Depan >> Kolom >> Chaidir >>

Selfie Kera

Senin, 17 Jul 2017 - 11:44 WIB > Dibaca 1405 kali | Komentar

RIAUPOS.CO - URUSAN  alias swafoto, tidak lagi melulu milik manusia. Kera pun kini sudah bisa selfie, hebat sekali. Kisah ini bukan dongeng, isapan jempol atau rekayasa kamera, ini kisah nyata. Kera asal Sulawesi Utara yang diberi nama Naruto, mampu melakukan selfie meniru manusia. Kisah selfie Naruto, si kera Sulawesi yang cerdas itu, kemudian menjadi viral di internet, apalagi berujung perkara di pengadilan federal Amerika Serikat di San Fransisco.

Seperti disiarkan viva.co.id yang dikutip dari majalah Time, Jumat (14/7/2017) pekan lalu, Naruto memfoto dirinya dengan menggunakan kamera fotografer alam liar asal Inggris, David Slater, yang sedang berkunjung di Indonesia pada 2011. Naruto berswafoto menggunakan kamera milik Slater dengan menekan tombol di kamera. Oleh Slater, swafoto itu kemudian dengan bangga dipublikasi dalam buku berjudul “Wildlife Personalities”, yang diterbitkan perusahaan penerbitan independen Blurb, yang berbasis di San Fransisco, pada 2014.

Di sinilah perkara itu bermula. Beredarnya swafoto kera itu kemudian mendapat perhatian dari organisasi pemerhati binatang di Amerika Serikat, People for the Ethical Treatment of Animal (PETA). Organisasi itu kemudian menggugat Slater dan Penerbit Blurb, atas tudingan pelanggaran hak cipta. PETA berpendapat hak cipta foto itu seharusnya milik Naruto bukan pada David Slater.

Pengadilan tingkat pertama memutuskan pihak kera Sulawesi Utara itu kalah. Kera tak bisa memiliki hak cipta swafoto. Alasan hakim saat itu sederhana, kera bukanlah manusia. Ya iyalah, siapa juga yang bilang kera itu manusia. Tapi kemudian kasus ini naik ke tingkat pengadilan banding. Pihak kera naik banding. Pengadilan banding pekan lalu mendengarkan argumen atau dalil-dalil dari pengacara kedua belah pihak, apakah seekor binatang dapat memiliki hak cipta untuk swafoto yang dilakukannya.

Pengacara pihak penerbit Blurb, Angle Dunning dan pengacara pihak David Slater, Andrew Dhuey, keduanya dari pihak tergugat merasa optimis pengadilan tingkat banding akan menguatkan putusan pengadilan federal sebelumnya yang memenangkan mereka dengan alasan PETA tidak bisa mewakili kepentingan kera Sulawesi tersebut. Sementara pengacara pihak penggugat, PETA, David Schwarz berpendapat, Naruto sudah terbiasa dengan kamera dan sudah terlatih berswafoto.

“Kami paham kera itu sangat canggih, mereka sangat cerdas, visinya dominan. Naruto sangat mirip dengan kita”, kata Schwarz. Pihak PETA menyimpulkan kasus tersebut sampai pada satu fakta sederhana, yaitu foto itu mendapat perlindungan hak cipta dan Naruto adalah pemegang hak ciptanya. Iya pulak ya.

Sejauh ini kita belum mendengar apa keputusan pengadilan tingkat banding terhadap kasus yang terbilang unik tersebut. Para pihak telah memberikan argumentasi. Yang perlu dicatat, para pihak yang berperkara bukan dalam agenda terselubung membangun sebuah pencitraan, pengadilan bukan sekadar tempat bersilat lidah, melainkan rumah bagi penegakan sebuah kebenaran.     

Banyak yang menganggap kasus ini konyol, menggelikan, mengada-ada, atau kurang kerjaan. Persepsi itu tentu saja wajar, kera saja kok diurus. Tapi, pengadilan hak cipta kera Sulawesi Utara di San Fransisco nun jauh di sana itu, mengirim sebuah pesan yang mungkin membuat kita malu. Bukan masalah hak kera bangsa kita dibela oleh pihak penyayang binatang di Amerika, tapi masalah kepedulian. Melulu masalah kepedulian.

Di negeri di mana kera Naruto berasal, jangankan nasib kera, nasib manusianya saja tidak teradvokasi dengan baik. Para pengurus negeri, para politisi dan orang-orang bijak bestari seringkali gagal fokus. Lain yang gatal lain yang digaruk, lain yang dibicarakan lain yang dikerjakan.

Kita menghukum para koruptor tapi pada saat yang sama kita tidak melakukan advokasi membela hak rakyat miskin yang dirugikan oleh praktik korupsi tersebut. Tidak pernah kita mendengar clash-action pembelaan terhadap rakyat miskin yang hak kesejahteraan eknominya dirampas. Naruto, kamu lebih beruntung.***

KOMENTAR

Follow Us