BERHASIL MEMINIMALISASI JUMLAH KORBAN
Mantan Kepala BIN Puji Kesigapan Polri Atasi Kerusuhan di Mako Brimob
Kamis, 10 Mei 2018 - 19:55 WIB > Dibaca 375 kali Print | Komentar
Mantan Kepala BIN Puji Kesigapan Polri Atasi Kerusuhan di Mako Brimob
Presiden Joko Widodo (tengah) bersama Ketua Umum PDIP (paling kanan) dan Ketua Umum PKPI AM Hendropriyono dalam acara perayaan Hari Ulang Tahun PKPI ke-18 di Jakarta, Minggu (15/1).(IMAM HUSEIN/JAWA POS)
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Langkah Polri dan Densus 88 yang berhasil mengatasi aksi kerusuhan di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5/2018), banyak menuai pujian.

Termasuk dari tokoh intelijen nasional Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono.

“Sebagai warga negara saya mengucapkan selamat atas keberhasilan Polri dan Densus 88 yang berhasil melumpuhkan kelompok teroris dan meminimalisir korban dalam insiden itu,” ucapnya di Jakarta, Kamis (10/5/2018).

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu mengatakan, kerusuhan yang dibarengi penyanderaan di Rutan Mako Brimob merupakan suasana kedaruratan yang sah untuk diatasi dengan kekuatan fisik.

Akan tetapi, intelijen pasukan Densus 88 ternyata lebih cerdas sehingga berhasil mengatasi keadaan tanpa korban jiwa tambahan. Jumlah total korban pada kerusuhan kali ini berjumlah enam orang.

Adapun lima orang merupakan aparat kepolisian yang sebelumnya disandera para tahanan. Sementara seorang lainnya berasal dari pihak tahanan terorisme.

Ditambahkan Ketua Umum DPN Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia itu, potensi teroris seperti pelaku di Mako Brimob cukup banyak di antara masyarakat. Untuk itu dia mengajak masyarakat aktif membersihkan penyakit radikalisme.

“Sudah waktunya seluruh elemen bangsa bergerak bersama mengamankan diri sendiri dari virus radikalisme yang subur bagi terorisme dalam segala bentuknya,” tegasnya.

Lebih jauh, dia menyarankan setiap RT di seluruh daerah menolak kehadiran sosok radikal di daerahnya masing-masing.

“Saya ingatkan lagi bahwa dalam suasana kedaruratan seperti ini, tidak ada aturan apa pun yang punya daya rekat. Pada konteks kedaruratan, pilihannya to kill or to be killed. Membunuh atau dibunuh. Itulah konteks hukum kedaruratan,” tutupnya. (gir)

Sumber: JPNN
Editor: Boy Riza Utama
KOMENTAR
Berita Update

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah
Minggu, 22 September 2018 - 15:49 wib
Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Stroberi Berjarum Repotkan Australia
Minggu, 22 September 2018 - 14:47 wib
Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu
Minggu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu
Minggu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet
Minggu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion
Minggu, 21 September 2018 - 19:00 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP
Minggu, 21 September 2018 - 18:30 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa
Minggu, 21 September 2018 - 18:00 wib
Tolak Politik Transaksional
Apresiasi Komitmen Partai
Minggu, 21 September 2018 - 17:30 wib
Warga Dambakan Aliran Listrik

Warga Dambakan Aliran Listrik
Minggu, 21 September 2018 - 17:00 wib
Cari Berita
Nasional Terbaru
Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 WIB

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 WIB

Pamflet Undangan Diskusi Divestasi Newmont itu Hoax

Kamis, 20 September 2018 - 14:11 WIB

BPJS Kesehatan Laporkan Pengkritik

Rabu, 19 September 2018 - 15:48 WIB

TP PKK Bengkalis Wakili Riau ke Tingkat Nasional

Rabu, 19 September 2018 - 12:00 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini