Keledai

23 Februari 2014 - 08.59 WIB > Dibaca 1977 kali | Komentar
 
Keledai
SIAPA yang tak kenal dengan keledai. Binatang yang satu ini selalu identik dengan kebodohan. Bahkan ia dijadikan ikon sebuah pepatah tentang ketololan, ketidaktahuan, kebebalan, tidak mau belajar dan ketidakmampuan. ‘’Hanya keledai lah yang jatuh dua kali pada lubang yang sama”.

Semua orang tahu apa maksud dibalik kata-kata tersebut. Dan jika pepatah itu dialamatkan kepada sebuah kelompok, kumpulan, organisasi, atau bahkan individu, pasti tidak ada yang mau terima. Karena dengan dilekatkankannya pepatah tersebut maka yang bersangkutan akan dicap sebagai orang yang tidak mau mengambil hikmah dari kesalahan sama yang dahulu pernah dilakukan.

Apa sebenarnya makhluk bernama keledai ini dan mengapa ia selalu dijadikan contoh untuk kebodohan? Keledai atau donkey dengan bahasa ilmiahnya Equus merupakan hewan jinak yang digunakan untuk bertransportasi dan kerja lain, seperti menarik kereta kuda maupun membajak ladang. Namun kita tidak bicara spesifik tentang keledai di sini karena tentu akan panjang pembahasannya. Biarlah para ahli yang membedahnya.

Yang menjadi renungan beberapa hari ini adalah bencana yang melanda Bumi Lancang Kuning. Kalau dibilang bencana alam, nampaknya bukan. Walaupun bencana ini menimpa alam, namun hampir dapat dipastikan sebagian besarnya adalah akibat ulah tangan manusia yang kotor, bejat dan laknat. Bencana laten itu bernama Kabut Asap!

Hampir merata diseluruh Riau selama dua pekan terakhir ini, makhluk hidup yang bernafas di negeri minyak itu secara terpaksa dan dipaksa harus menghirup asap. Udara dipenuhi dengan kabut putih yang memerihkan mata dan menyesakkan dada. Kemana pun kita pergi di negeri minyak ini, tak akan lepas yang dari namanya kabut asap. Beruntunglah mereka yang berkepunyaan, bisa mengungsikan keluarganya keluar provinsi atau luar negeri. Atau menyekap keluarga di ruangan berpendingin udara sehingga dampak kabut asap dapat diminimalisir.

Bagaimana dengan rakyat jelata? Dengan sedih mereka pun terpaksa mau tidak mau bernapas dengan asap ini. Berkurung di dalam rumah pun tidak akan memupus kabut asap masuk ke dalam rongga paru-paru. Maka banyaklah Balita, orang tua dan manusia bertubuh lemah yang bertumbangan. Kasihan, mereka harus menahan hati dengan bencana buatan yang kini nampaknya telah datang setahun dua kali.

Lalu apa hubungannya dengan keledai? Ya, bisa ditebaklah. Kita semua tentu tidak ingin jadi binatang keledai. Tapi jika kabut asap ini masih terus saja terjadi, maka mohon maaflah jika saat bercermin, para penguasa yang gajinya dari pajak hasil keringat rakyat jelata ini, telah berubah wajah menjadi donkey. Mereka telah gagal menjalankan amanah dan kepercayaan yang diberikan guna memberikan kesejahteran, keadilan dan kenyamanan hidup bagi rakyat.  
 
Tahukah kita bahaya dampak asap kebakaran hutan bagi manusia? Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI, Prof dr Tjandra Yoga Aditama mengatakan, kabut asap dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan, lingkungan dan kelestarian hayati. Ada 8 gangguan kesehatan yang ditimbulkannya. Pertama, kabut asap dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, serta menyebabkan reaksi alergi, peradangan dan mungkin juga infeksi.

Kedua, dapat memperburuk asma dan penyakit paru kronis lain, seperti bronkitis kronik, PPOK dll. Ketiga, kemampuan kerja paru menjadi berkurang dan menyebabkan orang mudah lelah dan mengalami kesulitan bernapas. Keempat, mereka yang berusia lanjut dan anak-anak (juga mereka yang punya penyakit kronis) dengan daya tahan tubuh rendah akan lebih rentan untuk mendapat gangguan kesehatan.       Kelima, kemampuan paru dan saluran pernapasan mengatasi infeksi berkurang, sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi. Keenam, secara umum maka berbagai penyakit kronis juga dapat memburuk.

Ketujuh, bahan polutan di asap kebakaran hutan yang jatuh ke permukaan bumi juga mungkin dapat menjadi sumber polutan di sarana air bersih dan makanan yang tidak terlindungi. Dan kedelapan, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) jadi lebih mudah terjadi, utamanya karena ketidakseimbangan daya tahan tubuh (host), pola bakteri/virus dll penyebab penyakit (agent) dan buruknya lingkungan (environment).

Lalu apakah kita masih ingin jadi keledai? Jika masih ingin jadi keledai, marilah belajar dari kisah keledai yang satu ini.  Dikisahkan pada suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur yang cukup dalam. Sementara si petani, sang pemiliknya, memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan keledai tersebut. Akhirnya, petani tersebut dengan berat hati memutuskan bahwa keledai itu sudah tua dan sumur itu juga perlu ditimbun karena berbahaya. Jadi tidak berguna menolong si keledai miliknya. Ia pun kemudian mengajak tetangganya untuk membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah dan memasukkannya ke dalam sumur.

Ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia berusaha meronta-ronta. Tetapi kemudian, ia menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang. Walaupun punggungnya terus ditimpa bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, namun si keledai juga terus menguncangkan badannya dan kemudian melangkah naik. Si keledai akhirnya bisa meloncat dari sumur dan kemudian melarikan diri.***


Yose Rizal
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 15:30 wib

Puskesmas Kampar Bersiap Hadapi Akreditasi

Selasa, 18 September 2018 - 15:00 wib

Pasar Desa Kasikan Terbakar

Selasa, 18 September 2018 - 14:56 wib

Hotel Dafam Tawarkan Kenikmatan Kopi Ple-Tok

Selasa, 18 September 2018 - 14:46 wib

Topan Mangkhut Tewaskan 59 Orang

Selasa, 18 September 2018 - 14:43 wib

OJK Diharapkan Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Selasa, 18 September 2018 - 14:42 wib

Pekanperkasa Gelar LCV Party dan LCV Gathering

Selasa, 18 September 2018 - 14:30 wib

Bingung Ferrari ‘Menghilang’

Selasa, 18 September 2018 - 14:06 wib

ACE Hadirkan Program Smart Lighting Smart Living

Follow Us