Seniman Balek Kampung 2013

Pertemuan Kreativitas

19 Januari 2014 - 08.19 WIB > Dibaca 685 kali | Komentar
 
Kampung adalah tanah kelahiran tempat di mana bersarangnya rindu, bertelur kenang, berpintal kisah dan kampung adalah bagian dari lembar kehidupan yang selalu mengajak seseorang untuk kembali.

Laporan FEDLI AZIS, Siak

KEMBALI mengutip pecah-pecahan kenang, bersepah-sepah kisah, rimbunan nostalgia yang selama ini barangkali saja terbenam oleh haruk pikuk kehidupan bandar. Kampung juga kemudian menyimpan energi besar yang kemudian apabila mampu mengolahnya akan menjadi dentuman gerak hidup. Lewat keserderhanaan alami yang tersergam, baragam cita rasa dan kemolekan alam dapat pula dijadikan sandaran untuk merebahkan segala kusut pikir dan letak badan. Ibaratkan emak, kampung adalah tempat berlabuhnya pelukan, cium, sujud dan restu sekembalinya dari perjalanan panjang bernama rantauan.

Seniman Balek Kampung nama acara yang ditaja Dewan Kesenian Siak (DKS). Acara yang dilaksanakan dipenghujung 2013 lalu itu mempertemukan kerinduan dan kreativitas pelaku-pelaku seni yang berasal dari Siak, seniman Siak yang ada di perantauan, pun menghadirkan seniman-seniman dari daerah lain seperti Kabupaten Kepulauan Meranti serta Kota Pekanbaru. Di sinilah pertemuan itu, tempat muara rindu dan kreativitas bertemu, kata ketua pelaksana, Tengku Indra.

Dua panggung didirikan. Tepat di tengah-tengah tanah lapang yang ada di Kelurahan Sungai Mempura itu ditegakkan panggung pertunjukan, tempat para seniman menunjukkan ekpresi dan menampilkan kebolehan-kebolehannya. Berjarak sekitar 10 meter di depannya, ditegakkan pula panggung untuk tamu undangan. Tanah lapang yang selama ini kata salah seorang tokoh masyarakat setempat, H Wan Said adalah ladang semak samun yang tegak setinggi berdiri. Dengan dilaksanakan acara seniman balek kampung ini, kata Wan, masyarakat kampung sangat berbangga hati dan berbahagia. Dari awal lagi ketika mendengar berita akan diadakan acara seni di kampung ini, kami paling senang mendengarnya. Bertambah majulah hendaknya kampung kami ni, kata Wan ketika ditanya bagaimana respon masyarakat.

Diceritakan Wan kampungnya dulu sangat sepi, kalau sudah malam macam tak ada lagi kehidupan. Bahkan kata Wan, banyak pula dulu orang diterkam harimau di daerah tempat diadakan acara seniman balek kampung tersebut. Hal itu diutarakan ketika ia memberikan kata sambutan pada acara pembukaan. Mendengar kata harimau, kontan saja beberapa penonton tercekat atau menangkup mulutnya dengan telapak tangan sebagai ungkapan ketakutan sekaligus membenarkan. Dengan adanya acara ini, terasa meriah betul kampung kami ni, kata Wan lagi.

Aneka persembahan ditampilkan di hadapan masyarakat Kelurahan Sungai Mempura yang lebih banyak memilih untuk berdiri atau mencangkung di tepian-tepian parit kecil pinggiran jalan. Ada juga yang duduk-duduk di atas kendaraan sembari tetap menyaksikan pertunjukan seni yang berlangsung. Riuh tepuk tangan terdengar pula di sela-sela pertunjukan yang menurut mereka bagus. Penonton yang hadir tidak saja dihidangkan dengan aneka ragam pertunjukan seni akan tetapi di belakang panggung tamu, telah disediakan makanan ringan ala kampung. Hidangan berupa ubi dan keledek (ubi rambat) rebus, kacang rebus, tertata rapi di atas meja dan siap untuk disantap.  Sebagai pelengkap suasana malam itu, kopi pun sudah tersedia di dalam dua buah cerek besar.

Silolah ecik-encik, tuan-tuan dan puan-puan menjamah hidangan yang dah tersedio. Ado ubi rebos, kacang rebos tambah pulak kopi. Kan sedap tu, sambil nonton pertunjukan seni, sambil mengemil. Teraso betul kampongnyo, yo dak? kata salah seorang MC, Andak mengajak penonton untuk mencicipi hidangan yang memang sengaja disediakan oleh panitia dalam acara tersebut.

