PERISA - YUSMAR YUSUF
Laman Rumput Hijau
Minggu, 20 Mei 2018 - 11:23 WIB > Dibaca 741 kali Print | Komentar
Laman Rumput Hijau
Kebahagiaan tak direngkuh lewat sensasi-sensasi biokimia. Sensasi jenis ini tak lebih dari kejahatan biokimia. Ingat lirik lagu terkenal dari Rihanna? Diamonds: “Shine bright like a diamond...”. Oww, sesuatu yang sukar direngkuh lewat akal sehat. Sensasi kebahagiaan juga bisa direngkuh lewat sesuatu yang terbentang di depan mata. Tak perlu lewat rangsangan-rangsangan kimiawi. Epicurus, di sebuah zaman nan jauh sekitar 2300 tahun lalu sudah memberi amaran tentang ihwal ini; “Pencarian kesenangan secara berlebihan, akan berbuah penderitaan, bukan kebahagiaan”. Pernyataan yang lebih radikal dari ini, bahkan pernah keluar dari Buddha; “bahwa pencarian sensasi-sensasi kebahagiaan, sesungguhnya adalah akar dari segala penderitaan”.

Terkadang, sejarah menjadi tangkai dan tumpuan orang untuk menghindari keterulangan sesuatu yang bernada kelam dan kekelaman peradaban. Lewat sejarah, orang berupaya menghindari dan membebaskan diri dari kekelaman masa lalu. Melalui sejarah pula, orang tak hendak mengabadikan masa lalu. Untuk itu semuan, sejarah yang dibelokkan dan diarahkan untuk bergerak ke masa depan. Sensasi kebahagiaan tak memerlukan rangsangan kimiawi, juga tak perlu menghindari sejarah yang membelenggu, akan tetapi bisa diampu melalui kreasi-kreasi baru yang menjuntai dalam nada kreativitas manusia yang bersemangat baru pula. Tersebutlah alkisah tentang laman rumput nan hijau di sebuah rumah, yang dihuni pasangan muda yang secara khusus mengundang seorang arsitek dan pakar lanskap untuk mendesain sebuah rumah mungil dalam gaya kastil yang di depanny a terhampar halaman dengan rumput hijau bak permadani terbentang. Kenapa ini dilakukan? Jawaban singkatnya; “Laman nan hijau memang amat indah untuk tempat hinggap mata penghuni dan tamu yang datang ke rumah itu”.

Haii,.. Laman rumput hijau ini memiliki sejarah nan panjang jika dirunut ke belakang. Pernahkah kita melihat jalan setapak menuju gua di era Zaman Batu yang dihiasi oleh bentangan rerumputan nan rapi, resik dan memikat menuju pintu gua? Dan begitu pula, tak ada laman rumput yang menyambut tetamu masuk ke Akropolis Athena, Capitol Romawi dan Kuil suci di Jerusalem, bahkan juga tiada bentangan padang rumput mini yang berada di depan istana yang hari ini dikenal sebagai “Kota Larangan” (Forbidden City) Beijing. Semua bangunan ini sejak dari gua Zaman Batu hingga “Kota Larangan”, bukanlah ruang publik biasa. Tetapi, tempat segala maslahat penguasa berhimpun dan menyatu: “kekuasaan dan efek ilahiah dewa-dewa”. Di sini, warna alam dari unsur bebatuan lebih dominan. Namun, ihwal gagasan yang menyentak tentang kehadiran lorong-lorong menuju mulut pintu istana dan kastil pribadi yang diapit oleh bentangan laman rumput hijau baru muncul pada abad pertengahan oleh kaum aristokrat di Prancis dan Inggris. Lalu, dilanjutkan pada awal era modern yang mengakar kuat dan menjadi simbol kebangsawanan. Dari sini, kebangsawanan dilekatkan oleh laman rumput nan hijau. Semakin rapi tampilan rumput itu, semakin terkesan bangsawan sang pemiliki rumah atau kastil itu.

Lalu, sensasi apa yang diperoleh lewat laman rumput menghijau itu? Tak sedikit anasir yang terlibat dalam upaya menghadir dan merawat padang rumput para bangsawan itu. Bayangkan sebelum ditemukan mesin rumput yang bergerak otomatis dan pancutan air otomatis untuk menyiram seluruh bidang laman? Berapa banyak tenaga kerja yang dilibatkan akibat kehadiran sang laman hijau ini. Padahal lahan yang digunakan untuk memelihara rumput ini sama sekali tak bernilai ekonomis. Di atasnya, kita tak bisa memelihara ternak; juga tak boleh diinjak. Walau dalam setahun, diberi peluang menginjak dalam satu hari. Selebihnya untuk pandangan mata, tempat isterahat mata semata. Semakin luas dan semakin hijau laman itu; seakan sang pemilik yang berkuasa penuh itu menyeruakkan proklamai sepihak, bahwa saya sanggup menghadirkan pertunjukan hijau yang memukau di atas bumi ini. Ini juga sebuah sensani yang non kimiawi, apalagi biokimia.

