Melawan Mekanisme Pasar

12 Januari 2014 - 09.53 WIB > Dibaca 916 kali | Komentar
 
Melawan Mekanisme Pasar
Bicara tentang globalisme, yang muncul dalam ingatan kita secara otomatis mencuatkan isu-isu yang menyangkut neoliberalisme ekonomi, deregulasi, swastanisasi, marketisasi, dan beberapa hal lainnya yang  oleh banyak pihak disebut sebagai ekonomi global atau kapitalisme global. Persoalan ini menjadi peka ketika negara-negara dunia ketiga, negara-negara berkembang yang tersebar di Asia, Afrika dan Amerika Latin, dipaksa untuk mengubah sistem ekonomi tradisionalnya (lokal)  jika tak ingin tertinggal. Globalisme menjadi simbol kekuasaan dan kemenangan mekanisme pasar yang sebenarnya sering tidak cocok dengan kondisi ekonomi sebuah negara, terutama negara dunia ketiga. Indonesia salah satunya.

Maka, persoalan kenaikan gas elpiji yang dilakukan Pertamina yang kemudian mengundang kontroversi –sebelum Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan “perintah” untuk menurunkannya kembali— adalah salah satu bentuk bagaimana negara ini secara membabi-buta mengikuti globalisme ekonomi tanpa saringan apapun. Menyerahkan bulat-bulat komponen-komponen ekonomi yang bersentuhan langsung hajat hidup rakyat ke pasar bebas –sebagai filosofi utama neoliberalisme—  sama saja menyerahkan leher untuk disembelih.
Para ekonom yang duduk di pemerintahan, yang menjadi dasar semua kebijakan ekonomi kita —terlalu percaya bahwa globalisasi ekonomi atau kemudian menjadi lebih jauh lagi sebagai neoliberlisme— adalah solusi satu-satunya meningkatkan perekonomian kita. Bahwa benar, jika itu terus dilakukan, mungkin ekonomi negara ini akan baik, pertumbuhan ekonomi secara general akan meningkat, dan kita akan menjadi negara yang disegani di kawasan Asia Tenggara atau Asia, atau bahkan dunia. Tetapi kita lupa, bahwa dengan itu semua, pasar bebas akan melumpuhkan pelan-pelan ekonomi tradisional, yang dalam krisis ekonomi 1997 terbukti kebal.

Mereka, para ekonom yang duduk di pemerintahan pembuat regulasi itu telah lupa, bahwa konsitusi kita sudah jelas-jelas menyebutkan bahwa rakyat harus dilindungi dan didulukan. Pasal 33 UUD 1945 dengan jelas dan tegas menyebutkan itu.

Lalu, dengan menyerahkan sepenuhnya sistem ekonomi kepada mekanisme pasar, apakah itu adalah terjemahan bebas dari apa yang tertulis di konstitusi itu? Yang terjadi justru bukan perlindungan dan usaha peningkatan terhadap ekonomi rakyat, tetapi adalah kepatuhan yang berlebihan terhadap liberalisme baru yang diusung World Trade Organization (WTO), International Monetary Found (IMF), Bank Dunia, dan organisasi ekonomi global lainnya yang memang memikili kekuasaan dan kekuatan untuk menekan ekonomi sebuah negara. Kepatuhan yang berlebihan inilah yang membuat harga minyak dan gas –sekadar menyebut contoh—  diserahkan sepenuhnya berdasarkan harga yang berlaku di pasar global. Yang terjadi, kita tak bisa membuat patokan harga sendiri, dan selalu beralasan negara dirugikan karena harus memberi subsidi yang amat besar.

