Muatan Lokal Pemantap Jati Diri

9 Februari 2014 - 09.04 WIB > Dibaca 3690 kali | Komentar
 
Sebagai negeri berbudaya, Riau perlu melakukan berbagai upaya untuk mewariskannya kepada generasi muda, salah satunya melalui bidang pendidikan. Wawasan berkebudayaan tersebut diharapkan menjadi filter (penyaring) bagi generasi muda untuk menghadapi gempuran budaya asing yang semakin menggila.   

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

GENERASI muda di Riau sebagai penerus bangsa harus dibekali dengan wawasan berkebudayaan, dalam hal ini budaya Melayu sebagai identitas diri. Untuk itu diperlukan kerja keras dan perjuangan tanpa pamrih dari berbagai pihak -yang secara sadar- peduli pada hal tersebut. Upaya itu bisa dimulai dari bidang pendidikan, melalui kurikulum di sekolah dengan pelajaran muatan lokal (mulok).

Kurikulum 2013 lalu misalnya, telah diujicoba namun pelajaran muatan lokal tidak  diajarkan secara mendalam. Hal ini disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Dr Junaidi SS MHum yang juga berperan sebagai penyusun perda penyelenggaraan pendidikan di Riau. Dikatakannya peraturan daerah (Perda) mulok sudah disahkan DPRD Riau, bahkan dalam satu pasalnya, Riau sepakat mulok tetap diajarkan mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas.

Inilah yang kita perjuangkan. Pembelajaran muatan lokal di setiap sekolah seharusnya tahun ajaran baru nanti sudah dijalankan. Tetapi persoalannya sekarang perda itu harus diturunkan dulu menjadi pergub karena perda hanya mengatur yang umum saja. Sedangkan langkah selajutnya, pergub-lah yang menentukan, bagaimana teknis pelaksanaan sampai kepada cakupan materi, jam dan lain sebagainya, jelas Junaidi.

Junaidi khawatir, muatan lokal versi pemerintah pusat bisa diintegrasikan dengan beberapa mata pelajaran lainnya seperti seni budaya, eksrtakurikuler pramuka dan lain sebagainya. Khusus di Riau, harusnya mata pelajaran mulok harus berdiri sendiri dengan konsep mengedepankan nilai-nilai ke-melayu-an di dalam mata pelajaran, kata Junaidi.

Di beberapa sekolah yang dipantau Riau Pos, terutama sekolah yang sedang melakukan ujicoba kurikulum 2013, keberadaan mata pelajaran mulok sejauh ini berjalan menurut versi masing-masing. Untuk kelas X, mata pelajaran mulok diterapkan dengan memakai ketentuan dari pusat yaitu prakarya dan kewirausahan yang terdiri dari empat pilihan; rekaya, pengolahan, kerajinan dan budidaya. Di samping itu, ada juga yang mengintegrasikan mata pelajaran mulok dengan seni budaya.
 
Salah seorang guru yang mengajar mata pelajaran mulok, Dra Bayni, Mpd menyebutkan, dia tetap melaksanakan ketentuan yang ditetapkan pusat karena memang demikianlah yang didapat. Hal itu berlaku untuk kelas X. Jadi dari keempat pilihan itu, kami menerapkan mulok ke budidaya. Sementara itu untuk kelas XI dan XII, kita tetap memakai kurikulum lama. Apalagi sekolah kami termasuk sekolah pendidikan keunggulan lokal. Jadi kami angkat tentang budaya Melayu seperti seni ukir, masak, dan kesenian Melayu lainnya, jelas Bayni.

Sementara itu, salah seorang guru seni budaya Ekky menyebutkan muatan lokal tidaklah sesempit yang dipahami. Tidak hanya sebatas masak memasak atau kerajinan ringan lainnya. Yang terpenting mengajarkan nilai-nilai budaya setempat. Makanya dalam mengajar mata pelajaran mulok, dia lebih berinisiatif sendiri. Saya bawa anak-anak didik ke museum, mengenalkan mereka dengan nilai-nilai budaya dan sejarah yang tersimpan di sana. Saya kira itu jauh lebih penting ketimbang hanya keterampilan membuat asbak rokok, sapu tangan, masak-memasak, terangnya.

Baik Ekky maupun Bayni setuju jika mata pelajaran mulok di Riau segera ditetapkan. Kedua guru sekolah menengah atas itu berharap mata pelajaran mulok tetap berdiri sendiri dengan mengangkat budaya Melayu.

Penting sekali, di zaman ini kita memberikan pemahaman kebudayaan pada murid. Secara pribadi saya tetap mendukung mulok fokus mempelajari nilai-nilai budaya kita. Mau tidak mau kita harus menunjukkan eksistensi kita, pelajaran apa lagi kalau tidak pelajaran mulok yang mempelajari budaya-budaya kita. Justru itulah yang kami inginkan sebagai tenaga pendidik, kata Bayni.

