Depan >> Kolom >> Chaidir >>

Pesan Dinas Kebudayaan

Senin, 13 Feb 2017 - 10:13 WIB > Dibaca 692 kali | Komentar

RIAUPOS.CO - DINAS Kebudayaan Provinsi Riau resmi dibentuk pada hari ini, Senin (13/2/2017). Dengan perasaan sukacita kita ucapkan tahniah, sembari bersama-sama mengirimkan doa semoga sukses mewujudkan mimpi besar Provinsi Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara sebagaimana tertuang dalam Visi Riau 2020 berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 36 Tahun 2001.

Dengan terbetuknya Dinas Pariwisata tersebut secara sederhana dipahami, Provinsi Riau kini telah memiliki Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sebagai instrumen yang betanggung jawab dalam mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan agenda-agenda kebudayaan secara umum di daerah. Keberadaan dinas ini sekaligus pula secara khusus akan memperkuat berbagai entitas kelembagaan dalam melakukan internalisasi nilai-nilai kebudayaan Melayu sebagai sokoguru kebudayaan di Provinsi Riau.

Pembentukan Dinas Kebudayaan ini harus dipandang sebagai salah satu ikhtiar dan kesempatan untuk membumikan nilai-nilai kebudayaan Melayu secara lebih terstruktur dan lebih massif. Tidak bisa dipungkiri, Riau sebagai “The Home Land of Melayu” selama ini terasa, bahwa kebudayaan Melayu yang menjadi akar kebudayaan aslinya, belum sungguh-sungguh menjadi sebuah nilai pembeda seperti misalnya nilai-nilai kebudayaan asli yang mewarnai Provinsi Bali,  Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, Papua, Maluku, Aceh, dan seterusnya. Provinsi-provinsi di Pulau Jawa tak usah disebut, mereka sudah punya warna pembeda yang tak terbantahkan.

Kita masih sering menyaksikan praktik keseharian yang tak mencerminkan nilai-nilai kebudayaan Melayu. Dengan kata lain, kita menghadapi persoalan antara das sollen dan das sein. Sesuatu yang ideal, berbeda dengan kenyataan di lapangan. Tidak jarang kita berhadapan dengan “tongkat-tongkat” dalam pranata sosial yang harusnya menjadi junjungan dan bertanggung jawab melakukan fungsi internalisasi nilai justru inkonsistensi dalam mengaktualisasikan nilai-nilai ideal yang menjadi jiwa kebudayaan Melayu itu sendiri. Sebagian dari mereka justru mereduksinya melalui hal-hal yang tak patut sebagai teladan, sehingga tongkat membawa rubuh.

Namun dengan terbentuknya Dinas Kebudayaan ini bukan berarti OPD lain berlepas tangan dan melulu menyerahkan seluruh hal-hal yang berkaitan dengan internalisasi nilai-nilai kebudayaan Melayu menjadi urusan Dinas Kebudayaan. Sebab, sesungguhnya, dengan atau tanpa Dinas Kebudayaan,  nilai-nilai kebudayaan Melayu haruslah tetap menjadi pedoman yang menyelimuti, atau menjadi kekuatan yang mengatur, bahkan memaksa kita semua untuk berpikir, bersikap, berperilaku, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan tersebut.

Dalam konstruksi alur pikir seperti itulah kita menangkap pesan penting dibentuknya Dinas Kebudayaan di Provinsi Riau. Kita mengharapkan birokrasi di jajaran pemerintahan secara umum bisa menggunakan acuan perangkat nilai kebudayaan Melayu sebagai pedoman penyusunan kebijakan ke depan.  Kita peduli terhadap nilai-nilai kebudayaan asli yang kita miliki karena kebudayaan seperti disebut Larson dan Smalley (1972), berperan sebagai “blue print” (cetak biru) yang memandu perilaku setiap orang dalam suatu komunitas  kehidupan. Orientasi pembangunan yang terlalu mengedepankan paradigma developmentalism yang berorientasi pada pertumbuhan (growth) semata, menurut Mashour Fakih (2005), tak hanya melanggengkan patalogi sosial, namun telah mengantarkan sebagian besar negara Dunia Ketiga menuju kehancuran peradaban. Fukuyama (2005) juga berpesan, modernitas telah menguras modal sosial yang ditandai menyempitnya radius kepercayaan, kejahatan merajalela, ikatan keluarga makin longgar dan kemudian kerisauan sosial.

Sebuah negeri yang tidak mampu mempertahankan identitas kebudayaan asli daerahnya dalam derasnya dinamika pembangunan akan menyebabkan negeri tersebut kehilangan jati diri. Masing-masing bidang birokrasi akan jalan sendiri-sendiri, atau masing-masing bidang akan mencari acuannya sendiri. Muaranya tentulah pembangunan tanpa bentuk dan miskin nilai.

Kebudayaan hadir dalam proses pembentukan pola sikap dan perilaku manusia dari luar dan dari dalam. Nilai adalah hal esensi dari kebudayaan. Nilai merupakan suatu konsepsi tentang mana yang benar dan mana yang salah (moral), mana yang baik dan mana yang buruk (etika), dan antara yang indah dengan yang jelek (estetika). Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, pesannya jelas, ke depan konsepsi kita tentang moral, etika dan estetika harus lebih baik.*** 

KOMENTAR
BERITA POPULER
Terbang Lintas Negara Berkat Perminyakan

Terbang Lintas Negara Berkat Perminyakan

30 Mei 2017 - 10:29 WIB | 712 Klik
FPI Sisir Sejumlah Tempat Hiburan

FPI Sisir Sejumlah Tempat Hiburan

30 Mei 2017 - 11:35 WIB | 466 Klik
Jalan HR Soebrantas Renggut 10 Nyawa

Jalan HR Soebrantas Renggut 10 Nyawa

30 Mei 2017 - 11:10 WIB | 378 Klik
Transfer Uang, Mobil Tak Kunjung Datang

Transfer Uang, Mobil Tak Kunjung Datang

30 Mei 2017 - 10:53 WIB | 374 Klik
Jangan Tidur Setelah Sahur

Jangan Tidur Setelah Sahur

30 Mei 2017 - 10:10 WIB | 373 Klik

Follow Us