Satu Abad Rel Kereta Api

27 Februari 2013 - 09.44 WIB > Dibaca 5263 kali | Komentar
 

Kalau melihat peta Kolonial Belanda tempo dulu, infrastruktur di Riau dan daerah lainnya di Indonesia ternyata sampai saat ini tidak banyak mengalami perkembangan.  

Peta kereta api di Sumatera milik Belanda menggambarkan adanya jaringan rel kereta api yang mengaitkan antara Aceh-Sumatera Utara-Riau-Sumbar-Sumatera Selatan-Bengkulu dan Lampung.

Itu bukan hanya peta di atas kertas —seperti program kita saat ini—, tetapi sudah dibuktikan Pemerintah Kolonial Belanda, melalui pembangunan jaringan rel kereta api Aceh-Lampung, walau ada beberapa daerah terkendala karena serangan Jepang.

Kita saksikan pembangunan jaringan rel kereta api Muaro (Sumbar)-Pekanbaru (Riau) yang memakan ribuan korban jiwa, sudah terbangun —walau pada akhirnya rusak, disebabkan pembangunan rel kereta api yang diteruskan Jepang setengah hati, miskin modal yang memaksa romusa bekerja siang malam sampai meninggal.

Jaringan rel kereta api Muaro-Pekanbaru ini sejatinya untuk menghubungkan Pantai Timur (Pekanbaru, wilayah Selat Melaka) dengan Pantai Barat (Padang, Samudera India).

Ini pemikiran dan proyek yang memakan dana tidak sedikit, jika terhubung, maka biaya transportasi (menggunakan kereta api) menjangkau dua wilayah ini sangat murah.

Bahkan bisa menghubungkan Riau dengan wilayah Sumatera Utara (Dumai-Rantauprapat, berlanjut ke Medan dan Aceh).

Jaringan rel kereta api yang direalisasikan Belanda sejak 12 Agustus 1876 lalu, yakni jaringan kereta api Aceh yang menghubungkan Pangkalan Berandan-Medan-Belawan dan wilayah sekitar Sumatera Utara. Tapi sayang, jaringan ke Aceh sekarang tidak digunakan lagi —Habis dirusak, padahal jika ini benar-benar dimanfaatkan, tentu akan mengurangi biaya transportasi yang mengangkut kekayaan hasil bumi wilayah ini—.

Jaringan kereta api yang masih aktif, yakni Medan-Belawan-Tebingtinggi-Siantar-Kisaran-Rantauperapat. Sumatera Utara lah yang mendapat keuntungannya, mereka tetap mempertahankan jaringan kereta api itu untuk mengangkut karet, kakau, CPO dari wilayah Rantauprapat, Kisaran, Tebingtinggi, Siantar ke Pelabuhan Belawan. Keuntungannya, jalan mereka (Sumut) tidak dirusak mobil yang mengangkut CPO (yang muatannya 40 ton lebih) yang melintasi jalan mereka.

Itu satu abad yang lalu. Bagaimana sekarang? Nampaknya, bentangan rel yang menahan jalannya kereta api itu agaknya masih sisa-sisa kolonial, sebab gedung stasiun pun masih bangunan lama (peninggalan kolonial), tapi masih bermanfaat sampai sekarang dan nilainya cukup besar bagi pembangunan di Sumatera Utara.

Melihat peta jaringan kereta api yang dibangun Kolonial Belanda —menghubungkan Aceh-Lampung—, agaknya kita kecewa dengan kinerja kita sendiri. Mengapa setelah satu abad lebih, jaringan itu tidak bisa kita realisasikan, malah sebagian kita rusak, bahkan yang rusak tidak bisa kita ganti. Tentunya ada yang salah dalam mengurus negeri ini.

Mengapa setelah satu abad lebih, kita belum bisa juga bangkit membangun infrastruktur itu. Bukankah Riau memiliki anggaran cukup terbilang di negera ini.

Untuk itu, sudah saatnya kita dukung program-program besar, pembangunan jalan tol, jaringan rel kereta api, pelabuhan, jembatan dan infrastruktur lainnya.

Jangan ragu menggunakan APBD kabupaten/ kota dan provinsi untuk pembangunan infrastruktur skala besar ini, dan jangan perbanyak sisa anggaran (Silpa) —Hal ini tercermin dari laporan Silpa sebuah kabupaten cukup banyak, sementara jalan di kabupaten banyak rusak parah, ironi.

Bila perlu minta tambahan ke pusat (APBN) untuk pembangunan mega proyek tersebut, bukankah kita penyumbang devisa terbanyak bagi negara ini.

Jika kita tidak memiliki jalan tol, jaringan kereta api dan infrstruktur transportasi lainnya, maka tetaplah jalan yang baru diaspal itu akan berlubang dan bergelombang, sebab yang melintasi bukan hanya sepeda ontel, tapi truk tronton yang beratnya 50 ton lebih.

Seharusnya produk CPO, karet dan hasil perkebunan lainnya itu diangkut menggunakan kereta api seperti di Sumut, realitasnya truk itu bersaing dengan sepeda ontel dan pejalan kaki yang nyaris terlindas.

Agaknya kita harus belajar dari Eropa yang tetap mempertahankan jaringan rel kereta api yang mereka bangun sejak satu abad lalu —seperti direncanakan Belanda untuk negeri ini—, sehingga jalan-jalan di Eropa tidak banyak rusak.***   
KOMENTAR
Terbaru
Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer
Dua Kecamatan  Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 WIB

Lutut Istri  Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 WIB

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 WIB

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 WIB

Follow Us