Pendidikan KAT

26 Januari 2014 - 09.30 WIB > Dibaca 795 kali | Komentar
 
Pendidikan KAT
Setahun lalu penulis pernah datang ke daerah yang dihuni masyarakat Suku Asli di Kabupaten Siak. Di daerah ini berdiri megah sebuah sekolah, sayang sekolah itu tidak ada aktivitas pendidikan sama sekali. Anak-anak di daerah itu hanya bisa bermain sepanjang hari, mereka (mungkin) tak kenal dengan angka satu, dua, tiga dan seterusnya, begitu juga dengan huruf A, B, C dan seterusnya.

Ironis memang, namun usut punya usut, kosong melompongnya kelas-kelas yang ada di sekolah itu bukan semata-mata karena anak-anak di daerah itu tidak mau sekolah, mereka ingin sekali sekolah, namun karena tidak ada guru yang mengajar sehingga sekolah yang berdiri megah itu tak ada gunanya.

Itu dulu, entah apa kabarnya sekarang. Memang pihaknya yang berwenang di kabupaten itu sudah berjanji akan mendatangkan guru bagi anak-anak masyarakat Suku Asli itu. Aku sendiri berharap janji itu tidak tinggal janji, pejabat yang berwenang betul-betul menetapi janjinya dengan mendatangkan guru yang betul-betul ikhlas mengajar dan mengabdi di daerah itu.

Sejatinya pendidikan anak-anak di daerah itu bisa maju, terlebih tak jauh dari desa mereka berdiri beragam perusahaan. Mulai dari perusahaan minyak, perkebunan dan perusahaan yang bergerak di sektor kehutanannya. Akibat minimnya pendidikan anak-anak di daerah ini bisa jadi mereka tidak akan bisa menjadi tuan di rumahnya sendiri.

Mereka hanya bisa melihat hasil kekayaan daerahnya diangkut ke daerah lain, mereka tidak menikmati kekayaan alam yang diberkahi oleh yang maha kuasa dikeruk habis oleh mereka-mereka yang tidak mau tahu dan peduli dengan kehidupan dan pendidikan masyarakat yang bermukim di sekitarnya.

Harusnya pendidikan menjadi kata kunci yang harus menjadi prioritas utama yang diberikan kepada siapapun termasuk kepada anak-anak KAT yang ada di negeri ini. Dengan pendidikan itulah kelak mereka akan menggenggam dunia, dengan pendidikan itulah kelak mereka ‘’menjadi orang’’ dan dengan pendidikan itulah mereka tak ditipu oleh orang-orang yang mengaku berpendidikan.

Lihatlah kehidupan masyarakat KAT yang ada di daerah ini, mereka masih menggantungkan hidupnya pada tauke yang mempekerjakannya. Mereka tidak bisa lari dari kehidupan para tauke, sebab dari tauke inilah mereka bisa mendapatkan segalanya. Secara kasat mata memang demikian, namun kalau ditilik lebih mendalam padah-nya (akibat) cukup merisaukan, mungkin semua kita tahu bagaimana kalau hidup ini bergantung pada tauke.

Bahkan di salah satu desa di Kabupaten Kepulauan Meranti masyarakatnya terpaksa menumpang di tanah miliknya mereka sendiri. Mungkin di luar logika kita, tapi itulah kenyataannya, semuanya karena sistem ber-tauke tadi. Tauke dengan senang hati akan memberi apapun yang dipinta, namun ketika perjanjian membayar sudah pada waktunya tanah dan rumah yang dimilikipun harus tergadai.

Pangkal persoalannya tetap pada pendidikan. Jika pendidikan masyarakat KAT itu sama dengan masyarakat lainnya tentu hal seperti ini tidak akan terjadi. Rendahnya pendidikan mengakibatkan mereka mudah diperdaya dan ditipu oleh orang-orang yang yang tidak berprikemanusiaan.

Begitu pentingnya pendidikan. Dalam ajaran Islam disebutkan tuntutlah ilmu hingga ke liang kubur, artinya selagi masih hidup manusia hendaklah senantiasa mencari dan menimba ilmu, orang yang berilmu akan berpendidikan, orang yang berpendidikan tidak mudah ditipu orang lainnya yang katanya berpendidikan.

Sekarang kewajiban kita saling bantu membantu menolong masyarakat KAT yang ada di daerah ini. Yang tahu memberi tahu kepada yang tidak tahu, yang pandai tolonglah ajar mereka yang tidak pandai, sehingga kelak suatu ketika nanti mereka bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan orang yang berpendidikan. Semoga.***


Gema Setara
Redaktur
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Senin, 19 November 2018 - 15:28 wib

Imaculata Autism Boarding School Beri Award pada Kompol Netty

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Follow Us