Khaul Ibrahim Sattah

Mengenang Penyair Serius dan Total

26 Januari 2014 - 08.52 WIB > Dibaca 2287 kali | Komentar
 
Kepenyairan Ibrahim Sattah semasa hidupnya tak dapat diragukan lagi meskipun tercatat sebagai salah seorang anggota polisi. Sajak-sajaknya mulai dipublikasi pada Harian Angkatan Bersenjata edisi Pekanbaru dan Padang. Pernah mengasuh ruang Sastra Budaya RRI Stasiun Pekanbaru, menerbitkan majalah sastra Solarium dan bersama-sama kawan-kawan lainnya mendirikan Studi Grup Sastra.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

ALMARHUM Ibrahim Sattah salah seorang penyair Riau yang pada masanya telah membuat jejak.  Melalui karya-karyanya, almarhum telah mengangkat nama daerah Riau ke jenjang nasional dan internasional. Penyair yang lahir di Tarempa 12 Desember 1945 ini dipanggil Yang Maha Kuasa pada Selasa pagi 19 Januari 1988.

Ibrahim Sattah mulai dikenal di panggung penyair Indonesia ketika puisi-puisinya dimuat dalam majalah sastra Horison pada  1970-an. Buku kumpulan puisinya pertama dandandid terbit 1975. Menyusul kemudian 1980 buku kumpulan puisi yang kedua Ibrahim dan 1983 kembali menerbitkan buku kumpulan puisi yang ke tiga Haiti.  Pada 1975, almarhum juga membacakan puisi-puisinya di Den Haag-Belanda dan di musim panas 1976, beliau terpilih menjadi peserta Festival Puisi Antar Bangsa di Rotterdam, mengikuti program ASEAN Poetry Reading International. Ibrahim Sattah dikenal sebagai seorang penyair yang cepat menarik perhatian karena penampilannya dalam membaca puisi secara unik dan segar serta memiliki ciri-ciri tersendiri. Budayawan Riau, Al azhar menyebutkan, Ibrahim Sattah muncul sebagai meteor di panggung penyair Indonesia pada zamannya.  

Untuk mengenang jasa-jasa Ibrahim Sattah, seniman Riau, A amesa Aryana menggelar pembacaan puisi tunggal di Laman Bujang Mat Syam Bandar Seni Raja Ali Haji, Ahad malam (19/1). Acara yang diberi nama Khaul Ibrahim Sattah itu terlaksana berkat kerja sama dengan Rumah Budaya Siku Keluang dan Dewan Kesenian Riau.

A amesa mengatakan apa yang dilakukan adalah murni dari niat pribadinya. Niat itu sudah lama hendak dilakukan terutama ketika VCD pembacaan puisi Ibrahim Sattah yang dimilikinya rusak, tidak bisa diputar lagi. Diceritakannya, ketika niatnya itu disampaikan kepada beberapa kawan seniman lainnya, ternyata mendapat respon yang baik. Akhirnya ditentukanlah waktu pelaksanaanya pada tanggal 19 Januari 2014 bertepatan dengan tanggal wafatnya alamarhum Ibrahim Sattah.

Ini niat spontan saya, tak ada modal sedikit pun dan Alhamdulilah, kawan-kawan merespon. Dan apa yang saya lakukan tidaklah berarti apa-apa, hanya berupa debu bila dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan para pendahulu kita terhadap kesenian di Riau ini, ujar Amesa.  

Pertunjukan malam itu dibuka dengan pembacaan puisi oleh salah seorang aktor muda Riau, Denni Afriadi. Sajak karya Ibrahim Sattah yang berjudul Anak-anak dan Katak dibacakan di hadapan para penonton yang duduk santai di meja kursi berwarna putih yang telah disediakan. Penonton yang sekaligus merupakan tamu undangan tersebut terdiri dari para seniman dan keluarga, saudara kerabat Almarhum Ibrahim Sattah. Junaidi Alwi salah seorang seniman teater Riau mengatakan terlepas dari tema acara yang disuguhkan malam ini, ia merasakan sesuatu yang luar biasa.

Ini luar biasa, saya secara pribadi sudah sangat merindukan acara-acara spontan yang dilaksanakan di laman Bujang Matsyam seperti ini. Sudah lama sekali Laman ini sepi dari pertunjukan seni, katanya seraya menambahkan betapa terharu di malam acara khaul Ibrahim Sattah. Meski tidak mengenal langsung Almarhum, tapi sosok penyair Riau yang handal itu dikenalnya melalui cerita dan bacaannya terhadap karya-karya Almarhum.  

A amesa memulai aksi pembacaan puisinya dari atas menara, tepatnya yang berada di sebelah kiri Anjung Seni Idrus Tintin. Di atas ketinggian itu, Aamesa membacakan beberapa buah puisi, diantaranya Haiti, Taffakur dan Bismilah. Dengan dibantu lampu follow, tampak Aamesa yang mengenakan baju serba hitam itu  membacakan sajak dalam keremangan malam. Kemunculannya yang tak disangka-sangka itu membuat penonton awalnya mencari sosok yang sedang membacakan puisi.

