Deo Kayangan, Tradisi Pengobatan dari Okura

2 Februari 2014 - 12.21 WIB > Dibaca 1900 kali | Komentar
 
Bismillahirohmanirrohim
Dondang disayang
Po mokosud kami dipanggil
Po mokosod kami diundang.
Dondang disayang...
Mola kito pogi bejalan
Monyombah juo


Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

PENGGAL syair pembuka dari tari pengobatan Deo Kayangan itu disenandungkan Pak Damai (70) ketika Riau Pos berkunjung di kediamannya Jalan Raja Panjang, Kelurahan Okura Kecamatan Rumbai Pesisir, Selasa (28/1). Sebagai pelaku satu-satunya tari pengobatan tradisional yang asli berasal dari Kelurahan Okura tersebut, Damai memastikan, itulah satu-satunya tarian tradisonal, aset seni budaya yang asli dari Okura.

Tarian ini tidak ada di tempat lain, satu-satunya di Okura inilah, jelas Damai yang juga lebih dikenal namanya oleh penduduk setempat sebagai Pak Tunggal.

Ketibaan Riau Pos sore itu, disambut ramah Pak Damai dan beberapa sanak keluarga di kediamannya. Rumahnya yang berukuran kira-kira 5 x 5 meter itu tampak semrawut karena bertepatan di depan pintu masuknya sedang dibangun perumahan permanen baru, jatah dari walikota. Ini alhamdulilah dapat bantuan dari walikota, sebab rumah awak ni sudah tidak layak huni kata orang-orang tu, ucap Damai sambil mempersilakan masuk.

Duduk di lantai yang hampir sama rata dengan tanah, dinding-dinding tua yang tampak lubang di mana-mana beserta sarang lelaba di sana-sini. Di ruangan itulah tampaknya semua aktivitas keluarga berlangsung, tidur, masak dan berkumpul. Di rumah itulah selama ini Damai hidup bersama dua anak angkatnya yang sudah menikah. Melihat kondisi serupa itu, memang patutlah kiranya Damai mendapat bantuan berupa rumah sederhana dari pemerintah.

Kunjugan ke desa yang kononnya telah ditetapkan sebagai desa wisata itu adalah untuk mengetahui keberadaan tari pengobatan tradisional yang belakangan didapat informasi telah pernah ditampilkan ke bentuk seni pertunjukan dan bahkan sudah pula dijadikan bahan skripsi budaya oleh mahasiswa di beberapa perguruan tinggi yang ada di Riau. Setelah mengetahui hajat tersebut, Damai dengan bersemangat menceritakan segala sesuatu yang berkaitan dengan tarian yang disebut Deo Kayangan itu.

Maksud Deo Kayangan itu dewi kayangan. Anak bidadari mandi di kolam tujuh di syurga, kata Damai memulai cerita. Tarian itu sebenarnya tarian pengobatan untuk sakit-sakit yang yang tak bisa disembuhkan oleh medis seperti kemasukan, guna-guna, sakit kiriman orang dan lainnya yang sebangsa dengan itu. Inikan untuk membantu orang saja. Bukan pakai jin, bukan setan tapi pakai syeikh. Semua penyakit itu ada obatnya dan semua ini berkat pertolongan Allah semuanya, jelas Damai.

Lelaki yang mengaku menghabiskan masa mudanya di rantauan itu juga menjelaskan tari pengobatan itu tidak didapat dari keturunan ataupun berguru. Murni dari dirinya sendiri yang diperoleh melalui mimpi tepat pada malam Jumat Kliwon. Ketika itu umurnya masih 30-an. Dah berapa lama itu? Sekarang umur saya sudah 70 tahun. Maaf dulu nak, bukan nak menyombongkan diri, tapi Alhamdulillah, sudah macam-macam penyakit disembuhkan melalui pengobatan ini, jelasnya.

Mengobati orang dengan tarian tradisonal itu telah dilakoni Damai puluhan tahun. Berkat itulah, beliau sudah sampai ke mana-mana dan sudah banyak pula kenalannya. Berbagai penyakit telah pernah disembuhkan, bahkan katanya pernah pula mengobati orang gila yang sudah dipasung. Bukan dibuat-buat, kita meminta dari Allah. Penyakit dari Dia, kita minta penyembuhan dari Dia juga, kata Damai lagi sembari menceritakan pengalaman lainnya selama mengobati orang dengan menggunakan tari tradisional tersebut.

