Tahun Politik

2 Februari 2014 - 12.20 WIB > Dibaca 1296 kali | Komentar
 
Tahun Politik
Lelaki  paruh baya itu menenteng sekardus kain sarung. Ia membagi-bagikan kain itu kepada warga desanya. Pesannya sederhana. Di kampung itu ada tiga orang yang ikut jadi Caleg tahun ini. Dia minta pilih satu saja agar suara tidak pecah. “Tidak mesti saya, yang lain dipilih juga tak apa yang penting dari kampung kita ini ada wakilnya,” ujar lelaki itu kepada warga. Warga terkesan. Bagaimana mungkin memakai sarungnya tapi memilih yang lain? Rasanya tak mungkin. Lelaki itu pun berlalu.

“Demokrasi itu tidak murah,” ujar seorang Caleg DPR RI bernama Aryo seorang pengusaha di Jakarta sana. Kepada pers yang mewawancarainya ia buka-bukaan soal itu. Di Dapilnya ada 2,8 juta pemilih. Ia menggaji 150 anggota timsesnya sejak April dengan total pengeluaran Rp100 juta per bulan. Belum lagi sosialisasi di sekitar 1.000 RW. Setiap RW dianggarkan Rp500.000 sekali kunjungan. Biaya lain yang harus dikeluarkan untuk mencetak spanduk, baliho, brosur, kaos dan kartu nama.

Aryo juga memiliki pelayanan delapan unit ambulan gratis untuk warga. Biaya pengoperasian Rp5 juta per hari. Dia beli sendiri mobil ambulan Rp135 juta per unit. “Daripada beli Lamborghini lebih baik untuk rakyat,” ujarnya. Total biaya yang dikeluarkannya telah mencapai Rp6 miliar. Ia berupaya agar publik tahu ia serius ingin mewakili mereka.

Meski demikian tidak semua Caleg mengeluarkan modal besar. Biasanya yang sudah terkenal tidak perlu biaya besar. Atau yang sama sekali tak terkenal juga bisa tak perlu biaya besar. Modalnya yang penting usaha dan semuanya terserah nasib. Ada yang cuma modal kartu nama saja. “Semuanya terserah Tuhan. Kalau terpilih syukur tak terpilih ya sudah,” ujar seorang Caleg. Inilah serba-serbi di tahun 2014 yang kerap disebut tahun politik.

Pemilihan Caleg dan juga Presiden jadi agenda besar negeri ini. Menjadi Caleg tentu memiliki tujuan yang mulia. Ingin membawa aspirasi masyarakat dan memperjuangkannya agar bisa-bisa benar direalisasi. Namun tidak semua orang menjadi Caleg bermaksud demikian.

Ada yang karena sudah pensiun tak ada kegiatan lagi tapi tetap ingin eksis makanya lalu ikut nyaleg.  Istilahnya perlu kesibukan. Ada juga yang sudah berlebih uang dan ingin punya andil di kekuasaan. Istilahnya aktualisasi diri. Ada juga yang benar-benar mencintai dunia organisasi dan ingin berkiprah di politik.  

Soal niat merupakan urusan internal masing-masing pribadi dan tidak akan terpantau oleh radar manapun. Soal Caleg menyaleg ini ada anekdotnya Gus Dur yang cukup terkenal. Ceritanya begini. Seorang pemuda baru lulus dari SMA. Karena tidak punya biaya akhirnya dia memutuskan untuk bekerja. Oleh karena itu dia mendatangi pamannya yang salah seorang pengurus partai politik untuk dicarikan kerja. “Paman, tolong carikan saya pekerjaan dong,” pinta pemuda itu. “Wah lulusan SMA ya. Kalo gitu kamu jadi pengurus partai saja,” kata pamannya.

“Enak jadi pengurus partai, nanti kamu bisa jadi anggota DPR, terus jadi ketua DPR/MPR, bahkan jadi wakil presiden atau presiden sekalipun juga bisa,” tambah pamannya semangat. “Wah paman saya nggak mau muluk-muluk, saya minta yang sederhana saja, jadi guru misalnya,” jawab pemuda itu. Pamannya berpikir sebentar kemudian berkata, “Kalau jadi guru SD kamu harus sarjana, Tahu nggak!” bentaknya. Ah namanya juga humor, jangan masuk hati. Setidaknya kini jadi Caleg tidak lagi segampang anekdot itu.***


HELFIZON ASSYAFEI
Wakil Pemimpin Redaksi
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 12:00 wib

4 Kabupaten Masih Terendam Banjir

Selasa, 20 November 2018 - 11:48 wib

Pedagang Pasar Rumbai Minta Pembayaran Kios per Hari

Selasa, 20 November 2018 - 11:27 wib

Haul Marhum Pekan Ingatkan Sejarah Pekanbaru

Selasa, 20 November 2018 - 11:26 wib

AirAsia Pindahkan Penerbangan ke Terminal 2

Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Follow Us