Ekspresi Spontanitas di Ultah DKR

26 Januari 2014 - 08.52 WIB > Dibaca 759 kali | Komentar
 
Dewan Kesenian Riau (DKR) kini genap berusia 21 tahun. Pada Sabtu malam (18/1) lalu digelar acara syukuran sekaligus silaturahmi antar seniman-seniman di Aula Dewan Kesenian Riau (DKR) yang berada di kawasan Bandar Seni Raja Ali Haji-Pekanbaru.

Tak ada acara khusus yang diagendakan dalam syukuran tersebut. Hanya kebersamaan dan silaturahmi yang tampak, hal itu dapat pula dilihat dari sembang-sembang sesama seniman dan juga acara spontanitas penampilan yang dipergelarkan setelah  setelah bersama-sama menikmati juadah yang berupa nasi kunyit dan lainnya.

Berbagai pertunjukan spontanitas ditampilkan oleh seniman-seniman yang hadir, seperti membaca puisi, cerpen, bernyanyi dan juga dialog serta diskusi terkait dengan kesenian dan kebudayaan. Tampil membacakan puisi salah seorang sastrawan senior Riau, fakhrunnas MA Jabbar. Namun sebelumnya, Fakhrunnas menghaturkan kata salut dan memberikan tepukan sebagai bentuk apresiasi dirinya terhadap seniman-seniman yang hari ini masih tetap eksis dan berkarya. Katanya, memang sejak didirikan DKR tahun 1993 seniman sudah berdaulat akan tetapi persoalan penting yang selalu menjadi kendala untuk berkaya adalah dana.

Kalau ada lagu mars DKR ini, lagu yang sesuai itu adalah lagu ya dana ya dana, pakai kompang. Makanya bolehlah diberi tepuk tangan kepada mereka yang masih tetap terus dan eksis berkarya, baik itu musik, sastra, teater dan lainnya, ujar Fakhrunas dalam candanya yang kemudian segera membacakan sebuah sajak.

Disusul berikutnya, Taufik Ikram Jamil membacakan sebuah cerpen yang berjudul Pembunuhan di Provinsi Sungai. Sebuah cerpen pendek yang diekspresikan Taufik dengan bantuan permainan piano oleh Ery Bob. Tampil juga Erianto Hadi yang membawakan stand up komedi ala Young Dolah, Hang Kafrawi dengan puisinya Disinilah Kami Dilahirkan. Tak ketinggalan juga, Raja Isyam membacakan puisi yang berjudul Nyanyian Tanah Kelahiran karya Ediruslan Pe Amanriza, Taufik Hidayat alias Atan Lasak membacaakan sajak berjudul Morena-morena. Sebuah lagu yang berjudul Senandung Hidup Berbudi dinyanyikan oleh Jefri al Malay dan beberapa pertunjukan spontanitas lainnya.

Hadir juga dalam kesempatan itu, seniwati  Iyeth Bustami, artis asal Riau yang namanya telah terkenal di tingkat Nasional dengan lagu Raja Laksemana di Laut itu. Ucapan terima kasih diucapkannya karena telah memberitahukan acara ultah DKR. Perasaan bangga dan bahagia juga terharu karena bisa hadir di DKR ini. Rasanya pengen menanagis. Sudah lama sekali saya berkeinginan untuk bisa berkumpul bersama seniman dan budayawan Riau seperti moment malam ini, terima kasih, ujarnya kemudian.

Sebagai apresiasi atas ultah DKR  yang ke 21, Iyeth menyenandungkan  sebuah lagu spontanitas tanpa musik yang berjudul  Selamat Ulang Tahun. Ciri khas suaranya yang kemudian membuat penonton bertepuk tangan usai Iyeth bernyanyi.