Demikianlah bagian demi bagian adegan pembacaan dari pertunjukan Aamesa yang memanfaatkan keluasan halaman Bujang Matsyam. Pada bagian berikutnya, ia tampil pula di atas menara di bagian sebelah kanan Anjung Seni Idrus Tintin. Kemudian di sebuah ayunan diantara pepohonan sawit, dengan santai Aamesa membacakan beberapa buah sajak lagi; Sansauna, Sang Sing Song dan Anak-anak dan Katak. Berpindah pula berikutnya diantara semak belukar dan di bawah rerindang pohon-pohon yang ada, A amesa membacakan sajak Batu Belah. Mengakhiri pertunjukannya itu, barulah A amesa membacakan sajak-sajak karya Ibrahim Sattah di hadapan penonton, tepatnya di panggung sederhana yang telah disediakan.

Memanfaatkan keluasan Laman Bujang Mat Syam dalam pertunjukan ini adalah konsep spontanitas saja. Apalagi dalam pembacaan puisi solo atau tunggal, supaya tidak terkesan menoton saja. Konsepnya mengajak penonton. Bayangkan sekitar 20-an puisi dibaca, kalau hanya berdiri di depan panggung, apa tidak menjenuhkan juga. Bagaimanapun ini kan terkemas dalam seni pertunjukan jadi perlu jugalah inovasi dan kreativitas agar nyaman untuk disaksikan, ujar A amesa.

Tetapi kemudian A amesa menegaskan apa yang dipersembahkan malam ini bukanlah inti dari acara karena yang paling penting itu adalah bagaimana sebenarnya upaya untuk mengenang dan mengingat serta mendoakan almarhum Ibrahim Sattah itu yang lebih penting. Apa yang saya lakukan tidak akan putus sampai di sini, ini akan berlanjut. Acara mengenang dan mengingat akan jasa-jasa seniman pendahulu kita saya kira penting. Siapa lagi kalau bukan kita yang menghargai mereka pada hari ini. Bila perlu saya juga akan melakukan pembacaan atas karya-karya seniman kita yang masih hidup yang mana karya-karyanya telah memberikan kontribusi dan mengharumkan nama Riau, kata A amesa lagi.

Acara khaul Ibrahim Sattah tidak hanya habis sebatas pembacaan puisi oleh A amesa Aryana. Rumah Budaya Siku Keluang yang juga turut menyukseskan acara, menyediakan layar putih yang digunakan untuk mendengar dan menyaksikan testimoni-testimoni dari seniman budayawan Riau terhadap sosok Ibrahim Sattah. Tak hanya itu, para generasi muda juga turut diwawancarai. Anehnya, hampir seluruh dari generasi muda yang ditanyai, menyatakan tidak mengenal dengan sosok Ibrahim Sattah.

Menanggapi hal itu, Al azhar mengatakan tradisi apresiasi karya sastra di Riau ini yang sebenarnya perlu dibenah. Katanya, ada sebuah persoalan kebudayaan yang besar yang perlu dipertanyakan dan diselesaikan di negeri yang konon katanya kaya dan menganggungkan kebudayaan ini.

Kita patut bersedih hati dengan kondisi serupa itu. Pembelajaran sastra hari ini, tidak pernah ada upaya untuk masuk ke dalam karya dan pengkarya itu sendiri, ia hanya berupa formalitas saja, setakat permukaan. Karya sastra khususnya karya para penyair Riau tidak pernah tersebar luas di kalangan anak muda hari ini. Maka inilah persoalan kebudayaan yang besar itu, kata Al azhar.

Di mata Al azhar, Ibrahim Sattah adalah penyair Riau yang sangat terkenal di zamannya. Terutama puisi dan penampilannya di panggung, katanya. Mengutip pernyataan almarhum Hasan Junus, Al azhar menyampaikan bahwa puisi-puisi Ibrahim Sattah adalah berangkat dari penyerapannya amat mendalam terhadap permainan anak-anak. Puisi pada hakikatnya adalah permainan bunyi. Dalam permainan anak-anak itulah yang dijelajahi Ibrahim ke dalam teks-teks puisinya dan pertunjukannya. Dan setiap kali tampil, almarhum selalu mendapat apresiasi yang bagus di mana-mana, baik di Riau, Jakarta maupun manca negara, jelas Al azhar lagi.

Budayawan Riau lainnya, Husnu Abadi mengatakan totalitas yang menjadi kata kunci untuk mengenang sosok Ibrahim Sattah, baik sebagai penyair ataupun sebagai orang yang turut terlibat aktif dalam mengorganisir seni dan budaya. Keseriusan dalam menangani sesuatu hal itu yang patut diacungkan jempol. Husnu mengenang suatu ketika ia pernah melihat almarhum latihan fisik selama hampir seminggu berturut-turut, berlari dan lain sebagainya.