Sebelumnya, acara dibuka dengan pertunjukan kelompok kompang, tetabuhan dan pukulan yang dimainkan di atas panggung tersebut menjadi penanda dimulainya acara sekaligus menyambut kedatangan tamu undangan dan para penonton. Berikutnya dilanjutkan dengan berbagai persembahan seni; tarian, musik, pembacaan puisi dan juga teater. Kesenian yang dipersembahkan beraneka ragam, mulai dari bentuk tradisi yang tetap dipertahankan semisal zapin tradisi juga beberapa tarian kreasi. Seperti pertunjukan sanggar Ghasak Siak. Mereka membawakan zapin kreasi yang berjudul Tautan Hati. Sementar a itu, grup tampilan dari Kabupaten Kepulauan Meranti membawakan zapin tradisi yang ditarikan budak-budak kecil. Tak ketinggalan menarik juga, persembahan dari Blacan Aromatic dari Pekanbaru, pembacaan puisi, Jefri al Malay dan lain-lainnya.

Konsepnya gabungan dari beberapa pertunjukan seni yang ada di Riaulah. Artinya, tidak hanya seniman Siak tetapi dari luar juga kami undang. Setidaknya selain pementasan, akan terjadi juga pertukaran komunikasi atas berbagai pertunjukan tersebut. kawan-kawan seniman dari kampung dapat menyaksikan pentas kawan-kawan dari luar, begitu juga sebaliknya, semoga di situlah terjadinya dialog kreativitas, ucap Tengku Indra yang juga ketua harian Dewan Kesenian Siak tersebut.

Dikatakan Indra, acara ini sebenarnya sudah terkonsep dengan baik sekali. tidak hanya pertunjukan, tetapi ada kegiatan lainnya yaitu kunjungan ke berbagai situs sejarah yang ada di Siak. Tetapi hal itu tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya untuk tahun ini. Katanya, berbagai kendala yang ditemui, baik dari segi kesiapan maupun para peserta yang rata-rata harus pulang secepatnya ke kecamatan dan kabupaten masing-masing.

Acara ini akan kami agendakan untuk setiap tahunnya. Dan untuk tahun depan konsep acara yang sudah dirancang jauh-jauh hari itu harus terwujud. Bila perlu kami juga akan mengundang kelompok-kelompok seni dari provinsi atau negera lain untuk lebih memberi warna di acara seniman balek kampong ini, kata Indra sembari menambahkan acara tersebut akan digilirkan di tiap-tiap kecamatan yang ada di Siak pada tiap tahunnya.

Hal itu juga diakui, Ketua Umum Dewan Kesenian Siak, Tengku Amaruddin. Katanya, wacana acara seniman balek kampung ini sudah lama tercetus sesama pengurus DKS. Dikarenakan beberapa hal, maka 2013 inilah baru bisa terlaksana. Acara serupa ini menurut Amaruddin sangat penting guna untuk menggali potensi-potensi seni yang dimiliki Kabupaten Siak. Dengan menampilkan karya-karya terbaik dari para pelaku seni di Siak ini, juga mendapat perbandingan dengan kelompok-kelompok seni yang diundang dari luar, tentunya akan menghasilkan sebuah pemahaman atau kesimpulan bagaimana seharusnya sebuah karya itu bisa dihasilkan dengan tetap mempertahankan kekuatan lokal yang dimiliki.

Kami akan terus berjuang untuk hal ini, kami juga berharap tetap mendapat bantuan dari pemerintah. Kegiatan serupa ini menjadi poin penting untuk menjaga seni budaya yang kita miliki agar tidak tenggelam disebabkan pengaruh yang masuk dari luar. Seni budaya Melayu adalah warisan orang-orang tua kita dahulu yang harus tetap kita jaga kelesetariannya, kata Amaruddin.

Asissten I, Dr H Fauzi Asni yang turut hadir dan menyaksikan pementasan sampai selesai mengatakan kegiatan serupa ini akan sepenuhnya disuport oleh pemerintah Kabupaten Siak. Potensi-potensi seni baik pelaku maupun ragam seni budaya di suatu daerah terangkat dari acara seperti yang dilakukan Dewan Kesenian Siak inilah, katanya.

