Selalu Ada yang Baru di Tianjin

Jumat, 06 Jan 2017 - 11:16 WIB > Dibaca 2476 kali | Komentar

SELALU ada yang baru di rumah sakit ini. Sudah 10 tahun saya selalu kembali ke Tianjin First Center Hospital (TFCH) di bagian utara RRT ini. Sejak saya menjalani transplantasi hati pada tahun 2006 lalu.

Kemarin pagi (5/1), saya kembali menjalani serangkaian pemeriksaan di sana. Yang saya lakukan tiap enam bulan sekali dengan sangat disiplin. Kedisiplinan itulah yang ingin saya jaga. Agar bisa tetap hidup sehat. Termasuk agar bisa menjalani, hehehe, sidang pengadilan.

Sebelum jam 5 pagi darah saya sudah diambil. Banyak sekali: 23 tabung. Dari tang­an kanan hanya bisa diambil 9 tabung. Darah tidak mau keluar

lagi. Pindah tangan kiri. Juga hanya keluar 10 tabung. Pindah tangan kanan lagi, kali ini di dekat pergelangan, 4 tabung. Air seni dan kotoran juga harus ditampung untuk ikut diperiksa.

Pengambilan darah itu memang harus pagi-pagi. Harus sebelum jam 5, saat saya harus minum obat wajib: penekan imunitas. Agar darah yang diperiksa belum tercampur obat. Dengan risiko tertentu saya harus minum obat penekan imunitas itu. Setiap hari. Sudah 10 tahun. Agar hati yang ditransplankan ke badan saya itu tidak ditolak sistem tubuh saya.

Maka secara teoritis saya ini mudah terkena penyakit. Akibat imunitas yang terus ditekan. Itulah sebabnya, checkup rutin itu harus disiplin. Agar kalau muncul penyakit baru segera bisa diketahui. Misalnya kalau kanker yang dulu mengancam hidup saya itu muncul lagi. Harus sedini mungkin ditangani. Itulah sebabnya mengapa pemeriksaannya memerlukan darah sampai 23 tabung.

Siangnya saya menjalani tiga macam test scan yang berbeda. Dilanjutkan hari ini untuk di-scan bagian tubuh yang lain lagi. Besok masih ada proses berikutnya dan berikutnya lagi. Dari ruangan saya di lantai 10 rumah sakit ini, saat ini saya bisa melihat sungai depan itu airnya sudah beku. Subuh itu udara Tianjin memang sudah minus 5 derajat. Tiga hari lagi akan turun salju. Saat itu nanti saya akan bisa melihat orang-orang yang menyeberang sungai dengan jalan kaki di atas air yang sudah keras membeku.

Saya juga akan bisa melihat orang-orang yang duduk di kursi di atas air beku itu untuk memancing. Mereka membuat lubang di permukaan air beku itu untuk menjulurkan tali pancingnya ke dalam air.

Saat menjalani test scan, saya lihat ada yang baru lagi di rumah sakit ini. Di lobi depan area scan/MRI, banyak mesin seperti ATM. Itulah mesin untuk mencetak hasil scan/MRI. Yang mencetak adalah pasiennya sendiri. Atau keluarganya.

Ini menarik. Orang periksa apa saja bisa langsung mencetak sendiri hasilnya. Termasuk mencetak film hasil MRI. Caranya mudah. Pasien mendapatkan barcode saat menjalani scan dan barcode itulah yang dimasukkan dalam area sensor di ”mesin ATM” itu. Kini pasien juga tidak berdesakan lagi. Antrean scan atau USG sudah lewat layar monitor. Pasien tinggal melihat di layar TV kapan gilirannya tiba.

Yang terbaru lagi ternyata ini: APPS. Rumah sakit ini punya APPS sendiri. Dengan APPS pasien bisa mengakses jasa apa saja lewat handphone mereka. Pasien yang menginap seperti saya juga punya kode akses sendiri. Untuk membuka lift, pintu lobi, pintu blok, dan pintu kamar. Saya lihat keteraturannya juga lebih baik. Dan ini dia: pakaian seragam petugas liftnya seperti pramugari pesawat dari Timur Tengah.

