Kemiskinan Menahun

16 Februari 2014 - 08.35 WIB > Dibaca 1208 kali | Komentar
 
Kemiskinan Menahun
Kebodohan itu semacam energi kotor tertanam dalam diri namun puluhan ribuan raga tak kuasa untuk membersihkanya. Bodoh itu tidak menyiksa diri, namun menyiksa hidup yang tak lazim. Bodoh adalah sebuah kenyataan, yang bisa dimengerti, bisa dicicipi dengan alam pikiran kita. Noda-noda kebodohan dan kepintaran hanya memberi tanda antara bisa dan tak bisa.

Ketidakbisaan biasanya tercipta dari kemalasan untuk mengulang-ulang. Ketidakmampuan mengulang-ulang ini memberi ruang. Ruang inilah yang diisi oleh ketidaktahuan. Ruang inilah yang memberi batas. Batas inilah yang harus dimengerti. Ketidakmengertian juga sama dengan bodoh. Bodoh yang menahun akan tiada memberi pengharapan apa-apa. Selain tentang kita tak mengerti, lalu  sepi dan akhirnya mati.

Kebodohan ini bukan terlahir, tapi dicipta oleh banyak faksi. Soal ketiadaan kemauan hati, soal ketidakadaan naluri, soal sempitnya motivasi, tentang matinya semangat diri. Namun yang paling hakiki bodoh itu disebabkan oleh kemiskinan yang telah merubah pola dan gerak kerja otak kita.

Kemiskinan dalam zaman-zaman terdahulu hingga saat ini adalah tetap sama. Hanya melahirkan nestapa. Kemiskinan merenggut sel-sel otak optimis untuk tumbuh mekar. Kemiskinan telah membonsaikan naluri. Kemiskinan tak mampu mengangkut darah secara seksama untuk mencapai punca kejayaan otak dalam tempo sesingkat-singkatnya. Kemiskinan telah mengkerdilkan semangat untuk otot tumbuh sempurna. Kemiskinan telah menjerat kita untuk terus berada dalam ruang dan waktu yang tiada bermutu.

Kemiskinan telah memaksa kita untuk tidak bisa banyak mengambil pilihan-pilihan waktu. Siang dan malam adalah kepastian yang sama terus berulang-ulang. Warna kemiskinan hanya ada antara hitam dan putih. Kemiskinan memaksa kita untuk hanya mengerti hari ini makan apa dan besok apa yang mau dimakan.

Kemiskinan ini berjelaga, di ruang-ruang dusun, kampung, desa bahkan kota yang tak jauh dari peradaban kita. Dalam kesempatan yang lain Kemiskinan ini menyiksa dan membawa bencana. Jika ada manusia miskin menjadi tidak bodoh, itu adalah pemberontakkan jiwa-jiwa yang dipaksa untuk sadar. Bahwa kemiskinan ini tidak abadi. Namun revolusi jiwa ini hanya bisa dihitung dengan jari.

Data BPS memberikan arahan. Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan) di Riau September 2013 sebesar 522, 53 ribu jiwa. Jika dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2012 yang berjumlah 481,31 ribu jiwa (8,05 persen), jumlah penduduk miskin di Riau mengalami kenaikan sebanyak 41,22 ribu jiwa. Selama periode September 2012-September 2013, penduduk miskin di daerah perdesaan diperkirakan bertambah 34,92 ribu jiwa, sementara di daerah perkotaan diperkirakan bertambah 6,3 ribu jiwa.

Sebagai sebuah provinsi, Riau yang mempunyai sumber daya baik alam sadar dan tak sadar di sekujur tanah, air, laut, dan langit, belum kuasa memberi kejayaan bagi penghuninya. Kecemerlangan masa lampau yang dieja oleh Sultan Syarif Kasim, Hang Tuah, Tuanku Tambusai, tak mampu kita baca dengan logika-logika sempurna. 522,53 ribu jiwa (8,42 persen) anak, saudara, tetangga, sekampung, sekota, sepermainan, masih bergulat di bawah langit hari-hari kemiskinan. Asap adalah produk nyata dari sebuah kebodohan efek dari kemiskinan kita.

Hutan tak belukar, hewan tak liar dan buas. Sungai enggan deras, mendangkal. Danau-danau tak berpenghuni, laut dari Bagan hingga ke muara Indragiri seperti taman bagi ikan teri, tiada lagi tenggiri apalagi ikan pari. Ini jua adalah produksi dari sebuah kebodohan dan kemiskinan kita yang tak kuasa memberdayakan potensi diri.

Ketika kita bodoh, maka kita mendekatkan diri ke langit kemiskinan. Disaat kita miskin maka kita mengantarkan diri untuk berada di bilik kebodohan. Formula untuk memenggal dan menenggelamkan kebodohan serta kemiskinan itu adalah pendidikan. Di sinilah peran pemimpin baru Riau untuk meramu formula itu menjadi obat mujarab. Orang-orang miskin tak bangga akan gedung-gedung megah. Acara-acara wah. Mereka hanya bangga melihat anak-anaknya sekolah. Lalu, anak-anak itu meninggalkan lubuk kemiskinan dan kebodohan orang tuanya.        


Edwir Sulaiman
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 13:40 wib

Verdivir Juara I MBtech Awards 2018 di Palembang

Selasa, 25 September 2018 - 13:39 wib

Minta Tolong Dicarikan Pekerjaan

Selasa, 25 September 2018 - 13:36 wib

Suka Fajar Paparkan Ketangguhan Triton

Selasa, 25 September 2018 - 13:30 wib

Honorer Tuntut Status PNS

Selasa, 25 September 2018 - 13:15 wib

Penjualan Ritel Turun 4,13 Persen

Selasa, 25 September 2018 - 13:03 wib

Honorer K2 Desak Penangkatan menjadi PNS

Selasa, 25 September 2018 - 13:00 wib

Mahasiswa Tuntut Perjuangkan Hak Petani

Selasa, 25 September 2018 - 12:54 wib

Genjot Ekspor, LPEI Fokus Winning Commodities

Follow Us