Setiap orang memiliki potensi seni dalam dirinya. Tinggal bagaimana lagi mengasah kemampuan yang dimiliki. Ragam pertunjukan yang berlangsung dinilai oleh Fauzi adalah cerminan bagaimana potensi seni yang dimiliki kemudian dikemas dan dipersembahkan di hadapan khalayak. Corak dan ragamnya pastilah terikat dengan adat budaya yang dimiliki dan disanjung dalam suatu wilayah.

Ada selogan yang mengatakan  hidup tidak akan indah tanpa seni. Saya meskipun tak paham dan tidak pelaku seni, saya percaya dengan slogan itu. Dan saya selama ini senang sekali bila mengapresiasi seni budaya seperti halnya malam ini. Saya jujur, jangankan bernyanyi, bersiul saja sumbang tapi paling tidak, kita hadir di sini adalah letak dan bukti bahwa seni itu juga mengajar untuk saling menghargai, jelas Fauzi.

Fauzi juga mengakui, seni itu ajaib. Dicontohkannya, dengan alat musik yang sama bisa menghasilkan seni yang berbeda tergantung orang yang pandai dalam memainkannya. Seni juga dapat dijadikan sebagai media komunikasi yang baik, menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat lewat rangkaian pertunjukan yang dikemas dalam sebuah hiburan. Lewat kesenian, kita bisa melakukan apa saja, suatu wadah untuk kita berkomunikasi dengan simbol. Bahkan menyindir orang lewat seni juga bisa, tengoklah orang-orang tua kita yang selalu menyampaikan nasehatnya dengan menggunakan bidal, petuah, dan petatah-petitih. Yang terpenting, malam ini kita bisa saling bersilataruhmi dengan adanya acara seni seperti ini, katanya lagi.

Kesenian itu berakar di kampung-kampung. Dewan Kesenian Siak (DKS) dinilai berani melaksanakan helat seni di kampung-kampung. Hal itu dikatakan Sekretaris Umum Dewan Kesenian Riau (DKR) Eriyanto Hadi yang juda hadir di acara seniman balek kampung tersebut. Kata Eriyanto, mendatangi masyarakat dengan menyuguhkan bentuk-bentuk kesenian yang berangkat dari apa yang dimiliki merupakan sebuah terobosan baru di tengah-tengah hiruk pikuk seni hiburan yang ditayangkan di televisi saat ini.

Seni tradisi khususnya, lahir, terpacak dan bertahan tegak di kampung-kampung. Setiap bentuk dan ragam aslinya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di kampung itu sendiri. Kata Eriyanto, kadangkala hal itu menjadi rentan pula terlupakan. Sudah menjadi tabiat manusia, adakalanya terlupa dengan apa yang dimilikinya ketika melihat apa yang dimiliki orang lain. Dengan dilaksanakan acara ini, setidaknya dapat menjadi sebuah pemulihan ingatan, ternyata ada banyak kekayaan seni budaya yang kita miliki belum tergarap, belum tergali, belum diberdayakan sebagaimana mestinya, kata Eriyanto.

Ditambahkannya juga, acara seniman balek kampung ini juga dipandang sejalan dengan keinginan pemerintah Kabupaten Siak untuk memajukan wisata Siak. Apalagi, sebagai tempat perdana dilakukan di Kelurahan Sungai Mempura yang memang sudah ditetapkan sebagai daerah eko wisata. Apa yang paling menarik untuk diperkenalkan kepada wisatawan bukanlah kemegahan sebuah kota tapi desa dengan kesederhanaannya yang eksotis itulah yang menjadi daya tarik, ujar Eriyanto lagi.

Sebagai anak jati Sungai Apit, Eriyanto juga sangat setuju ketika diwacanakan acara seniman balek kampung ini digilirkan di kecamatan yang ada di Kabupaten Siak dalam tiap tahunnya. Karena menurutnya, akan terjadi perbandingan, sentuhan yang berbeda dari tiap-tiap kampung yang akan dikunjungi. Di samping itu, dapat dinilai segi kemerataannya. Saya yakin, tiap-tiap kampung akan berbenah, bersolek ketika acara ini berlangsung di kampungnya. Ada gairah yang bangkit, ada semangat yang mekar seperti bunga layaknya yang kita rasakan bersama-sama di Kelurahan Sungai Mempura saat ini, tutupnya.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 20:34 wib

BPJS TK Beri Penghargaan pada Tiga Perusahaan Terbaik

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 wib

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:00 wib

Sah, BPI Kerjasama dengan Negeri Istana

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 wib

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Follow Us