Menangguk di Air Keruh

2 Maret 2014 - 09.46 WIB > Dibaca 1123 kali | Komentar
 
Menangguk di Air Keruh
Lelaki itu tertunduk sembari meremas rambut di kepalanya. Pagi menjelang siang di selasar RSUD Arifin Ahmad, Jumat (28/2). Zulhendri namanya. Ia  dihantam tragedi hidup dan  bingung menghadapi dua soal.

Pertama, lima orang anggota keluarganya di Jalan Durian Pekanbaru hangus di lalap api dan jenazah dibawa ke RSUD. Kedua, petugas penyelenggara jenazah di RSUD meminta biaya penyelenggaraan satu jenazah Rp1,5 juta.

Jadi kalau lima jenazah yang diselenggarakan total biaya yang harus dikeluarkan Rp7,5 juta. Belum lagi ongkos ambulans yang harus dipikirkan untuk membawa korban ke kampung halamannya di Solok sana.

Di pojok lain sejumlah anggota keluarga korban tewas asal Sidikalang Sumut juga berkumpul. Mencari jalan keluar dengan mengumpulkan sumbangan untuk pembayaran biaya ambulans membawa korban pulang ke kampung halamannya.

Tujuh korban tewas itu menurut pemberitaan sempat terkendala untuk dibawa pulang dan dimakamkan karena persoalan biaya.

Sementara itu Kepala IPJ RSUD Arifin Achmad dr Erwin Taslim kepada pers menjelaskan bahwa pihak RSUD tidak pernah meminta biaya Rp1,5 juta untuk penyelenggaraan satu jenazah. Kewajiban RS hanya memandikan jenazah. Sementara untuk perlengkapan jenazah seperti kain kafan, peti mayat/keranda mayat ditanggung pihak keluarga.

Jawaban Kepala IPJ RSUD adalah satu hal, fakta di lapangan adalah hal lain. Ada saja orang yang menangguk di air keruh (memanfaatkan keadaan). Apa saja mau dijadikan duit. Mau suka, duka atau keperluan apapun semua dijadikan duit oleh oknum-oknum yang tak punya lagi nurani.

Di tingkat pemerintahan kita bicara hal yang muluk tentang kebersamaan. Tentang kesejahteraan rakyat. Tentang tema-tema besar kemanusiaan. Tentang semua omong kosong tolong-menolong.

Matinya rasa kebersamaan  dan kemanusiaan telah membuat jaring-jaring silaturahmi antar sesama putus total. Masyarakat dengan pemimpinnya, orangtua dengan anaknya, guru dengan muridnya dan segala bentuk keterpilahan lainnya. Semua terisolasi dalam kehidupan individualistik. Yang penting semua bayar kalau mau dapat pelayanan. Tak peduli yang memerlukan pelayanan orang miskinkah, orang sedang ditimpa musihbahkah harus tetap bayar. Jangankan orang hidup, mayat pun kalau keluar dari RS harus bayar.

Padahal kita hidup tidak lagi di zaman primitif. Sudah di zaman modern. Tidakkah modernisme sebenarnya telah menghilangkan nilai kemanusiaan manusia? Semua hampir terasa kering, gersang, hampir tak tersentuh embun kebaikan. Modernisme telah menghancurkan itu semua. Modernisme melahirkan manusia-manusia hedonisme (pemuja kesenangan) yang bertuhankan duit. Semua urusan tak lancar tanpa duit. Ini fakta. Ini benar-benar gambaran besar tentang kebersamaan kita semua di panggung sandiwara bernama dunia pada hari ini.

Akankah kita baru sadar ketika kelak panggung bernama dunia ini dilipat Tuhan di hari kiamat bahwa seharusnya mereka (keluarga korban tewas) itu dibantu, diringankan, dihiburkan hatinya. Mana janji legislatif dan eksekutif yang selalu ingin mensejahterakan rakyat. Mana? Bahkan untuk urusan kemanusiaan di depan mata kita, kita masih saja tergagap. Tak adakah dana sosial negara membantu mereka yang terkena musibah seperti itu sehingga keluarga korban sendiri yang harus minta sumbangan agar jasad korban bisa dibawa ke kampungnya untuk dikuburkan? Ah, masih adakah hati nurani  di dada kita? Atau telah pergi entah kemana...***


HELFIZON ASSYAFEI
Wakil Pemimpin Redaksi
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 11:27 wib

Haul Marhum Pekan Ingatkan Sejarah Pekanbaru

Selasa, 20 November 2018 - 11:26 wib

AirAsia Pindahkan Penerbangan ke Terminal 2

Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Follow Us