Upaya Mencari Pemimpin Mampu di Era Demokrasi

Jumat, 05 Mei 2017 - 11:47 WIB > Dibaca 1472 kali | Komentar

Dia tampak sering gelisah. Terutama di dua tahun terakhir masa kepresidenannya. Jenderal TNI Prof Dr Susilo Bambang Yudhoyono berpikir dan terus berpikir. Terutama mengenai masa depan Indonesia. Lebih khusus lagi mengenai nasib kesinambungan kepemimpinan nasional.

Dalam bahasa blak-blakan saya: Siapa presiden setelah dia? Mampukah si pengganti melanjutkan capaian kemajuan yang dia peroleh selama dua periode kepresidenannya? Bisakah sistem demokrasi saat ini menghasilkan pemimpin yang menjamin kemajuan negara? Dan seterusnya.

Di alam demokrasi seperti ini, siapa yang lebih disukai akan lebih memungkinkan dipilih daripada siapa yang lebih mampu. Ini karena suara seorang penjambret bus

kota sama nilainya dengan suara seorang profesor atau doktor.

Kegelisahan SBY itu, menurut pengamatan saya, dilatarbelakangi beberapa hal. Mungkin pengamatan saya ini tidak tepat. Jawaban yang paling tepat tentu akan datang dari SBY sendiri. Misalnya, bila suatu saat nanti Presiden SBY menulis memoar dan jangan lupa mengupas soal ini. Namun, karena saat itu saya termasuk salah satu menteri kabinetnya yang di pos yang secara ekonomi cukup penting, rasanya pengamatan saya ini tidak akan terlalu meleset.

Pertama, SBY tampak gelisah karena sampai saat itu belum muncul nama calon penggantinya yang lebih mampu dari dia. Bahkan setara pun tidak. Di antara nama yang beredar luas di masyarakat saat itu barulah sebatas orang yang memenuhi kriteria disukai. Dia populer. Dan memang orangnya sederhana. Tetapi, saat itu dia belum memiliki track record yang hebat. Terutama untuk satu beban tugas berat secara nasional.

Kedua, Presiden SBY merasa selama kepemimpinannya, Indonesia mengalami kemajuan yang sangat besar. Dalam kurun yang panjang. Selama dua periode kepemimpinannya. Terutama di bidang ekonomi, stabilitas, dan kesejahteraan.

Di zamannyalah Indonesia berhasil masuk kelompok negara G-20. Besaran ekonomi Indonesia masuk 16 besar dunia. Pendapatan per kapitanya mencapai 4.500 dolar. Dan seterusnya. Tentu masih banyak alasan lainnya. Kalau mau, saya bisa membuat daftar sampai 10 alasan. Tapi, dua itulah yang saya catat yang paling utama.

Kegelisahan mengenai siapa yang bakal meneruskannya itu didasari pada logika berpikir SBY yang kuat. Presiden SBY sering mengemukakan logika begini: ’’Dalam sistem demokrasi seperti ini, orang yang mampu belum tentu terpilih dan orang yang terpilih belum tentu mampu’’.

Kalau sampai itu yang terjadi, maka negara yang jadi korban. Demokrasi sebagai alat memajukan negara hanya berhenti sampai di alat. Tapi, SBY sangat komit pada demokrasi. Meskipun ada logika ’’yang mampu belum tentu terpilih dan yang terpilih belum tentu mampu’’, demokrasi tidak boleh dibunuh. Sebaliknya harus juga diupayakan jangan sampai muncul ketidakpercayaan pada demokrasi akibat ’’yang mampu tidak terpilih, yang terpilih tidak mampu’’.

Masih ada waktu, waktu itu. Presiden SBY terus mengamati perkembangan di masyarakat dengan harap-harap cemas. Akankah akhirnya muncul bakal calon yang dinilai mampu dan punya kans untuk terpilih? Diikutinya situasi politik dari waktu ke waktu. Ternyata, belum juga muncul nama yang memasuki kriteria ’’mampu dan bisa terpilih’’. Yang beredar saat itu masih terus saja ’’populer tapi belum tentu mampu’’.

