Mencicili OPD

Minggu, 01 Jan 2017 - 11:05 WIB > Dibaca 2808 kali | Komentar

Gelombang pelantikan pejabat daerah terjadi lagi. Hari Jumat lalu, Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman, resmi melantik 43 pejabat tinggi pratama di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau, sejalan dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) baru untuk tahun 2017. Sehingga terdapat sembilan OPD, kini belum memiliki pucuk pimpinan tertinggi.

“Masih mencicil ya?” tulis kawan saya Abdul Wawah melalui pesan pendek telepon genggam. Seiringan dengan pertanyaan itu, ia juga bertanya, mengapa hal tersebut masih terjadi? Keterangan Gubernur Andi terhadap kenyataan tersebut sebagaimana dilansir olwh media, agak sulit ia pahami.

Sebaliknya, Wahab mengaku, tidak sekali dua dia memperoleh informasi pencicilan penetapan pejabat, tidak saja tingkat provinsi, tetapi juga kabupaten dan kota. Oleh karena itulah, ia kemudian mengambil kesimpulan yang standar bahwa untuk mengisi suatu jabatan, bukanlah suatu hal yang mudah. Banyak pertimbangan, banyak sanding dan bandingnya.

Tentulah iya. Pasalnya, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa keberhasilan suatu aktivitas, masih amat kuat tergantung pada siapa di belakang pengelola aktivitas itu sendiri. Mana pula ada istllah, mencari pemimpin itu mudah—pastilah tidak mudah. Meski didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, bobot seorang pemimpin berganda-ganda.

Tidak mengherankan, kalau dalam bukunya yang bertajuk Tunjuk Ajar Melayu, Tenas Effendi menempatkan ihwal pemimpin berada pada urutan ketiga yakni setelah katakwaan kepada Allah SWT dan ketaatan kepada orangtua. Dengan posisi inilah, sejauh tidak melanggar ketentuan Allah, pemimpin dalam Melayu pantang dilawan, durhaka jatuhnya.

Barangkali, tulis Wahab, sembilan pimpinan OPD termasuk yang susah dicari sekarang ini. “Itu bukan berarti, pimpinan OPD yang dilantik, digolongkan sebagai yang mudah diperoleh, apalagi untuk mengatakan bahwa “persediaannya” berjelepak,” tulis Wahab.

Ia menambahkan, nyatanya pula sejumlah pimpinan OPD yang dilantik itu adalah pimpinan SKPD yang selalu memiliki raport merah, bahkan di antaranya ada yang dapat menempati kursi serupa. Kalau demikian halnya, penonjoban sebanyak 11 kepala SKPD hasil pengujian kemampuan (asesment), belum tentu disebabkan ketidakmampuan mereka, tetapi lebih disebabkan oleh hal-hal lain. Lalu, muncul pula satu pertanyaan lagi, hal-hal lain apakah itu?

Kalau kesulitan mencari pejabat pada sembilan OPD merupakan suatu kenyataan, maka perlu pula dipertanyakan sejauh mana hubungan suatu struktur dengan pembinaan pengembangan sumber daya manusia aparatur sipil negara (ASN). Apalagi OTD yang masih kosong itu, juga sesuatu yang sangat dekat dengan masyarakat. Tersebutlah misalnya, Dinas Pendapatan Daerah, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Perhubungan, Dinas Bina Marga, Biro Kesra, Biro Umum, dan Biro Hukum.

Malahan, yang selalu dilaungkan amat penting dalam mencapai visi Riau 2020 yakni menjadi pusat kebudayaan Melayu, sehingga dibentuknya Dinas Kebudayaan, belum memperoleh pucuk pimpinan. “Katanya penting, tetapi kenapa pimpinannya belum juga dilantik,” tulis Wahab.

Gubernur Riau menjelaskan, untuk sembilan OPD baru yang belum diisi oleh pejabat tinggi pratama, akan ditunjuk seorang Pelaksana Tugas (Plt). Adapun Plt tersebut tidak perlu dilantik dan cukup diberikan SK.

“Tapi begitu susah jugakah mencari Plt, sehingga penunjukannya tidak dapat dilakukan serentak dengan pelantikan atau pengukukuhan kepala OPD sekarang?” tanya Wahab sambil mengabaikan pertanyaan tentang apa  penyebab petinggi OPD-OPD tersebut  di-plt-kan, tidak langsung didefinitif.

Dari sembiln OPD itu, bukankah hanya Dinas Kebudayaan yang benar-benar baru, sedangkan OPD lainnya merupakan struktur lama minimal memiliki kaitan langsung dengan struktur lama. “Tapi kan ada juga OPD baru yang langsung memiliki pimpinan definitif antara lain Diklat?” tanya Wahab.

Pada gilirannya, Wahab kemudian menyudahi SMS-nya mengenai hal ini, karena begitu banyak pertanyaan yang mucul dari satu pertanyaan ke pertanyaan lainnya.  “Akhirnya bertanya dan bertanya terus, mempertanyakan dan mempertanyakan, sehingga menyemai kecurigaan di mana-mana. Sudahlah ya....”***


KOMENTAR

Follow Us