Kesetiaan Plural

Minggu, 12 Feb 2017 - 17:48 WIB > Dibaca 477 kali | Komentar

TINDAKAN untuk memilih itu, sebuah cara untuk menyegarkan kehidupan. Memilih ketua kelas, ketua RT atau ketua RW di kampung tempat mukim kita, ialah sebuah jalan menyegarkan sesuatu yang terhambat, sesuatu yang tersumbat. Sebab, kehidupan itu bak ranting-ranting kayu yang mengenal lapuk, rapuh di ujung, atau malah lapuk di pangkal. Di sinilah diperlukan upaya untuk menyegar dan penyegaran. Di samping itu, kehidupan itu sendiri bergerak; yang kecil membesar, yang belia mendewasa, yang dewasa bergerak menjadi paruh baya, lalu tua. Ujung dari semua perkembangan itu ialah layu atau mati. Hukum alam yang berkembang dan tumbuh lalu layu itu, dan di antara fase-fase itu memerlukan penyegaran. Dulu pergantian pemimpin atau tetua kampung, tetua dusun tak melalui sebuah pemilihan terbuka. Akan tetapi, sesuatu yang diturunkan dari baka yang lebih tua kepada anak-anak mereka yang dianggap memiliki bakat dan kemampuan dalam memimpin, punya kharisma dan kecerdasan sosial, sekaligus kepekaan sosial yang dirindukan oleh rakyatnya.

Namun, hari ini demokrasi tidak lagi mensyaratkan bahwa seorang pemimpin  dilahirkan melalui turunan, atau lewat sebuah zuriat terpandang dan berpembawaan seakan “sudah ditentukan” oleh kehendak langit. Di sini, demokrasi memberi ruang populi, ruang suara warga yang menentukan siapa yang layak dan kapabel menjadi pemimpin mereka. Dan, catatan dengan ‘efek bold’ (tinda hitam keras) dalam demokrasi, bahwa pemimpin itu malah lebih menyeberang dari prinsip-prinsip sekaum, seiman, sekampung, satu latar belakang suku atau etnis. Di sini lah pluralisme dirayakan. Alias, keragaman latar belakang warga dan calon pemimpinnya, memperoleh ‘peterakna’ yang layak dalam rumah bernama demokrasi. Sebab, suka atau tidak suka, sebuah kota sejak dulu kala didatangi beragam kaum dengan latabelakang yang amat berbeda. Dan itulah bawaan yang sejati dari sebauh kota. Dengan demikian, kita tak lagi bergantung pada orang sekampung, orang seasal dalam memilih calon pemimpin sebuah kota. Sesuatu ideasi yang berseberangan antar seorang dengan seorang yang lain dalam satu rumah pun, dilayani oleh demokrasi. Satu rumah bisa memiliki figur pilihan yang berbeda, dan tidak pernah satu. Sebab, persoalan pilihan adalah kisah “penyegaran” batin (ideal politik) yang memiliki hak pilih itu. Si pemilih punya alasan-alasan yang kaya, yang dalam atau pun dangkal. Tetapi, sekali lagi yang perlu diingat, bahwa tugas memilih atau dipilih adalah sebuah tugas penyegaran dalam membuat keputusan.

Di sebuah kota di India, mungkin kota terletak di negara bagian Kerala, ada sebuah kota yang berpembawaan jamak (plural) dari komposisi demografinya. Untuk menjaga keseimbangan komposisi warga yang sama dominan, termasuk kumpulan warga yang tak berapa dominan, maka diambil satu kebijakan mempergantikan walikotanya dalam 6 (enam) bulan sekali. Artinya satu smester. Polanya? Ya, setiap suku yang mendiami kota itu memiliki hak untuk mempergilirkan jabatan walikota melalui penunjukan kelompok kaumnya, per enam bulan sekali. Dengan begitu, pergiliran walikota, bagi mereka tak lebih dari pergiliran ketua kelas dalam sebuah sekolah. Setiap etnis memiliki kesempatan yang sama untuk memerintah kota itu.

Ihwal ini tak perlu digamangkan. Sebab, sekencang apapun pergantian atau pergiliran jabatan walikota itu, mesin birokrasi tetap berjalan. Sementara, sang walikota yang menjabat selama enam bulan itu, tetap setia menjalankan semacam “halun kebijakan” kota yang telah ditetapkan bersama melalui dewan kota. Ihwal ini dijadikan satu jalan pilihan rasional untuk mengurus kota, demi memperkecil fitnah dan pertumpahan darah, atau paling tidak bahwa sebuah pemilihan demokratis yang terbuka akan menyisakan masyarakat yang terbelah, masayarakat yang lepuh dan calar, kecenderungan yang kalah, tak menerima kemenangan pihak lawan, kecenderungan bahwa yang menang ikut menyorak dan mengejek kelompok yang kalah.