Kalau sampai Indonesia jatuh ke tangan ’’populer tapi belum tentu mampu’’, Presiden SBY seperti harus ikut bertanggung jawab. Terutama kalau kelak, setelah dia lengser, Indonesia mengalami kemunduran. Bisa ada penilaian bahwa dia kurang negarawan. Tidak berpikir strategis untuk masa depan bangsanya.

Dari pikiran merasa ikut bertanggung jawab itulah rupanya muncul idenya yang brilian: Mencari orang yang mampu biarpun orang itu belum populer. Dasar berpikirnya: Untuk bisa populer masih bisa dibuat. Tapi untuk bisa ’’mampu’’ tidak bisa mendadak mampu. Sebagian besar orang memang akan bisa mampu. Tapi, proses untuk menjadi mampu itu ada yang cepat dan ada pula yang lambat. Negara sedapat mungkin tidak menjadi taruhan tempat meningkatkan kemampuan seseorang.

SBY termasuk yang berpendapat harus ada mekanisme tertentu untuk membuat orang yang mampu menjadi populer. Dan akhirnya bisa terpilih. Banyak orang mampu yang sengaja tidak ingin populer. Menjadi populer punya risikonya sendiri: bisa menjadi sasaran angin topan.(*/bersambung)

KOMENTAR
BERITA TERBARU
Dua Perwira Polres Sertijab

Dua Perwira Polres Sertijab

18 Januari 2018 - 12:46 WIB
Lestarikan Identitas Melayu Siak

Lestarikan Identitas Melayu Siak

18 Januari 2018 - 12:44 WIB
Pertukaran Pelajar  MAN 1 Pekanbaru- Attarkiah Narathiwat Thailand 

Pertukaran Pelajar MAN 1 Pekanbaru- Attarkiah Narathiwat Thailand 

18 Januari 2018 - 12:24 WIB
Fokus Tuntaskan Pembelian Sukhoi

Fokus Tuntaskan Pembelian Sukhoi

18 Januari 2018 - 11:55 WIB
Cagar Budaya Mempura Dibangun

Cagar Budaya Mempura Dibangun

18 Januari 2018 - 11:23 WIB
Tes Kesehatan Lulus, LHKPN Di-Deadline

Tes Kesehatan Lulus, LHKPN Di-Deadline

18 Januari 2018 - 11:11 WIB
Bergandengan Tangan untuk Kejayaan

Bergandengan Tangan untuk Kejayaan

18 Januari 2018 - 11:08 WIB
Jokowi Izinkan Airlangga Rangkap Jabatan

Jokowi Izinkan Airlangga Rangkap Jabatan

18 Januari 2018 - 11:04 WIB
BERITA POPULER
Hiii... Ada Ular Piton Jatuh dari Plafon saat Tertidur Pulas

Hiii... Ada Ular Piton Jatuh dari Plafon saat Tertidur Pulas

18 Jan 2018 - 00:02 WIB | 5102 Klik
Ihsan Berhasil Membuat Lin Dan Takluk

Ihsan Berhasil Membuat Lin Dan Takluk

18 Jan 2018 - 00:59 WIB | 527 Klik
Iran Tuding Arab Saudi Pengkhianat Umat Islam

Iran Tuding Arab Saudi Pengkhianat Umat Islam

18 Jan 2018 - 00:34 WIB | 502 Klik
Ditanya soal Aduan Farhat Abbas, Nikita: Tidak Penting

Ditanya soal Aduan Farhat Abbas, Nikita: Tidak Penting

18 Jan 2018 - 00:18 WIB | 319 Klik
2017 Tumbuh 20,1 Persen, BNI Catat Laba Bersih Rp13,62 Triliun

2017 Tumbuh 20,1 Persen, BNI Catat Laba Bersih Rp13,62 Triliun

18 Jan 2018 - 00:09 WIB | 271 Klik

Follow Us