Menjaga Harmoni

9 Februari 2014 - 09.09 WIB > Dibaca 1400 kali | Komentar
 
Menjaga Harmoni
Bahasa kita cerminan dari kultur, watak, dan jiwa kita. Sistem pengetahuan kita pun bisa diketahui dari bahasa yang kita pergunakan sehari-hari. Itu sebabnya, kita selalu berusaha menjaga harmoni dalam berbahasa. Menjaga harmoni, bahkan, sering menjadi tujuan utama berbahasa. Tujuan selanjutnya adalah komunikasi.

Kebiasaan menjaga harmoni dalam berbahasa lebih dikenal sebagai tata krama berbahasa. Tata krama berbahasa adalah watak kultural, nilai-nilai budaya yang diterima sebagai warisan dari leluhur budaya. Sebagai warisan, tata karma lebih banyak dikaitkan dengan urusan menjaga hubungan sosial dalam dinamika kehidupan.  

Pada komunitas budaya tertentu, tata krama berbahasa ini melahirkan tingkatan-tingkatan sosial (kelas sosial). Sebut saja dalam budaya Jawa. Di samping miliki tingkatan yang jelas dan tegas: bentuk ngoko/krama ‘kasar/halus’, bahasa Jawa juga memiliki “bahasa pasaran”, bahasa yang biasa dipakai di lingkungan masyarakat kelas sosial lapis bawah. Bahasa Jawa jenis ini dianggap tak baik dan tak sopan jika dipergunakan dalam lingkungan kraton. Implikasinya, orang Jawa yang berasal dari lapis sosial paling bawah, konon, tak akan punya keberanian untuk mengekspresikan diri di hadapan kaum ningrat.

Agus Sri Danardana dalam “Bahasa Perilaku” (Riau Pos, 19 Januari 2014) mengupas perkara perilaku berbahasa seperti itu dengan sangat bagus. Tulisan ini akan mencoba melihat sisi lainnya, yakni keterkaitan antara (menjaga) harmoni berbahasa dan (kelahiran) generasi bangsa berwatak sungkan.

Sungkan sepadan dengan ‘merasa tidak enak, tidak pantas, atau tidak sopan’.  Perasaan seperti itu mendorong orang bersikap “tidak tegas” (karena selalu bersepakat) terhadap hal-hal yang bertentangan dengan subtansi persoalan sekalipun. Menurut A.S. Laksana (dalam “Orang-Orang yang Sungkan”, Jawa Pos), orang-orang berwatak sungkan tak sanggup bicara lugas dan terus-terang karena mengutamakan harmoni dalam kehidupan sosial. Meskipun dimaksudkan sebagai tanggapan atas hasil penjurian Khatulistiwa Literacy Award (KLA) 2013, pendapat A.S. Laksana itu sesungguhnya mencerminkan dirinya sendiri.

Seandainya A.S. Laksana tidak sungkan dan mau bicara lugas,  tindakan itu akan mengajarkan banyak hal pada pembaca. Setidaknya, pembaca akan punya pembanding,  mungkin, akan mulai membanding-bandingkan antara Murjangkung (kitab cerpen A.S. Laksana yang masuk dalam daftar KLA 2013) dengan Pulang (novel Laila S. Chudori, pemenang KLA 2013). Sayangnya, ia lebih ngotot untuk mempertahankan harmoni dalam kehidupan sosial, meskipun harus mengabaikan pentingnya kejelasan.

Di negeri ini kita jarang bertemu orang yang berani bicara lugas dan terus-terang, tak terkecuali para intelektualnya, karena takut mengecewakan orang lain: takut terjadi desintegrasi sosial.  Hal itu terjadi, mungkin, karena kita sejak awal menempatkan diri sebagai resipien dari kebudayaan yang menekankan bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara sudah tercipta dari sekian banyak perbedaan.  

Di dalam perbedaan, begitulah kita selalu dicekoki oleh pemegang hagemoni kekuasaan, banyak hal yang rentan untuk dibesar-besarkan karena bisa mempengaruhi stabilitas nasional.  Perbedaan di antara kita sebagai warga bangsa dalam segala dinamika kehidupan adalah hal subtansial yang harus diterima apa adanya,  tanpa dibesar-besarkan, dan tak boleh dibanding-bandingkan. Dalam situasi seperti itu, praktis kita cuma berusaha menyesuaikan diri dengan peraturan, tata nilai, norma, dan bentuk tingkah laku yang telah mapan dalam sistem yang ada. Tanpa sadar kita mengakui sistem itu sudah final dan sangat sempurna. Padahal, di sisi lain kita melihat produk-produk yang dihasilkan sistem tersebut tidak mampu menjawab perkembangan zaman yang begitu cepat.

Begitu juga halnya dengan penjurian KLA. Meskipun sejak awal, penghargaan bergengsi ini sudah membawa banyak masalah bagi kesusastraan modern di negeri ini,  para intelektual berusaha menerimanya dengan dada lapang. Pasalnya, kita hidup pada zaman yang lebih mengutamakan pentingnya menjaga status dan posisi nyaman sehingga segala bentuk penguatan citra yang disematkan atas nama penghargaan akan dipertahankan.

Kita selalu mendambakan hidup yang penuh dengan predikat. Dengan predikat itu, kita tidak hanya membangun hubungan sosial, tetapi juga membayangkan hidup telah terangkat ke tingkat sosial lebih tinggi serta terkerek ke puncak pergaulan intelektual yang lebih serius. Sastrawan akan merasa sempurna sebagai sastrawan bila sudah menerima penghargaan tertentu meskipun tradisi pemberian penghargaan di negeri ini sangat kuat ditandai oleh keberhasilan seseorang dalam membangun jaringan atau kronisasi. Tanpa sadar kita pun gila harmoni. Sinting. Padahal, hal itu telah mencetak  bangsa ini menjadi santai dan malas dalam kehidupan (konon, menurut Thorsten Veblen,  budaya santai telah menghancurkan Amerika Serikat karena hanya melahirkan spekulan, makelar, cukong, lintah-darat, birokrat, dan kaum manipulator).

Begitulah yang akan terjadi jika kita lebih peduli pada harmoni daripada kejelasan.  Tentu, ini dampak negatif dari pergaulan politik di era reformasi ketika segala kebebasan diperoleh pada saat kita masih belum bisa lepas dari kungkungan rezim Orde Baru yang hagemonik sampai pada tingkat pikiran. Negara Orde Baru memang rubuh, lebur, tapi di dalam pikiran tetap utuh. Semua orang, seperti halnya para elite di masa lalu, memilih manut pada kondisi yang ada karena situasi itu memberikan kesenangan demi kesenangan.

Sungguh, kita tak perlu dan tak harus menjaga harmoni. Kita tak perlu menjadi “orang-orang sungkan” karena sungkan menunjukkan ketakjelasan dalam bersikap. ?


Budi Hatees
Esais, menulis dari Kota Padangsidempuan
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us