Demokrasi itu tak lebih dari sebuah jalan. Di atas jalan demokrasi itu, masih diberi ruang untuk membuat gang atau lorong kecil agar masyarakat (warga) tidak mengalami pelapukan sosial. Untuk itulah, demokrasi sebagai sebuah jalan harus ditempatkan sebagai jalan atau medan “penyegaran”, sebuah cara untuk membangun kesegaran-kesegaran sosial yang ceria, tidak membunuh reranting sosial bernama himpunan warga yang beragam latar belakangnya itu. Toh, demokrasi itu sendiri bukan ditandai dengan peristiwa memilih secara terbuka saja. Akan tetapi kemampuan untuk bermusyawarah, pertemuan hati yang paling dalam dan jeluk di antara tokoh-tokoh kelompok etnis, agama dan atau keyakinan politik itu sendiri, menjadi bunga-bunga yang cantik untuk merayakan demokrasi.

Demokrasi, bukanlah jalan perang, tetapi adalah upaya damai dalam permainan yang bernama memilih dan dipilih. Toh di dalam gaya memilih itu sendiri, diberi ruang kepada kita untuk kreatif, sehingga muncul kembang-kembang baru, kuntum baru, demi mengelak perang fisik dan pertumpahan darah. Salah satu pilihan itu, terlihat dari pilihan jalan yang dipersembahkan lewat jalan “mempergilir” jabatan sebagaimana kisah di atas.

Merawat keragaman, menyuci pluralisme yang sudah menjadi hukum alam itu, mau tidak mau juga harus dirayakan dalam jalan atau pun rumah bernama demokrasi. Sebuah jalan yang tidak mencincang atau merobohkan apa yang sudah dibangun bersusah payah dalam sejarah panjang sebuah bangsa. Demokrasi itu sendiri, bukan cerita tentang kisah memilih dan dipilih, tetapi bagaimana jalan cerita memilih dan dipilih itu dilakukan sesuai dengan watak sebuah bangsa, juga perlu dipertimbangkan. Sebab, setiap bangsa memikul watak dan sejarahnya sendiri. Sehingga, demokrasi juga harus digiring untuk bijak dan berlaku bestari ke atas perjalanan sejarah sebuah bangsa, termasuk perjalan sejarah panjang sebuah kota, sebuah provinsi, yang juga memikul watak yang ragam dalam memajeliskan keragaman (pluralisme) itu. 

Dengan begitu, demokrasi tidak lagi dilihat sebagai produk “dunia lain”, atau produk “bumi sayup’, tetapi demokrasi tak lebih dari mainan lokalitas, dengan mempertimbangkan kecerdasan-kecerdasan lokal untuk dijadikan sebagai “bumbu” atau perencah (ingridient) agar masakan lokal ini terasa nikmat dan memecah selera bagi yang mengecapnya. Kita tak perlu pula memaksakan produk ingredient itu untuk diekspor kepada bangsa lain, sebab mereka harus pula didorong untuk menemukan dan memperkaya ingredient cara mereka, resam mera dan ala mereka. Serba lokalitas. Di sinilah keragaman atau pluralisme itu dirayakan, dimajeliskan.***   

KOMENTAR
BERITA POPULER
Satu Lagi Putra Riau Jadi Jenderal

Satu Lagi Putra Riau Jadi Jenderal

24 Mar 2017 - 00:28 WIB | 3410 Klik
Pekerja Tewas Tergantung

Pekerja Tewas Tergantung

24 Mar 2017 - 11:08 WIB | 672 Klik
Sakit Hati Berujung Maut

Sakit Hati Berujung Maut

24 Mar 2017 - 11:13 WIB | 641 Klik
 2000 Ekstasi di Balik Bra, Sabu 24 Gram di Celana Dalam

2000 Ekstasi di Balik Bra, Sabu 24 Gram di Celana Dalam

24 Mar 2017 - 01:05 WIB | 595 Klik
Dipecat Djan Faridz dari PPP, Begini Komentar Pedas Romi

Dipecat Djan Faridz dari PPP, Begini Komentar Pedas Romi

24 Mar 2017 - 17:38 WIB | 582 Klik

Follow Us