Perhatian Khusus
Budayawan Riau Al azhar menyebut, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam memberikan mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah. Ketiga hal itu antara lain kebiasaan berpola atau disebut dengan tradisi, lalu karya budaya seperti syair, gurindam, musik atau karya-karya lain yang bersifat etnologis serta nilai.

Ketiga hal itulah menurut Al Azhar perlu diperhatikan karena selama ini, khusus di kurikulum sebelumnya mata pelajaran mulok kebanyakan hanya pada karya dan tradisi. Nilai-nilai hakiki yang bersifat abstrak itu tidak dicuatkan, tidak munculkan di dalam muatan lokal. Nilai dari kebudayaan itu bisa lebih ditonjolkan, kata Al Azhar.

Muatan lokal tidak hanya bicara pada tataran ekspresi seni budaya, atau bentuk seni tradisi tapi nilai-nilai apakah yang terkandung dari karya dan tradisi yang ada. Dicontohkannya, seperti syair itu ada kandungan nilainya, begitu juga dengan upacara turun mandi. Dengan demikian, Melayu dan ke-melayu-an itu utuh diintegratif pada tingkat pemahaman peserta didik, jelasnya.

Al azhar yang juga Ketua Harian Lembaga Adat Melayu Riau menambahkan, posisi muatan lokal itu di dalam kurikulum 2013 yang akan dipraktekkan di Riau masih belum jelas. Dalam perda pendidikan yang sudah disahkan, ada menyebut dalam salah satu pasal secara eksplisit yakni satu mata pelajaran yang disebut muatan lokal tetapi pergub sebagai aturan-aturan pelaksanaan dari perda itu belum terbit. Nah, kita menggesa agar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Riau segera menyelesaikan pergub yang merupakan penjabaran dari pelaksanaan dari perda ini, katanya menegaskan.  
 
Setelah di perdakan, selanjutnya harus digesa juga persiapan untuk mengaktualisasikan hal itu karena bagaimanapun juga dari materi KTSP dan 2013 akan ada perubahan yaitu terkait dengan tambahan nilai-nilai. Oleh karena itu, pemangku kepentingan semestinya cepat-cepat bergegas agar pada tahun ajaran 2014-2015 sosok atau wujud dari muatan lokal budaya Melayu Riau ini sudah nampak dan bisa terlaksana sebagaimana mestinya.

Namun persoalannya tidak selesai sebatas itu saja, akan ada pula tantangan yang lainnya yakni kurang atau bahkan tidak ada guru yang spesifik untuk mengajar mata pelajaran bersangkutan. Satu-satunya jalan menurutnya adalah dengan merekrut atau untuk sementara guru-guru yang ada selama ini di-upgred dan dimajukan kemampuan dan keahliannya dalam mata pelajaran muatan lokal ini.

Jangan malah dijadikan komponen pinggiran saja seperti kabar yang saya dengar. Guru yang mengajar muatan lokal itu tidak terhitung dalam beban kerja sertifikasi. Ini harus diurus. Bahwa yang mengajar muatan lokal itu, bukanlah eks guru, tapi ia sebagai keperluan sama dengan guru-guru mata pelajaran yang lain, katanya lagi.

Disebutnya, di Riau guru-guru muatan lokal merupakan front liner, barisan terdepan untuk melestarikan budaya Melayu. Memberikan pengalaman dan pemahaman kepada peserta didik tentang nilai-nilai budaya Melayu yang mana anak-anak sekolah adalah yang menjadi ujung tombak pewarisan. Bagaimana mungkin, orang-orang yang berjuang untuk mewariskan Melayu itu dianggap komponen pinggiran saja di sekolah. Kita tidak menginginkan hal itu terjadi, ucapnya.

Untuk itulah pihak-pihak berkaitan harus membantu bagi pejuang kebudayaan itu untuk mendapatkan penghargaan yang setimpal dan layak. Minimal sama dengan rekan-rekan yang lain. Sedangkan kepada lembaga-lembaga pendidikan tinggi keguruan atau kependidikan yang ada di Riau ini hendaknya memberikan perhatian yang lebih terhadap keperluan akan adanya pembekalan muatan lokal bagi mahasiswa-mahasiwa di lembaga perguruan tersebut. Khusus untuk perguruan tinggi non pendidikan, tapi berkaitan dengan kebudayaan seperti misalnya Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) dan Fakultas Ilmu Budaya Unilak kiranya juga dapat mengakomodir persoalan-persoalan pewarisan budaya Melayu itu.

Ruang Khusus
Sastrawan Riau, Taufik Ikram Jamil mengatakan pelajaran muatan lokal budaya Melayu di sekolah-sekolah di Riau ini untuk memberi ruang secara khusus kepada budaya tempatan agar dipelajari, dipahami, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu penting di tengah gelombang kesejagatan (globalisasi) yang pada sisi lain sebenarnya makin menuntut pemantapan jati diri.

