalas pantun, penulisan puisi, busana Melayu modifikasi, kaligrafi, langgam Melayu, melawak, syair, melukis, kompang, busana Melayu Harian dan Baca Puisi.

Ribuan siswa atau pelajar dari enam kecamatan yang ada berdatangan ke pulau Bengkalis setiap tahunnya. Selain mengikuti perlombaan, keseluruhan peserta juga berkesempatan menyaksikan berbagai kreasi seni budaya yang ditampilkan pada acara pembukaan dan penutupan. Mereka (peserta, red) akan menyaksikan ragam bentuk seni pertunjukan yang langsung dipentaskan oleh seniman-seniman ternama baik dari Bengkalis, Provinsi bahkan Nasional.

Dengan mengapresiasi pertunjukan yang dianggap sudah jadi, tujuannya tak lain agar menjadi barometer, pemicu dan motivasi bagi peserta. Ke depannya, mereka menjadi tahu, seni budaya tradisi yang kita miliki, dipelajari, digeluti dengan sungguh-sungguh bisa mengantarkan kita menjadi orang yang patut, jelas Suhaimi.

Sebagai penaja dan pemilik gagasan awalnya, Suhaimi yang lebih dikenal dengan panggilan Mbok mengatakan kerisauanlah puncanya. Kemajuan teknologi dan perkembangannya hari ini hal yang tak mungkin terbendung sementara itu, seni budaya juga seharusnya menjadi sesuatu yang tak kalah penting pula untuk dipelajari. Tetapi kata Suhaimi, generasi muda terutama para pelajar hari ini boleh dikatakan hampir tidak ada minat untuk mempelajari, mendalami kekayaan seni budaya yang telah dimiliki nenek moyangnya sejak zaman berzaman. Padahal, para pelajar itu merupakan lapisan masyarakat yang sangat penting untuk diberikan perhatian dalam hal pengembangan seni dan budaya, merekalah penerus estafet itu ke depannya.

Jika kepada para pelajar diberikan pemahaman tentang seni dan budaya, maka kelak mereka tumbuh sebagai pewaris negeri yang memiliki kesadaran kebudayaan yang kuat. Kami percaya, sebuah negeri yang menyimpan pewaris tanah yang tahu nilai, yang tahu adat resam serta tahu dengan segala bentuk kebudayaan yang mengasuhnya, maka negeri itu tidak akan pernah hilang kekuatan. Inilah keyakinan dasarnya, dan inilah alasan kenapa helat ini diberi tajuk Helat Seni Menjunjung Negeri, jelas Suhaimi panjang lebar.

Di samping itu, kata Suhaimi Helat Seni digagas dan dibuat juga pada hakikatnya merupakan sebuah ikhtiar untuk membentangkan seni dan kebudayaan sebagai laman bermain bagi segenap siswa. Di laman tersebut, seluruh anak didik diajak untuk menemukan nilai-nilai seni dan kebudayaan dari semua percabangan seni yang dilombakan atau dimainkan. Tentu saja helat ini terlaksana berkat perhatian pemerintah daerah. Dan memang, pencapaian kegemilangan seni budaya menjadi matlamat pembangunan kebudayaan sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten Bengkalis, ujarnya.

Dewasa ini, pemahaman akan kebudayaan begitu penting. Apalagi bila dipandang serbuan budaya asing yang tidak sesuai dengan fitrah kemelayuan demikian gencar disuguhkan oleh berbagai media baik cetak, televisi maupun teknologi internet. Hal itu juga diakui, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Budparpora) Kabupaten Bengkalis, Drs H Eduar. Katanya, jika tidak diimbangi dengan memberikan pemahaman akan seni budaya Melayu, maka dikhawatirkan para generasi muda hari ini lambat laun akan tercerabut dari akarnya. Karena itulah kami berpandangan bahwa kegiatan-kegiatan yang bersifat memberikan kontribusi pada pemahaman seni, budaya dan terdisi Melayu seperti Helat Seni ini patut diberikan perhatian, jelas Eduar.

Seni dan budaya suatu hal yang amat penting untuk dipelajari  karena dalam prosesnya seni budaya bergerak pada pengolahan akal dan budi, memperhalus budi pekerti, bergerak pada aspek penumbuhan kesadaran spritual dan mengajak manusia untuk hidup dengan kemuliaan. Oleh karena itu, kata Eduar menanamkan nilai-nilai seni dan budaya terutama dimulai dari kalangan pelajar harus menjadi agenda penting. Apalagi  di Bengkalis ini, kita ketahui memang sudah sejak zaman berzaman keberadaan seni, budaya dan adat istiadat bagaikan degup jantung dari sebuah tubuh atau sebuah instrumen yang ikut menentukan seperti apa wajah tanah ini sejak masa lampau hinggalah ke masa depan, katanya lagi.

