Maulid Nabi

19 Januari 2014 - 08.18 WIB > Dibaca 940 kali | Komentar
 
Maulid Nabi
Lelaki itu bertanya. “Mengapa maulid ini kita peringati berulang-ulang padahal kita sudah mengetahui kisahnya? Apa kita tidak buang energi?” ujarnya. Ustad menjawab. “Mengapa kita makan berulang-ulang padahal kita sudah mengetahui rasa kenyang?” Lelaki itu terdiam. Kita perlu contoh, lanjut ustad. Sedangkan ada contoh saja kita lalai mengikutinya. Yang kita ikuti justru yang tak layak jadi contoh. Sekelumit dialog itu saya dengar dalam sebuah acara maulid Nabi Muhammad SAW belum lama ini. Dalam paparannya sang ustad muda itu mengatakan bahwa keindahan Islam tertutupi oleh perangai atau prilaku negatif orang Islam itu sendiri.

Akhlak mulia adalah inti diutusnya sang Nabi. Di saat kita umat akhir zaman ini ditimpa kotoran batin bernama AIDS (angkuh, iri hati, dengki/dendam dan sombong), memperingati kelahiran seorang yang terbebas dari penyakit itu sungguh penting.  Nabi tidak pernah berubah kemuliaannya baik ketika ditimpa penderitaan maupun ketika di puncak kesuksesan. Nabi gemar menolong orang yang memerlukan. Bahkan rela meminjam demi membantu fakir miskin yang tak makan.

Di puncak kesuksesannya, nabi tetap tidur beralas tikar hingga membekas di punggungnya. Kerap dapurnya tidak berasap (karena tidak ada makanan yang akan dimasak) dan ia menerima dengan ikhlas dan melakukan puasa. Suka bergaul dan menghibur orang-orang tak punya. Di saat seorang Yahudi tua yang buta menghinakan pribadi mulia itu dengan sebutan gila dan tukang sihir (dua hinaan paling merendahkan di Arab) Nabi membalasnya dengan kasih sayang. Nabi dengan tangannya yang mulia menyuapkan makanan ke Yahudi buta itu tanpa si Yahudi tahu bahwa orang itu adalah orang yang selalu dihinanya setiap hari. Kelak Yahudi itu menangis di kuburan Nabi ketika ia tahu yang menyuapkannya dengan ikhlas itu telah wafat.

Nabi yang memiliki kemampuan panglima perang itu juga pernah diludahi Yahudi lain setiap kali melewati rumahnya ketika akan ke masjid, tidak terpancing emosinya. Hingga ketika si peludah yang menghinakan itu sakit, Nabi lah pertama yang membezuknya dan membawa makanan. Nabi juga menegur sahabatnya yang berdiri (tanda hormat) saat beliau datang ke sebuah majelis. Beliau tak ingin diistimewakan. Dia tak merasa lebih dari orang lain. Bahkan orang yang belajar padanya tidak dipanggilnya murid melainkan sahabat-sahbat. Tak salah bila penulis Eropa Michel Hurt meletakkan Nabi Muhammad SAW adalah tokoh nomor 1 dunia dari 100 tokoh dunia yang pernah ditelitinya.

Ada sebuah kejadian. Kala itu panas terik di sebuah jalan yang ramai di Jakarta. Seorang ibu dan lima orang anaknya (satu dalam gendongan) empat lagi dibimbingya tengah menunggu angkutan kota. Setiap ia melambaikan tangan angkotpun berhenti. Namun tak satupun angkot yang kemudian mau memberi tumpangan. Sampai ada sebuah angkot tua yang berhenti dan memberinya tumpangan.

Ternyata si ibu tak punya ongkos. Supir angkotnya tetap ikhlas memberi tumpangan. Ibu itupun sampai ke tujuannya dan mengucapkan terima kasih. Angkot kembali berjalan. Saat seorang penumpang lain turun ia membayar ongkos untuk dirinya dan untuk ibu bersama anaknya tadi meski sempat ditolak oleh supir angkot. Masing-masing ingin membantu sang ibu tadi.

Itulah akhlak mulia tanpa banyak kata. Bahkan ibadah tekun pun jika tidak melahirkan akhlak mulia maka ibadah itu tertolak. Dulu seorang tetangga yang  jahat kepada tetangganya divonis Rasul masuk neraka meski ia rajin ibadah.

Akhlak mulia adalah pesan utama dari maulid (kelahiran) Nabi.***


Helfizon Assyafei
Wakil Pemimpin Redaksi
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Rabu, 14 November 2018 - 14:30 wib

Daud Yordan Mau Istirahat Dulu

Follow Us