Misteri U

26 Januari 2014 - 09.03 WIB > Dibaca 1311 kali | Komentar
 
Misteri U
Entah kebetulan, entah disengaja, ada hal menarik pada beberapa kata bahasa alay yang marak belakangan ini: cenderung memilih, menggunakan, dan/atau melebih-lebihkan bunyi [u], biasanya dilakukan dengan menambahkan bunyi [y] atau [w]. Contohnya adalah unyu-unyu ‘sangat menggemaskan; imut-imut’, duluw ‘dulu’, luchuw ‘lucu’, kamyuh ‘kamu’, dan akyuh ‘aku’. Bahkan, kata semangat yang berarti ‘kekuatan atau roh kehidupan yang menjiwai segala makhluk’ (KBBI, 2003:1025) pun diubahnya menjadi cemungud.

Dalam alfabet/abjad Latin, u adalah huruf ke-21, terletak di antara t dan v. Konon, huruf u merupakan variasi huruf v pada masa Romawi Kuno. Pada akhir abad pertengahan, dua bentuk huruf: v dan u itu digunakan untuk melambangkan bunyi yang dianggap bermiripan (sama): [v] dan [u]. Bentuk [v] (yang runcing) digunakan di awal kata, sedangkan [u] (yang bundar) digunakan di tengah atau akhir kata tanpa memandang bunyinya. Akhirnya, pada 1700-an, karena ada pemisahan (bunyi) konsonan dan (bunyi) vokal, ditetapkanlah bentuk v sebagai konsonan dan bentuk u sebagai vokal (http://id.wikipedia.org/wiki/U).

Sebagaimana (huruf) vokal lainnya (seperti a, i, e, dan o), u merupakan bunyi ujaran yang diakibatkan oleh adanya udara yang keluar dari paru-paru tanpa terkena hambatan atau halangan. Dalam bahasa Indonesia, (huruf) vokal u (yang melambangkan bunyi [u]) merupakan huruf vokal-bulat-tertutup-belakang. Artinya, jika dilihat berdasarkan posisi lidah dan bibir, bunyi [u] berada di belakang, dengan posisi lidah yang tertutup dan bentuk bibir bulat.

Lantas, apa kaitannya dengan judul dan contoh di atas? Di sinilah letak keurgensian tulisan ini. Dalam bahasa Indonesia, kata yang mengandung fonem /u/ cenderung memberi makna (kesan) malu-malu. Berbeda, misalnya, dengan kata yang mengandung fonem /a/ cenderung memberi makna (kesan) berani dan terbuka. Ambillah contoh kata tutup dan buka. Kata tutup, yang berarti  ‘benda yang menjadi alat untuk membatasi suatu tempat sehingga tidak terlihat isinya, tidak dapat dilewati, dan terjaga keamanannya’ (KBBI, 2003:1230), memberi makna (kesan) bahwa sesuatu yang ditutup itu sangat sulit dijamah. Berbeda dengan kata buka, yang berarti ‘membentangkan, mengembangkan, mengungkap, dan memperlihatkan’ (KBBI, 2003:171), memberi makna (kesan) bahwa siapa saja boleh melihat isinya.

Kata yang mengandung fonem /u/ juga bisa bermakna sesuatu yang semula besar menjadi kecil secara ukuran. Misalnya, terlihat pada kata kembang dan kuncup. Kata kembang berarti ‘mekar terbuka atau membentang, serta menjadi besar’ (KBBI, 2003:538). Sementara itu, kata kuncup berarti ‘menjadi tertutup serta menjadi kecil/mengerut’ (KBBI, 2003:623). Simak juga kata yang mengandung fonem /u/ lainnya, seperti mengerucut ‘menguncup’, mengerut ‘memendekkan’, menciut ‘menyusut/menjadi kecil’,  mengisut ‘melisut’, melisut ‘menjadi layu’, dan menyusut ‘menjadi sedikit’ (verba) serta lusuh ‘loyo’, malu ‘hina/rendah/segan’, sayu ‘sangat sedih dan terharu’, kuyu ‘tidak berseri dan lesu’, dan sendu ‘sedih dan pilu’ (adjektiva).
Apakah hal itu merupakan suatu kebetulan? Ataukah karena ada pengaruh posisi lidah dan bibir dalam memproduksi bunyi vokal itu? Yang pasti [u] dihasilkan pada posisi lidah yang tertutup dan bentuk bibir yang bulat, sedangkan [a] dihasilkan pada posisi lidah yang terbuka dan bentuk bibir yang tidak bulat.

Hal yang menarik lainnya adalah, jika memang ada pengaruh posisi lidah dan bibir pada arti/makna sebuah kata, bahasa alay yang cenderung memilih, menggunakan, dan/atau melebih-lebihkan bunyi [u] itu perlu dipertimbangkan keberadaannya. Mengapa? Karena bahasa alay lebih banyak ‘’menjangkiti’’ generasi muda daripada generasi tua. Padahal, seperti kita ketahui, generasi muda adalah harapan bangsa.  

Memang benar, bahasa alay diyakini sebagai bentuk/hasil kreativitas pemakainya (remaja) dalam pencapaian eksistensi diri. Penggunaan bahasa alay, dengan demikian, dianggap wajar karena sesuai dengan tuntutan perkembangan pribadi usia remaja, yang sering memiliki keinginan hidup bersama kelompoknya dalam sebuah komunitas. Untuk kepentingan itulah mereka menciptakan bahasa rahasia yang kemudian disebut bahasa alay itu.

Sayang, sebagai harapan bangsa, mereka tidak memperlihatkan karakter yang baik dan kuat. Melalui bahasa alay yang digunakan, mereka justru memperlihatkan kemanjaan dan keloyoan. Bagaimana tidak, kata "semangat" yang memberikan makna/kesan berani dan terbuka itu, misalnya, telah digantinya menjadi "cemungut" yang memberikan makna/kesan cemen dan loyo. Bayangkan, apa yang akan terjadi seandainya Erwiana Susilaningsih (TKI di Hongkong yang disiksa majikannya itu) mendapat ucapan, ‘’Cemungut ya,’’ dari teman-temannya? Apalagi jika cara mengucapkannya pun bermanja-manja.

Nah, wahai generasi muda! Di manakah makna semangat itu kalian sembunyikan? Masa depan negara dan bangsa ini ada di tangan kalian. Jangan padamkan kobaran api yang membara. Semangat!***


Dessy Wahyuni
Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 13:30 wib

Harga Emas Kembali Stabil

Selasa, 18 September 2018 - 13:30 wib

SMA Santa Maria Unggulkan Tim Putra

Selasa, 18 September 2018 - 13:20 wib

Subsidi Energi Membengkak

Selasa, 18 September 2018 - 13:00 wib

Bersihkan Sisa Banjir, Belajar Ditunda

Selasa, 18 September 2018 - 13:00 wib

Syamsuar, Gubernur Riau Terpilih Siap Dukung APPSI

Selasa, 18 September 2018 - 12:50 wib

Ulama di Ranah Minang Tolak Aturan Pengeras Suara Masjid

Selasa, 18 September 2018 - 12:42 wib

Kakek 11 Cicit dan 31 Cucu Nikah Isbat

Selasa, 18 September 2018 - 12:30 wib

Mahasiswa Tuntut Stabilitas Rupiah dan Pengelolaan Blok Rokan

Follow Us