Ketika pembicaraan menjurus kepada bentuk tarian pengobatan tersebut, Damai mneyebutkan selama melakukan proses ritual pengobatan, Damai tidak sendiri. Ia ditemani oleh dua orang pemain gendang. Gendang tersebut tidak sembarang pukul atau berbunyi, ada tengkah dan aturannya. Ada tiga macam jenis nama tengkahnya seperti yang dikatakan Damai, yakni pola botino, pola jantan dan pola anak. Kesemua pola itu harus sejalan pula dengan rentak senandung yang dilagukan dan hentak kaki si Damai yang apabila telah memulai proses pengobatan itu biasanya dipanggil Datuk Pleno. Jadi kalau sudah masuk Syeikh tu, saya dipanggil Datuk Pleno. Bukan Pak Damai atau Tunggal lagi. Tidak juga dukun atau bomo. Sebab kalau dipanggil dukun bisa bahaya. Orang kan ramai, nanti bisa diuji pula saya, siapa yang mau tahu, katanya kemudian.

Damai juga menjelaskan bahwa rentak gendang, senandung, dan hentak kaki sewaktu menjalani proses ritual tidak boleh salah atau tidak seirama karena rentak itulah yang menjadi jalan menuju ke penyatuan dengan syeikh. Jikalau salah, hal itu bisa membahayakan dirinya sebagai pengobat maupun si orang yang sakit. Kalau dalam pandangan saya ketika sudah mulai memanggil syeikh, rentak gendang, senandung dan hentak kaki itu sejalan dengan kecipak tujuh dewi kayangan yang sedang mandi di tujuh telaga di syurga, sama semuanya tu, jelas Damai sembari menirukan gerak dan bunyi kecipak air orang yang sedang mandi.

Selain itu, ada beberapa alat atau properti yang digunakan dalam proses ritual pengobatan tersebut.  diantaranya adalah mayang pinang yang masih berbungkus atau belum pecah. Ini digunakan untuk melihat penyakit yang ada dalam diri orang yang sakit. Kata Damai, kalau sudah lama penyakitnya, atau pendek umur orang yang sakit maka ketika pinang dipecahkan, mayang pinang akan berbau busuk tapi kalau umur si orang sakit masih panjang dan penyakitnya baru diidap, mayang pinang tersebut akan tercium harum.

Perkakas lainnya adalah bunga tujuh macam sesuai pula dengan jumlah dewi kayangan. Limau obat, lilin lebah, beras putih, padi dan kemenyan. Damai juga membutuhkan selendang putih atau kain putih berukuran dua meter yang akan digunakannya ketika menari dan juga sebagai penghisap penyakit yang berada di dalam tubuh orang yang akan diobati.

Ketika mengobat itu, saya harus berpakaian serba hitam, samalah dengan baju teluk belango Melayu. Kemudian sehelai selendang putih yang akan saya gunakan untuk berselubung sambil menari-nari sesuai dengan rentak gendang dan senandung serta penglihatan saya, katanya lagi sembari menambahkan tarian itu sifatnya spontan tak bisa diajar-ajar atau dibuat-buat sebab yang menari itu bukanlah dirinya lagi tetapi syeikh yang memasuki tubuhnya. Adakalanya gerakan itu sampai terguling-guling atau bahkan melonjak-lonjak sampai ke atas bubung rumah.

Setelah lengkap semua alat dan pelakunya, barulah dimulai prosesi pengobatan dengan menggunakan tari deo kayangan tersebut. Diawali dengan pemukulan gendang, sesaat berikutnya Damai yang sudah disebut Datuk Pleno akan melantunkan lagu deo kayangan sembari menari dengan menggunakan selendang putih. Ia akan berputar-putar di sekitaran orang sakit yang juga harus berada di tempat melakukan proses pengobatan tersebut. Sampailah kemudian Datuk Pleno menemukan isyarat atau pertanda atas penyakit yang diderita si pesakit.

Waktunya tak bisa dipastikan berapa lama, bisa saja satu malam suntuk. Tergantung penyakit yang dideritalah. Kalau sakitnya berat, lama pula proses pengobatannya tapi kalau sakitnya tidak terlalu berat, tidak begitu lama juga pengobatannya. Tapi yang perlu diingat, nak main dengan syeikh ini kita tidak boleh meninggalkan salat lima waktu, itu yang terpenting, katanya kemudian mengingatkan.