Seorang sastrawan dan sejarawan Riau yang berasal dari Desa Bantan-Kabupaten Bengkalis, Syaukani al Karim menilai kegiatan Helat Seni ini merupakan agenda yang sangat penting. Jika diibaratkan kota Bengkalis sebagai seorang perempuan, Helat Seni adalah sebuah langkah dalam upaya merias negeri Bengkalis agar tetap tampak molek dan menawan. Helat seni juga merupakan salah satu pekerjaan dalam upaya membangun peradaban seni budaya di Bengkalis dinilai agung dan ranggi dengan meletakkan seni budaya itu sendiri sebagai mahkota.

Katanya, seseorang tidak bisa lari dari kebudayaan yang mengasuhnya. Seni budaya bagaikan seorang ibu yang melahirkan, mengasuh dan membesarkan seorang anak. Asuhan seorang ibu itulah yang akan selalu menjadi tanda dan identitas, menjadi kekuatan yang mengukuhkan keberadaan diri seorang manusia. seseorang yang mencoba lari dari kebudayaannya bagaikan seorang anak yang mendurhaka kepada ibunya, menjadi seorang anak yang akan kehilangan alamat sejati, kehilangan tempat untuk kembali, kata Syaukani tegas.

Apalagi hari ini, pada zaman teknologi dan informasi, tidak dapat dipungkiri bahwa seni budaya suatu daerah perlahan-lahan terkikis dan akan digantikan dengan budaya luar yang bertolak belakang dengan nilai-nilai luhur kebudayaan setempat. Untuk menangkis kenyaat itulah, kita tidak hanya meratap dan bertopang dagu saja. Diperlukan aksi dan segenap pikiran untuk membendung atau paling tidak menyaring seni budaya asing yang masuk. Salah satu alternatifnya dengan memperkenalkan seni budaya Melayu kepada generasi muda sehingga pemahaman nilai-nilai kebudayaan itu dapat menjadi bekal bagi mereka, jelas Syaukani.

Sementara itu, salah seorang dewan juri, M Nurahim Suprapto yang juga berprofesi sebagai guru di SMA N 03 Bengkalis mengatakan Helat Seni ini terutama dapat menimbulkan gairah dan semangat siswa terhadap seni budaya. Kata Anto, sapaan akrabnya itu, siswa-siswa yang pernah mengikuti dan terlibat dalam acara helat seni, mereka membuat perlomban seni budaya sendiri di sekolah mereka. Lomba teater, lomba baca dan menulis puisi dan lain-lain.

Artinya saya melihat anak-anak termotifasi dan memiliki gairah terhadap seni budaya yang tentu saja itu merupakan efek dari Helat Seni, ujar Anto yang juga merupakan teaterawan Riau tersebut.

Senada dengan itu, dewan juri lainnya, Musa Ismail mengatakan kegiatan Helat Seni patut mendapat apresiasi dari masyarakat. Kegiatan ini memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan seni budaya di Kabupaten Bengkalis. Kita patut bersyukur bahwa kegiatan yang bernilai luhur ini tetap terlaksana secara rutin tiap tahunnya, kata Musa yang juga merupakan sastrawan yang sudah banyak menghasilkan buku ini.

Musa yang kesehariannya juga berprofesi sebagai guru di SMA N 03 Bengkalis menambahkan Helat Seni sekaligus menjadi wadah ekspresi dan kreatifitas generasi muda di bidang seni budaya. Karena itu tentu saja kegiatan positif ini berdampak positif  pula bagi pengembangan minat dan bakat siswa. Hanya saja yang perlu menjadi catatan penting adalah terkait dengan pembinaan seni budaya. Ini yang saya lihat belum sesuai harapan. Boleh dikatakan, kran pembinaan itu tersumbat. Gairah seni budaya terutama di kalangan generasi muda muncul hanya ketika ada sayembara seperti helat seni. Pembinaan secara rutin dan bertahap tidak tampak selama ini, kata Musa.