Kisah awal laman rumput hijau ini berasal dari negeri-negeri sub tropis. Karena bawaan alam dan hutan mereka yang homogen, memberi ruang bentangan karpet bak lapangan golf yang indah. Kenyataan ini, amat sulit dihadirkan di negeri tropis yang heterogen dan basah lembab itu. Namun, teknologi penanaman rumput itu demikian maju, rambahan laman rumput hijau itu telah menerobos ke dunia tropis hingga ke Indonesia kini. Laman rumput hijau ini, menjadi tempat kegiatan sosial dan penyambutan tamu istimewa, tamu kehormatan, juga digunakan dalam momen-momen tertentu. Oleh sebab itu,  ruang-ruang publik, istana, kastil para bangsawan yang memiliki laman rumput hijau, selalu diiringi dengan “sign board” atau rambu: “Jangan injak kami” atau “Menjauh dari kami”.  Selanjutnya, laman ini menjadi simbol otoritas para pangeran dan kaum kerajaan di istana dan kastil. Tak sedikit kisah pemenggalan kepala para raja yang silih berganti, namun pergantian pemerintahan (perdana menteri) yang silih berganti itu tetap mempertahankan kehadiran laman rumput hijau sebagai simbol otoritatif sang penguasa.

Tersebutlah beberapa deretan kekuasaan otoritatif yang menghidangkan laman rumput hijau ini; istana negara, mahkamah agung, jaksa agung, gedung panglima tentara, kediaman presiden, kediaman gubernur. Begitu pula, secara serempak, laman rumput hijau ini menusuk ke bidang olahraga, terutama sepak bola, rugby, handball dan tennis. Sebab, selama ribuan tahun manusia menyelenggarakan segala jenis permainan di atas tanah, di atas lempung atau bahkan berseluncur di atas bongkahan es. Namun, saat ini manusia yang berhimpun dalam jumlah puluhan ribu di dalam sebuah stadion sepakbola, bisa mengaum dan meledakkan kegembiraannya bak gunung meletus pada sebuah malam, karena para penonton menatap orang-orang berlari dan berkejaran di atas laman rumput nan hijau, lalu melesakkan bola masuk ke gawang lawan: Goooooooll.... Gawang bergetar. Rerumput tetap diam dan membisu.

Ada satu sampiran satir dari Yuval Noah Harari tentang permainan sensasi anak-anak di kawasan kumuh Rio de Janeiro Brasil yang menendang bola-bola tiruan di atas pasir dan tanah. Namun, di sebuah kawasan sub urban nan kaya, di kota yang sama, anak-anak orang kaya bersenang-senang di atas lahan rumput yang dirawat dengan cermat. Lihatlah! Setiap Presiden Amerika yang baru dilantik, akan menyampaikan pidato kenegaraan di atas laman rumput nan hijau seraya menyambut tamu negara sahabat dalam suasana gempita. Dari sini terdefinisi bahwa laman rumput hijau melambangkan kekuatan politik, status sosial, capaian ekonomi sekaligus sensasi non kimiawi.***



KOMENTAR
Berita Update
Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat

Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat
Selasa, 20 November 2018 - 19:30 wib
Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018

Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018
Selasa, 20 November 2018 - 18:51 wib
Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama

Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama
Selasa, 20 November 2018 - 18:25 wib
Surat Suara Lebih Besar dari Koran

Surat Suara Lebih Besar dari Koran
Selasa, 20 November 2018 - 17:54 wib

2 Hafiz Rohul Raih Juara di MHQ ASEAN
Selasa, 20 November 2018 - 17:38 wib
Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor

Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor
Selasa, 20 November 2018 - 17:32 wib

Sabu Rp4 M Disimpan dalam Tas Ransel
Selasa, 20 November 2018 - 17:22 wib
Dua Mahasiswi Tewas Ditabrak Truk

Dua Mahasiswi Tewas Ditabrak Truk
Selasa, 20 November 2018 - 15:00 wib

Pemkab Komit Kelola Lahan Gambut
Selasa, 20 November 2018 - 14:30 wib

TP PKK Berikan Penanganan Stunting di 10 Desa
Selasa, 20 November 2018 - 14:00 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Ratusan Siswa Meriahkan Bulan Bahasa dan Kenduri Puisi  XII
Perlawanan Lewat Karya di “Padang Perburuan”

Minggu, 04 November 2018 - 14:10 WIB

Realitas Kekinian dalam "Padang Perburuan"

Minggu, 07 Oktober 2018 - 13:44 WIB

Teater Selembayung Menuju PTN

Minggu, 30 September 2018 - 13:58 WIB

LAM Riau Akan Sematkan  Gelar Adat untuk Sutardji

Minggu, 30 September 2018 - 13:42 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us