Sebagaimana diungkapkan sejumlah pakar masa depan atau futuristik, manusia dalam era globalisasi justru mendambakan jati diri. Baik di dalam maupun di luar dirinya yang justru secara kreatif dapat disediakan oleh budaya tradisi melalui seni serta kerafiran tempatan. Jadi mengetengahkan budaya Melayu Riau, pada hakikatnya sebagai salah satu upaya memuliakan manusia secara umum, katanya.

Menurutnya, muatan tempatan itu banyak sekali. Itu makanya diperlukan sebuah kebijakan dari instansi terkait untuk menetapkan muatan tempatan seperti apa yang hendak dipelajari oleh siswa di sekolah. Keterampilan, masak memasak, membuat sapu lidi juga merupakan budaya tempatan. Di sinilah perlunya arahan dan ketentuan yang jelas itu, ucapnya.

Pada mata pelajaran muatan lokal di Riau dari berbagai pilihan, hendaknya budaya dan nilai-nilai kemelayuan itu yang perlu diutamakan. Hal itu menjadi penting karena di abad ke 21 ini adalah abad agama dan budaya tempatan. Dua hal Itulah yang memberikan identitas pada manusia.

Identitas juga diperlukan untuk membedakan manusia dengan binatang. Terlebih, yang mampu dan merespon visi dan misi Riau 2020, di mana Riau sebagai pusat budaya Melayu di bentangan Asia Tenggara.  

Persolaan budaya cukup besar pada hari ini. Belum lagi informasi dari luar begitu banyak. Sekarang belasan tayangan televisi yang masuk. Memang semuanya dikatakan budaya Indonesia tapi menurut Taufik, budaya asing telah mencekoki itu semua. Bahkan menurut komisi penyiaran beberapa tahun lalu, 90 persen siaran di Indonesia ini mengadung pornografi.

Kalau dikaji-kaji lagi, ternyata pendidikan di Indonesia ini meniru cara-cara Barat. Ada satu peneltian menunjukkan kebebasan seks di Amerika disebabkan bukan hanya pornografi tetapi dari awal anak-anak sudah dididik dengan cara menggabungkan lelaki dan perempuan satu lokal. Nah, mereka di Barat sudah mulai menyadari itu dan memisahkannya antara lokal laki-laki dan perempuan, jelasnya.

Hal lain yang menjadikan mulok sangat penting dipelajari pada tingkat sekolah karena kalau tidak orang Riau ini yang mempelajari, siapa lagi yang akan mempelajarinya. Dicontohkan Taufik misalnya Perguruan Tinggi programnya sudah lokal. Begitu juga dengan perguruan tinggi seni yang ada di Indoensia seperti ISI Padangpanjang, IKJ, ISI Jogjakarta. Mereka sudah dari dulu mempelajari dan menggali potensi-potensi tempatan mereka, ucap Taufik sembari menambahkan mengajarkan budaya lokal itu wajib hukumnya sesuai dengan undang-undang pendidikan.

Memang kemudian, diakuinya, bukan hanya di Riau tapi di Indonesia, hal-hal yang bersifat humaniora semua diaggap tiri. Hal itu dapat terlihat, tidak adanya dan tidak pernah dilakukan olimpiade sastra. Kesenian itu memang dianak-tirikan padahal itu penting, setelah agama, itu yang paling penting, kata Taufik tegas.

Diceritakannya, ketika mendatangi beberapa sekolah, pihak sekolah menyebut tidak perlu belajar budaya Melayu. Padahal dalam undang-undang pendidikan semua itu telah ditetapkan sebagai sebuah kewajiban, kalau pun mau diintegrasikan seharusnya tetap budaya Melayu Riau. Pengalaman lainnya, saat Taufik mendatangi satu kampung bernama Mekarsari. Rata-rata penduduk di sana suku Jawa. Tapi kata Taufik mereka semua sangat ingin sekali mempelajari kebudayaan Melayu karena mereka menyadari lahir, tinggal dan besar di tanah Melayu tetapi persoalannya adalah kurangnya informasi mengenai budaya Melayu itu sendiri.

Akhirnya dengan sangat miris saya menjawab. Jangankan bapak, kami orang Melayu saja tidak diMelayukan, untung ada film upin dan ipin. Artinya, dari contoh inilah membuktikan bahwa informasi tentang Melayu Riau itu kurang. Inikan menjadi jelas bahwa betapa pentingnya mata pelajaran mulok itu. Sebuah langkah paling tepat dalam upaya mewarisi nilai-nilai budaya Melayu Riau, tutup Taufik Ikram Jamil yang juga pernah menyusun buku yang berjudul Ikhtisar Budaya Melayu Riau yang digunakan untuk keperluan pembelajaran muatan lokal berdasarkan kurikulum 2010.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Follow Us