Lalu kemudian ketika ditanya untuk apa latihan itu semua, beliau menjawab untuk persiapan membaca puisi dalam waktu seminggu ke depan. Itulah kenangannya, ujar Husnu Abadi.

Ambisi dan keseriusannya dalam dunia sastra kemudian menurut Husnu terus berkembang. Sampai akhirnya Almarhum mendirikan dan mempunyai penerbit sendiri. Ia sebagai manajer, lay out, editing dan semuanyalah. Sayangnya hanya beberapa buku yang sempat terbit dari penerbitnya itu. Dan memang, hidup almarhum singkat tapi karya seni terutama pusinya yang lebih panjang dari usianya sendiri, ujar Husnu.

Salut dan bangga memiliki penyair seperti Ibrahim Sattah juga disampaikan seniman budayawan lainnya seperti Azwan Razak alia Datuk Bandar, Juarman Ahmad dan Yoserizal Zen, Elmustian Rahman, Fedli Azis, Hang Kafrawi, Kunni Masrohanti, Junaidi Alwi, Jefri al Malay dan lainnya.

Dia adalah guru dan sahabat saya, kata Azwan Razak sembari mengatakan kepeduliannya serta bagiamana ia berbagi ilmu dan pengalaman serta pengetahuan tentang apa yang diketahuianya itu yang membuat namanya tetap dikenang. Juarman Ahmad juga mengakui, sebagai seorang yang sangat menyenangi Almarhum ketika membaca puisi. Secara musik, dapat dikatakan beliau memenuhi semua unsur pembacaan puisi baik dari segi irama, intonasi yang mengalun, suaranya yang bagus serta penekanan kata yang harus ditekan.

Saya mengagumi beliau bukan hanya karena Almarhum pernah menjadi dosen saya akan tetapi dia memang pembaca puisi yang baik, ujar Juarman Ahmad sang musisi senior Riau tersebut.

Sementara itu, salah seorang anak Ibrahim Sattah , Tin Marni yang datang beserta kaum kerabatnya mengucapkan terima kasih yang tak berhingga kepada panitia pelaksana. Katanya semoga Tuhanlah yang membalas kebaikan kawan-kawan seniman dan kegiatan tersebut kiranya dapat bermanfaat kepada semua yang hadir hari ini terutama untuk generasi muda.

Berbagai kenangan manis sempat pula diceritakan Tin Marni dalam kesempatan yang diberikan kepadanya itu. Bagaimana misalnya ketika Tin masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, tepat pada hari ulang tahun, Almarhum datang memberi kejutan di sekolah. Kenangan lain yang tak bisa dilupakan Tin adalah ketika lari-lari pagi melewati jalan Kartini, Sudirman di mana sepanjang jalan Almarhum membacakan sajak-sajaknya.

Betapa malunya saya ketika itu, karena kontan semua orang di sepanjang jalan memperhatikan kami tapi demikianlah satu hal yang saya sedari hari ini, bahwa beliu juga adalah seorang seniman, ujar Tin dalam kesenduan ucapannya.

Sebagai anak, tin juga mengakui kedisiplinan Ibrahim Sattah. Senantiasa mendidik anak-anaknya dalam hal disiplin, kebersihan dan kerapian. Terkiat dengan bakat, Tin mengatakan sebenarnya semua orang memiliki bakat seni tinggal lagi bagaimana seseorang mempertajam bakat yang memang alami tersebut. Begitu juga dengan anak-anak Almarhum seperti yang dijelaskan Tin. Bakat, saya kira semua anaknya punya dalam bentuk dan model yang berbeda. Ada yang suka bernyanyi dan bermain gitar, yang paling bungsu misalnya suka fotography. Saya sendiri meski tak pandai baca puisi tapi saya sangat senang menulis. Seni itukan luas, tidak hanya sebatas baca sajak, katanya pula.

Sementara itu, Ketua Rumah Budaya Siku Keluang, Hery Budiman mengatakan keterlibatannya bersama kawan-kawan dalam melaksanakan acara Khaul Ibrahim Sattah ini karena apa yang menjadi kehendak Aamesa sejalan dengan misi Rumah Budaya Siku Keluang. Karena Rumah Budaya Siku Keluang juga adalah wadah tempat berkumpul, tempat ngobrol ihwal seni dan budaya jadikan ini menjadi tanggung jawab bersamalah. Makanya kita membantu apa yang bisa kita bantu dan kita respect dengan acara seperti ini, katanya.

Kemudian pada sesi penutupnya, beberapa penyair dan tamu undangan yang hadir ditabalkan untuk membacakan puisi-puisi karya Ibrahim Sattah sebagai bentuk ikut mengapresiasi dan mengenang kepenyairan Ibrahim Sattah sang meteor dari Riau tersebut.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us