Terkait dengan niat untuk menurunkan kemampuannya itu, Damai menyebutkan tidak semudah yang dipikirkan karena menyangkut dengan bakat dan kehendak. Kemudian lagi, tidak sembarang orang pula yang bisa menguasai kebolehannya itu. Ada tesnya juga, jawabnya singkat.

Tapi menurut salah seorang anak tiri Damai, Fitri mengatakan kemungkinan kebolehan bapaknya itu akan diikuti oleh salah seroang cucu Damai yang masih saat ini masih kecil karena selama ini dilihatnya setiap kali Damai melakukan pementasan, cucunya itu sangat senang dan gemar sekali menonton. Tak boleh terlambat kalau tahu, datuknya hendak tampil, kata Fitri.

Dari Ritual ke Panggung  
Perubahan bentuk atau peralihan media tempat bermain dari tarian pengobatan ke panggung pertunjukan, baru dilakukan dan diterima oleh Damai sekitar pertengahan 2013 yang lalu. Ketika itu diceritakannya ada acara wali kota di tepian Sungai Siak. Banyak tetua kampung yang meminta supaya ditampilkan. Pengulu yang meminta saya untuk menampilkan tari ritual pengobatan itu di hadapan penonton karena katanya pak wali akan turun menyaksikan. Itulah baru pertama saya setuju, kata Damai.

Yang kedua, dipentaskan di lapangan poli di kantor lurah. Kata Damai ramai sekali yang nonton waktu itu. Tak lama lagi pertunjukan tari Deo Kayangan akan dipentaskan di hadapan 150 mahasiswa yang akan datang ke kelurahan Okura. Damai juga menyebutkan setelah itu, akan datang pula tetamu dari Malaysia dan dia juga diminta untuk tampil membawakan tari pengobatan tradisional yang telah diubah sesuai menjadi pertunjukan seni versi Damai. Sudah diumumkan kepada msayarakat hal itu, katanya.

Semula, katanya agak kurang setuju juga apabila tarian itu dipentaskan dan disaksikan oleh orang banyak sebab tarian itu  merupakan tarian pengobatan. Tetapi setelah ada permintaan dan juga pernyataan dari anak angkatnya bahwa tarian tersebut merupakan budaya tradisi yang ada di kelurahan Okura, barulah kemudian Damai bisa terima. Awak bukan tidak mau tetapi tarian inikan pakai syeikh. Cuma setelah saya pikir, bisa ditampilkan dengan beberapa syarat diantaranya tidak memasukkan syeikh ke dalam tubuh saya dan pelaksanaannya tidak usah terlalu lama, jelas Damai.

Keberatannya untuk ditampilan di hadapan khalayak memang sangat berasalan karena menurut Damai dan pengakuan anak tirinya yang bernama Fitri adalah kalau sudah Syeikh itu masuk ke dalam tubuh Damai, akan sulit dikendalikan. Kata Fitri pernah suatu waktu dulu, Bapak tirinya itu sedang melakukan kegiatan pengobatan dan mendapat cemeehan dari beberapa orang, kontan ketika itu juga Pak Damai yang tubuhnya sudah menyatu dengan syeikh langsung mengamuk.  

Sepuluh orang memegangnya pun tak sanggup. Pernah juga Bapak mengamuk di kampung ini sampai mencabut batang pisang dan bahkan pohon pinang yang sudah besar dicabutnya hanya dengan tangan kiri, kenang Fitri.

Tapi kemudian, kata Damai selain tidak memasukkan syeikh ke dalam dirinya, kalau hanya untuk kepentingan pementasan atau penampilan tak perlu juga memakai perkakas yang telah disebutkan tadi. Cukup selendang putih dan dua orang pemain gendang saja. Kalau pun mau dihadirkan orang sakitnya, bisa juga tapi orang yang pura-pura sakit saja. Dan waktunya tak perlu lama, sekitar 10 menit jadilah sebab kalau diperturut bisa satu malam suntuk, dari selesai maghrib, ha sampai menjelang subuh, jelas Damai.