Saya tidak akan lama di Tianjin. Kali ini saya hanya akan menjalani pemeriksaan kesehatan yang penting-penting saja. Agar pekan depan sudah bisa menjalani persidangan pengadilan di Surabaya sesuai yang dijadwalkan.

Kebetulan cuaca Tianjin juga kurang enak. Sangat dingin dan berkabut. Begitu berkabutnya sampai saya naik kereta cepat selama lima jam dari Shanghai. Takut pesawat tidak bisa mendarat di Tianjin. Kebetulan pesawat Garuda dari Jakarta ke Shanghai memang telat. Tidak tanggung-tanggung: empat jam.

Tentu saya bertanya baik-baik ke awak Garuda. Mengapa telat begitu parah? Ternyata Garuda tidak dapat izin melintas di atas Singapura pada jam yang diminta. Ini karena waktu yang dialokasikan Singapura untuk Garuda sudah lewat. Garuda tidak menggunakannya tepat waktu. Akhirnya digeser empat jam kemudian.

Mengapa Garuda tidak tepat waktu menggunakan jatah lewat udara Singapura? Ini karena Garuda tidak bisa berangkat tepat waktu. Mengapa? Karena harus ada penggantian ban. Rupanya baru diketahui ada ban yang harus diganti.

Mengapa ketahuannya baru saat itu? Saya tentu tidak lagi mengejar awak Garuda dengan pertanyaan seperti itu. Saya hanya penumpang biasa. Saya justru harus ingat kebijakan saya dulu. Saat saya masih menteri dan saat itu banyak pesawat telat terbang. Saya pun menegaskan: agar pesawat yang tidak bisa berangkat tepat waktu jangan menggeser jadwal terbang pesawat berikutnya. Agar tidak terjadi telat yang beruntun. Pesawat yang telat terbang harus dicarikan waktu kosong yang tersedia. Ternyata Singapura melakukan hal yang sama. Korbannya Garuda.***

KOMENTAR
BERITA TERBARU
Kupas Tuntas Hubungan Industrial

Kupas Tuntas Hubungan Industrial

25 Februari 2018 - 16:01 WIB
Pacu Jalur Iven Nasional Dihelat Usai Idul Adha

Pacu Jalur Iven Nasional Dihelat Usai Idul Adha

25 Februari 2018 - 15:30 WIB
‘‘Sirawa’’ Undang KPLMR

‘‘Sirawa’’ Undang KPLMR

25 Februari 2018 - 15:23 WIB
Sakit, Diragukan Tampil di  Le Classique

Sakit, Diragukan Tampil di Le Classique

25 Februari 2018 - 14:53 WIB

Puskesmas dan RS Harus Ramah Anak

25 Februari 2018 - 14:51 WIB
Taman Alam Mayang Sejuk dan Asri

Taman Alam Mayang Sejuk dan Asri

25 Februari 2018 - 14:00 WIB
Perlunya Bimbingan Menjaga Ketahanan Keluarga

Perlunya Bimbingan Menjaga Ketahanan Keluarga

25 Februari 2018 - 13:52 WIB
Juni, Cak Imin Putuskan Maju Cawapres

Juni, Cak Imin Putuskan Maju Cawapres

25 Februari 2018 - 13:48 WIB
BERITA POPULER
Taman Alam Mayang Sejuk dan Asri

Taman Alam Mayang Sejuk dan Asri

25 Feb 2018 - 14:00 WIB | 1013 Klik
PTPN V dan Bank Riau Kepri Pesta Gol

PTPN V dan Bank Riau Kepri Pesta Gol

25 Feb 2018 - 11:05 WIB | 616 Klik
KPU Diputus Tidak Bersalah

KPU Diputus Tidak Bersalah

25 Feb 2018 - 11:42 WIB | 560 Klik
Dewasa tapi Tetap Galau? No More!

Dewasa tapi Tetap Galau? No More!

25 Feb 2018 - 11:07 WIB | 559 Klik
7 Polda Dikerahkan Cari Sabu 3 Ton

7 Polda Dikerahkan Cari Sabu 3 Ton

25 Feb 2018 - 11:52 WIB | 490 Klik

Follow Us