Depan >> Opini >> Opini >>

Rony Ardiansyah

Mumi Firaun Bukti Kebenaran Alquran

29 Maret 2013 - 08.20 WIB > Dibaca 18195 kali | Komentar
 

Alquran menyebut tentang penguasa Mesir yang diberi gelar Firaun. Apabila  seseorang ingin memahami peristiwa penceritan Nabi Musa dan Firaun, maka timbul pertanyaan, Firaun manakah yang terlibat dengan Musa? Lalu, apakah semua raja dan Firaun selama tempo 3.000 tahun itu sejahat yang disangkakan?

Menurut Dr Afareez Abd Razak Al-Hafiz dalam buku ”Misteri Firaun Musuh para Nabi”, berdasarkan peninggalan artefak penguasa Mesir kuno pertama yang dapat dikenal pasti adalah Raja Narmer. Tidak dapat dipastikan secara tepat tahun penguasanya, karena jika dirujuk ke berbagai buku, tiap buku menyatakan tahun yang berbeda. Namun perkiraan yang paling mendekati adalah sekitar  tahun 3.000 SM. Ini berarti sudah lebih lima ribu tahun yang lalu.

Nabi Musa diperkirakan lahir pada awal abad ke-13 SM. Masa ini bisa dijadikan permulaan penguasaan Firaun Ramesses II dan Firaun Marenptah. Dan seandainya Firaun Seti I masih hidup ketika kelahiran Nabi Musa, maka Nabi Musa pernah hidup dalam era tiga orang Firaun yaitu Firaun Seti, Firaun Ramesses II dan Firaun Merenptah. Menurut Osman, Ahmad (1990) dalam buku Moses and Akhnaten: The Secret of Egypt at the Time of the Exodus, ada yang pendapat yang mengatakan Nabi Musa dan Firaun Akhenaten adalah orang yang sama. Diperkirakan Akhnenaten jatuh dari takhtanya dan melarikan diri ke Sinai pada 1361 SM. Pada saat itu dia berusia 34 atau 35 tahun. Dia kembali ke Mesir dan memimpin peristiwa Eksodus ketika usia sekitar enam puluh tahun.

Terjadinya perdebatan, pembahasan, dan percakapan panjang lebar di antara Nabi Musa dengan Firaun, dari Tafsir Rahmat oleh H Oemar Bakry (Q.S Asy-Syu’araa, 26: 18-21). Firaun menjawab, “Bukankah kami yang mengasuhmu dalam lingkungan keluarga kami di waktu kamu masih anak-anak? Dan kamu tinggal dengan kami beberapa tahun dari usiamu? Dan kamu telah melakukan sesuatu kesalahan (membunuh orang Qibti) dan kamu termasuk orang-orang yang tidak membalas guna.” Musa menjawab, “Aku melakukan (pembunuhan itu) dan aku termasuk orang-orang yang bodoh (khilaf, karena aku menamparnya untuk mengajarinya, tetapi ia lantas mati). Lantas aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu. Kemudian Tuhanku memberikan kepadaku hikmah dan aku dijadikan-Nya salah seorang dari rasul-rasul.

Akhirnya, Nabi Musa dan kaumnya memulai perjalanan keluar dari Mesir pada waktu malam (Surah Toha ayat 77). Pada masa itu, orang-orang Mesir juga mendesak orang-orang Israel supaya cepat keluar dari negara itu. Setelah Firaun membebaskan orang-orang Israel. Nabi Musa dan orang-orang Israel keluar dari Mesir.

Ketika Firaun diberitahu tentang kepergian mereka, maka Firaun mulai menyadari kesalahannya membebaskan orang-orang Israel dan berubah pikiran. Firaun bersiap-siap dengan kereta kudanya dan membawa tentaranya, berserta enam ratus chariot (kereta kuda). Lalu mereka semua mengejar orang-orang Israel, di mana akhirnya para pengejar dapat mendekati orang-orang Israel ketika mereka berhenti di kawasan laut.

Kemudian Nabi Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan sepanjang malam Tuhan membuat air laut itu mundur ke belakang dengan tiupan angin timur yang kuat dan menjadikan daratan kering dan airnya terbelah. Pada saat pagi, laut itu kembali lagi ke tempat asalnya. Air mengalir kembali dan menutupi semua chariot dan bala tentara Firaun yang mengikuti orang-orang Israel masuk ke dalam laut. Tidak ada seorang pun dari mereka yang hidup.

Walaupun Alquran tidak menceritakan secara panjang lebar, namun perlu ditekankan di sini bahwa Alquran menyebut  tentang firaun dan tentaranya dilempar (Surah Al-Qasas, ayat 40), ditenggelamkan air (Surah Toha, ayat 78), lalu mati lemas (Surah Ad-Dukhan ayat 24). Disimpulkan bahwa pertama, Alquran secara jelas mengatakan Firaun yang berada di tempat itu sudah mati lemas. Kedua, Alquran menceritakan tentang sesuatu yang sungguh penting dalam pembahasan ini yaitu apa yang terjadi kepada mayat Firaun yang mati lemas.

Alquran diturunkan pada abad ke-7 M, di mana pada saat itu tidak ada siapapun yang mengetahui apa yang sudah terjadi dengan mayat Firaun yang mengejar Nabi Musa ini. Jika Alquran mengatakan mayat Firaun itu akan diabadikan untuk menjadi tanda orang-orang berikutnya, maka bagaimana ia akan menjadi pengajaran bagi orang-orang berikutnya seandainya ia hilang dan terbenam entah di mana?

Akhirnya, pada tahun 1881 M sekumpulan mumi para penguasa Mesir kuno ditemukan di Deir-el-Bahri. Diikuti juga penemuan sekumpulan mumi yang lain pada tahun 1898 M di ‘Lembah Raja-raja.’ Dalam penemuan kumpulan yang kedua ini, salah satu dari mumi itu adalah Firaun Marenptah. Mayat/mumi Firaun Marenptah dikuburkan pada hari kematiannya di makam nomor 35 di Lembah Raja-raja pada akhir abad ke-13 SM. Seperti makam para penguasa Mesir yang lain, makamnya juga dimasuki oleh perampok-perampok kubur.

Penelitian para doktor dan peneliti, yang berusaha menyelidiki sebab kematian Firaun Merenptah. Hasil dari penelitian medis itu, dengan berbagai tes medis yang dilaksanakan dan x-ray terhadap mumi Firaun Marenptah. Diperolah hasil bahwa Firaun Marenptah sudah mati akibat dari hentakan ganas yang bertubi-tubi ketika masih hidup. Penyelidikan medis juga mendapatkan satu sampel otot, yang jika diperiksa di bawah mikroskop, keadaan otot itu menunjukkan mayatnya berada tidak terlalu lama di dalam air. Karena jika terlalu lama, bagian otot ini akan hilang.

Disimpulkan, Firaun Marenptah ini menerima hentakankeras  menyeluruh pada tubuhnya sewaktu ia hidup sebelum kematiannya. Serta berada di air dalam waktu yang singkat. Ini tepat sebagaimana diceritakan dalam Alquran yang menyebut tentang mereka yang mengejar Nabi Musa dilempar ke dalam lalu mati lemas. Setelah itu, Alquran menceritakan mayatnya itu diselamatkan.***   
 

Rony Ardiansyah
Peminat sains Alquran. Dosen pasca-sarjana magister Teknik Sipil UIR
KOMENTAR
Follow Us