DKR Sebagai Rumah Seniman
Sebelumnya, budayawan Riau Al Azhar dalam pidato kebudayaannya menceritakan sekilas tentang refleksi perjuangan seniman-seniman dulunya dalam hal mendesak pendirian Dewan Kesenian Riau (DKR). Ini terutama untuk generasi muda. Kenapa kita ingin punya dewan kesenian pada era 1970-an itu? Karena dibayangkan Dewan Kesenian sebagai sebuah lembaga tempat dimana kebebasan memperlihatkan bentuk yang sebenarnya. Kebebasan adalah asas kreativitas. Tidak akan ada kreatifitas kalau kondisi terkekang, tegas Al azhar.

Akhirnya dari berbagai desakan lainnya dan hal-hal yang mengganggu tidur seniman di 1970-an seperti yang dikatakan Al Azhar adanya anggapan seniman-seniman belum dianggap seniman apabila belum tampil di Taman Ismail Marzuki. Maka Dewan Kesenian pun akhirnya dapat dibentuk setelah melewati berbagai persoalan, kenangnya.

Ditambahkannya, sebagai laman tempat bermain, seniman mutlak memerlukan sebuah kawasan. Kawasan itu pula kata Al Azhar dapat dijadikan sebagai bukti atas kekuasaan. Kekuasaan yang dilandasi kebebasan untuk kreatifitas. Kemudian, beberapa seniman memperjuangkan kawasan bandar serai ini untuk dijadikan sebagai pusatnya kesenian dan kebudayaan.

Awalnya semua berjalan lancar, sudah hampir 4 atau 5 master plan dirancang untuk mewujudkan hal itu. Tapi kemudian, tengoklah apa yang menimpa kawasan ini. Kita diberikan anak haram, sesuatu yang tidak pernah diharapkan oleh kita semua sebagai insan-insan seni. Al hasil, kawasan Bandar Serai ini menjadi tak menentu. Jadi, pemerintah Riau hari ini berhutang banyak, banyak, banyak kepada seniman, tegas Al azhar sembari menambahkan disitulah kemudian peranan strategis DKR, harus mampu menjadi penagih hutang pemerintah provinsi terhadap seniman-seniman.

Sepakat dengan hal itu, seniman lainnya Hang Kafrawi mengemukakan perlunya action untuk menuntut utang-utang terhadap seniman tersebut. Katanya, perlu sebuah gerakan nyata agar seniman-seniman diperhatikan dan dihargai. Kita sudah lama diam semenjak Almarhum Idrus Tintin dulu. Hak-hak kita diambil, kita diam. Kawasan kesenian diluluh lantakkan, kita diam. Marwah seniman tergadai, kita diam. Sekarang inilah saatnya kita harus berbuat sesuatu agar seniman-seniman tidak dipandang lagi dengan sebelah mata, ujar Kafrawi.

Bahkan kata Kafrawi, untuk memperkuat keberadaan Dewan Kesenian Riau sebagai tempat bernaung seniman-seniman dan Dewan Kesenian daerah lainnya, perlu diajukan kepada pemerintah untuk segera membuatkan Perda. Dengan itu, segala aktifitas kesenian dan kebudayaan tidak lagi terseok-seok seperti sekarang ini, tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Kesenian Riau (DKR), Kazzaini KS menyadari sebagai sebuah lembaga kesenian yang menjadi rumah bagi seniman, hingga hari ini masih banyak  yang perlu dilakukan pengurus untuk memajukan kesenian di Riau ini. Kegiatan pada malam ini sengaja dilaksanakan bersempena untuk syukuran, sekaligus ulang tahun DKR yang ke 21. Namun kita menyadari bahwa masih banyak hal yang mesti kita lakukan dalam rangka bagaimana kesenian di Riau ini menjadi tuan rumah dan mendapat tempat di negerinya sendiri, kata Kazzaini.

Oleh karena itu, Kazzaini juga berharap kepada seluruh pihak agar senantiasa memberikan support dalam bentuk saran dan kritik. Semua itu sangat kami harapkan agar Dewan Kesenian ini dapat berjalan dengan baik. Mudah-mudahan di momen Ulang tahun yang ke 21 ini, kita bisa melakukan lebih banyak lagi untuk memajukan kesenian di Riau ke depannya, ujar Kazzaini.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us