Perlawanan terhadap globalisme bukan tak dilakukan. Di Amerika Serikat (AS) sendiri, negara yang disebut sebagai “mbahnya” liberalisme, neoliberalisme, globalisme dan segala hal yang menyangkut tentang kebebasan itu, tidak semua masyarakatnya menerima. Bahkan, muncul istilah “globalisasi anti-globalisme” yang didengungkan para aktivis di banyak negara, yang pusatnya juga di AS. Para penentang globalisme ini berpendapat, dengan kapital yang bisa membeli segalanya, terjadi kesenjangan yang amat njomplang antara negara-negara maju/industri dengan negara-negara dunia ketiga (berkembang). Yang muncul kemudian, perlawanan-perlawanan menentang neoliberalisme dan ekonomi global itu dipandang untuk membangunkan  kembali prespektif Marxisme, yang memang menjadi antitesis dari liberalisme klasik yang berkembang sebelumnya. Yang terjadi, penolakan terhadap neoliberalisme dan globalisme itu pelan tapi pasti menjadi perang ideologi, karena politik mau tak mau masuk di dalamnya.

Tajamnya kesenjangan antara si kaya dan si miskin amat jelas terjadi di keanggotaan WTO  —tahun 2013 lalu Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan WTO di Bali. Praktis, negara-negara kecil dan berkembang dalam organisasi itu tak punya kekuatan untuk berpendapat dan mempertahankan dirinya dari  negara-negara besar seperti AS, Rusia, Jepang,  Inggris, Prancis dan negara-negara lainnya yang kuat secara ekonomi dan politis. Yang terjadi, organisasi yang idealismenya dibangun untuk menyatukan gagasan-gagasan ekonomi yang seimbang antara negara kaya, berkembang, dan miskin itu,  malah menjadi adu kekuatan yang malah menjerumuskan negara berkembang dan miskin ke jurang yan semakin dalam.

Maka, apa yang dilakukan mendiang Presiden Venezuela, Hugo Chavez, yang dengan tegas menentang segala kekuatan ekonomi AS di negaranya, adalah sebuah keberanian yang luar biasa dari seorang pemimpin sebuah negara kaya sumber daya alam, tetapi tetap dipadang kecil oleh Barat. Hal yang sama juga dilakukan Iran yang tak mau tunduk dengan tekanan globalisme itu, dan terus membentengi dirinya dengan kekuatan ekonomi lokal yang terbukti kuat hingga kini. Ini di luar apa yang dilakukan negara-negara komunis dan sosialis seperti Cina, Korea Utara, Kuba dan yang lainnya, yang memang secara ideologi dari awal sudah berseberangan dengan arus liberalisme-globalisme Barat ini.

Yang menjadi pertanyaan adalah: beranikah kita, Indonesia -- bangsa yang besar ini-- sedikit menjelaskan identitas bangsanya tanpa harus terlalu tunduk dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada tekanan pasar. Tak ada salahnya mencoba melindungi rakyatnya, yang memang secara mental maupun infrastruktur belum siap berada di pasar bebas. Apa yang dilakukan Soekarno yang terang-terangan menolak liberalisme-neoliberalisme global terbukti membuat kita menjadi bangsa yang disegani di era itu. Tak ada salahnya melindungi rakyatnya tanpa rasa takut terhadap kekuatan lain yang menggurita dan mencoba mengambil-alih kekuasaan sebagai sebuah bangsa negara yang akan diganti dengan idelogi global yang menyumirkan batas-batas negara dan identitas sebuah bangsa. ***


Hary B Kori’un
Wakil Pemimpin Redaksi
@harybkoriun
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 14:30 wib

Desember, Awal Pemeriksaan JCH

Kamis, 15 November 2018 - 14:13 wib

Pembangunan Berbasis Pengurangan Risiko Bencana

Kamis, 15 November 2018 - 14:00 wib

Ganti Bola LHE Terkesan Proyek

Kamis, 15 November 2018 - 13:49 wib

Greysia/Apriyani Lolos ke 16 Besar

Kamis, 15 November 2018 - 13:45 wib

Maksimalkan Pelayanan Kesehatan untuk Vaksinasi MR

Kamis, 15 November 2018 - 13:15 wib

Azis: Pakai Uang Rakyat, OPD Harus Tanggung Jawab

Kamis, 15 November 2018 - 12:23 wib

Tropicana Slim Ajak Ikuti Senam Sehat di CFD

Kamis, 15 November 2018 - 12:00 wib

Kirim 12 Atlet Ikuti Kejurnas Ski Air

Follow Us