Dua Kali Pentas Tak Dibayar
Deo Kayangan dalam kontek ritual pengobatan, Damai sebagai pelakunya tidak pernah mengenakan berapa biaya atas pertolongannya itu karena menurutnya apa yang dilakukan adalah bertujuan membantu bukan semata-mata mencari duit. Dia juga tidak mau dinilai sebagai dukun atau bomo kebanyakan yang belum apa-apa sudah minta ini dan itu. Tak pernah saya meminta berapa bayaran saya, pantang bagi saya hal itu. Kalau ada orang kasi kita terima, kalau tidak kita pun tetap bersyukur, kata Damai.

Tetapi kemudian mendengar cerita Damai selanjutnya hati sedikit miris karena terkait dengan pementasan Deo Kayangan di hadapan penonton sebagai hiburan atau dalam konteks seni pertunjukan yang telah dilakukannya 2 kali tidak pernah mendapat bayaran sepersen pun dari penyelenggara acara. Belum pernah awak dibayar lagi kalau sudah main. Sudah dua kali malahan. Ada kadang air minum pun tak dapat, kata Damai pula.

Katanya lagi, sebagai orang yang sudah tua, beliau tidak terlalu mempersoalkan hal itu hanya saja terkadang menjadi malu pula dia dengan dua orang pemukul gendang yang membantunya itu tambah pula gendang yang digunakan masih meminjam sana, meminjam sini. Tapi kadang-kadang sakit pula telinga ni mendengar cerita orang. Kata mereka kenyanglah yang melaksanakan acara sementara yang tampil tak pernah dihargai, ucap Damai meniru ucapan orang-orang.

Fitri yang tampaknya lebih memahami hal itu membenarkan apa yang disampaikan Damai. Katanya, korupsi tidak hanya terjadi di kota-kota bahkan orang-orang kampung pun sudah pandai korupsi. Lebih jauh diceritakan Fitri, tidak hanya persoalan bayaran untuk tampilan, di kampungnya itu, sudah berkali-kali didengarnya mendapat bantuan terutama untuk alat-alat musik tradisi serta kostum-kostum untuk kesenian tetapi bantuan tersebut tidak pernah sampai ke orang-orang yang berhak menerimanya.

Sudah sering didengar masalah bantuan-bantuan seperti itu bang tapi tapi herannya entah kemana pergi barangnya. Contohnya Bapak ni, sudah sekian lama berharap bantuan gendang tapi sampai sekarang tak pernah sampai-sampai ke tangannya, ujar Fitri.

Damai yang semula diam kemudian mengatakan bahwa dia tidak pula meminta-minta tapi jika memang apa yang dimilikinya saat ini, Tari Deo Kayangan adalah merupakan salah satu kekayaan seni tradisi yang perlu untuk dilestarikan setidaknya pikirkanlah bersama-sama. Saya meminjam alat-alat, membawa kawan-kawan atau anggota, menghabiskan waktu untuk menghiburkan orang. Kadang macam orang menangkap burung pula, saat hendak menangkap bukan main lagi usahanya tapi bila tak diperlukan, dilepaskan begitu saja, ungkap orang tua yang merupakan suku Melayu Gasib peranakan Siak itu.

Damai juga tidak berharap banyak untuk saat ini. Yang jelas katanya, dapat bantuan berupa gendang dan pakaian untuk tampil  jadilah. Kadang meminjam barang orang ini, sesekali bolehlah tapi kalau sudah tiap saat meminjam, malu juga muka ni. Kalau masalah pakaian, untuk tampil tu, kalau memakai seragam warna hitam semuanya kan menarik juga dipandang mata, ya kan? ungkap Damai.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 26 September 2018 - 10:30 wib

66 Orang Terjaring Razia Malam

Rabu, 26 September 2018 - 10:28 wib

Terpantau CCTv, Maling Dihajar Pegawai Pemprov

Rabu, 26 September 2018 - 10:25 wib

KTP Luar Pekanbaru Bisa Ikut

Rabu, 26 September 2018 - 10:15 wib

STIKes Hang Tuah-FAI UIR Jalin Kerja Sama

Rabu, 26 September 2018 - 10:06 wib

STIKes-STMIK Hang Tuah Tuan Rumah Festival Paduan Suara Se-Riau

Rabu, 26 September 2018 - 10:04 wib

Kurangi Kegiatan Seremonial

Rabu, 26 September 2018 - 10:04 wib

Wako Persilakan Penegak Hukum Melakukan Pengusutan

Rabu, 26 September 2018 - 10:03 wib

UAS Dijadwalkan Luncurkan ATM Beras

Follow Us