Padahal menurutnya, seni budaya bukanlah suatu hal yang dapat dipelajari secara instan tetapi prosesnya itulah yang menentukan. Seseorang bisa saja dengan mudah dan dalam waktu yang relatif singkat pandai berteater, menari, menulis puisi tetapi untuk memperoleh nilai-nilai yang terkandung dalam seni budaya itu harus ditempuh atau bermain pada kedalaman lubuk kesenian dan kebudayaan itu sendiri. Itulah proses. Sehingga kecintaan generasi muda kepada seni budaya mereka memiliki landasan yang kuat, tidak sekedar bersenang-senang saja, tidak hanya memperbutkan juara. Tetapi nilai-nilai, amanah-amanah dalam seni budaya itu yang patut mereka perdalamkan, tutup Musa.

Hasilkan Alumni Potensial
Helat yang berlangsung kontinu selama delapan tahun ini ternyata telah melahirkan pula alumni-alumni yang potensial. Beberapa dari siswa yang pernah ikut dan terlibat secara kontinu dalam perlombaan yang ditaja, mereka melanjutkan pemahamannya dalam ilmu seni budaya ketika menamatkan palajaran di bangku sekolah. Tak jarang pula, dari perhelatan seni budaya itu kemudian banyak siswa yang tertarik untuk lebih mendalami keterampilannya masing-masing di kemudian hari.

Hal itu juga menjadi catatan penting bagi Hang Kafrawi, Salah seorang dewan juri atau dewan pengamat dari Pekanbaru yang memang diundang sejak Helat Seni yang pertama. Kata Kafrawi, sadar atau tidak, Helat Seni telah melahirkan alumni-alumni yang potensial hari ini. Bagi mereka yang mengikuti kegiatan helat seni ketika masih duduk di bangku sekolah, paling tidak siswa itu berkesempatan mengikuti lebih kurang tiga kalilah dalam tiga tahun. Dan hari ini menurut Kafrawi, banyak diantara mereka itu kemudian berminat untuk melanjutkan studi mereka ke sekolah seni.

Saya yakin, minat dan bakat mereka mulai terbit karena pernah mengikuti atau menjadi peserta di Helat Seni. Artinya apa, efek Helat Seni itu beriak hingga hari ini terutama bagi siswa-siswa asal Kabupaten Bengkalis, kata Kafrawi.

Sebagai orang yang mengikuti dari awal, Kafrawi mencatat beberapa orang diataranya yang pada hari ini memiliki potensi untuk mengembangkan bakat dan minatnya dalam bidang seni budaya ke depan. Dicontohkannya, salah seorang siswa asal SMA N 1 Bukit Batu, Ridho Fatwandi. Musisi muda Riau berbakat ini, sekarang tercatat sebagai mahasiswa di Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) di jurusan musik. Begitu juga dengan Adi Atong, dari alumni sekolah yang sama, saat ini beliau dikenal sebagai musisi energik dalam bidang musik perkusi. Ricky Pranata, siswa lulusan dari SMA Negeri 2 Bengkalis yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa jurusan teater di STSR.

Ada seorang lagi yang saya ingat, alumni SMA N 03 Bengkalis. Susi Susanti, warga Tionghua. Meskipun beliau tidak melanjutkan di perguruan tinggi seni, tapi di adalah produk Helat Seni yang saat ini tercatat sebagai sastrawan perempuan Riau, jelas Kafrawi.

Sementara itu, Ridho dan Adi Atong ketika dikomfirmasi mengakui Helat Seni adalah merupakan pemantik awal mereka terhadap seni budaya. Kata Ridho bagaimana tidak, dulu setiap setahun sekali di sekolah, mereka diminta oleh guru pembimbing seni budaya untuk berlatih dalam mempersiapkan karya guna mengikuti acara Helat Seni. Saya masih ingat, bukan main semangat kami latihan. Jauh-jauh hari kami dah buat ancang-ancang seperti apa karya yang akan diikutkan dalam pertandingan. Kalau sudah dekat waktunya, kadang jam palajaran lain pun kami izin untuk latihan, kata Ridho tersenyum.

Tapi kemudian, Ridho maupun Adi mengatakan. Dari Helat Seni juga, mereka berkenalan dengan seniman-seniman Riau yang kebetulan menjadi juri. Dari mereka (seniman Riau red) jugalah didapat informasi tentang keberadaan Sekolah Tinggi Seni Riau. Setelah tahu Riau punya Sekolah Tinggi Seni, sejak itulah muncul niat akan melanjutkan sekolah di jurusan seni setamat dari sekolah, kata Adi pula.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us