Pentas Serikat Kacamata Hitam

Menikmati Perlawanan

2 Maret 2014 - 09.57 WIB > Dibaca 1410 kali | Komentar
 
Menikmati Perlawanan
Tiga pendekar Abib, Ijul dan Eric menjadi daya tarik dalam pentas Serikat Kacamata Hitam produksi Teater Matan. Foto: *6/riaupos
Apapun bentuk dan konsep pertunjukan yang ditawarkan sutradara, pentas teater Serikat Kacamata Hitam adalah tontonan di mana kita dapat menikmati perlawanan di dalamnya, ujar salah seorang penonton, Angga Satria yang ikut dalam sesi diskusi pada pentas malam ke tiga, Sabtu, (22/2) lalu.

Laporan EDWIR SULAIMAN, Pekanbaru

PEMENTASAN teater Serikat Kacamata Hitam, sebuah naskah karya Saini KM yang disutradarai Deni Afriadi berlangsung selama tiga malam, 20-22 Februari di Anjung Seni Idrus Tintin. Pementasan dari produksi sanggar teater Matan itu melibatkan sekitar 30 pendukung yang dalam hal itu, mendapat apresiasi positif baik dari kalangan pelajar, mahasiswa maupun insan-insan seni dan pekerja teater di Riau.

Teater Matan asuhan Hang Kafrawi, kali ini mementaskan naskah realis karya Saini KM. Di mana Deni selaku sutradaranya sengaja memilih naskah tersebut. Bagi Deni, sudah lama sekali ia ingin mementaskan naskah Serikat Kacamata Hitam ini karena dari segi temanya menarik.

Persoalan dominasi kekuasaan dalam sebuah sistem pemerintahan, saya pikir tak akan pernah habis-habisnya selama yang namanya negara masih ada. Dia akan menjadi perbincangan pada tiap-tiap zamannya, kata Deni.

Tema kekuasaan yang menjadi titik konflik dalam pentas SKH itu juga disimak Ketua Umum Dewan Kesenian Riau (DKR), Kazzaini Ks. Katanya, entah disengaja atau tidak oleh sutradara terhadap pilihan naskah ini, yang jelas inti ceritanya mengetengahkan hal yang masih relevan di hari ini.

Menarik, penampilan para aktor dengan tingkat intensitas permainan yang cukup bagus ditambah dengan konflik terkait dengan dominasi kekuasaan di sebuah kampung. Saya kira persoalan-persoalan itu masih relevan hari ini meski pun kita tahu, naskah ini sebenarnya dibuat pengarang untuk memotret persoalan pemerintahan di masa Orde Baru (Orba), jelas Kazzaini yang hadir menyaksikan pada malam ke dua.

Akting yang Memikat
Kekuatan sebuah naskah realis terletak kepada pemain, di mana senjatanya pada dialog-dialog yang diucapkan serta peran yang dimainkan. Pentas SKH yang berdurasi hampir dua jam setengah itu menceritakan sebuah desa yang bernama desa Sungkur yang menjadi kacau semenjak pemeritahan Kepala Desa baru. Sifat kepala desa yang otoriter mewajibkan masyarakatnya menjadi anggota Serikat Kacamata Hitam, sebuah organisasi desa yang sangat tidak wajar. Seluruh anggota diwajibkan mengenakan kacamata hitam dan pakaian serba hitam. Di perparah lagi, orang-orang di Desa Sungkur dilarang berhubungan dan berpegian ke desa yang lain.

Suatu hari, desa kedatangan tokoh pemuda, seorang ahli pertanian yang ditugaskan mengembangkan potensi-potensi pertanian desa. Tapi sayangnya rencana pemuda itu tidak berjalan lancar karena Bujang, seorang pemuda desa yang merupakan anak dari almarhum kepala desa lama melarang pemuda untuk bekerja di desa tersebut.

Persoalan kemudian menjadi semakin rumit ketika Ibu Bujang menginginkan Pemuda asal kota menjadi menantunya. Ibu menduga Bujang tidak mau menerima Pemuda menjadi adik iparnya karena alasan takut tersaingi menjadi calon kepala desa. Namun sebenarnya, alasan Bujang ialah jika rencana pembangunan yang dilakukan pemuda berjalan lancar makarakyat desa Sungkur akan menjadi semakin sengsara sebab Bujang tahu betul bahwa rencana pembangunan itu hanya akan menambah kekayaan Kepala Desa Sungkur sekaligus Ketua Serikat Kacamata Hitam.

Tapi kemudian, rencana proyek pembangunan yang diajukan Pemuda justru ditolak oleh Kepala Desa. Hal ini membuat Pemuda semakin tidak mengerti dengan situasi desa Sungkur. Akhirnya pemuda itu mengalah dan memutuskan untuk kembali ke kota. Tetapi Bujang justru menentang keinginan pemuda itu, Bujang memaksa agar pemuda tetap tinggal di desa untuk sementara waktu demi keselamatan pemuda. Celakanya pemuda tersebut melarikan diri dan konflik terbesarpun terjadi kepada seluruh rakyat Sungkur hingga akhirnya Bujang dan Pemuda bersatu untuk melawan dan menumbangkan kekuasaan Kepala Desa.

Permainan akting dari para aktor dalam SKH mendapat apresiasi positif dari penonton. Salah seroang dari penonton, Angga mengakui permainan aktor sepanjang pementasan sudah tidak diragukan lagi dan sangat memuaskan hatinya selaku penonton. Bagaimana tidak? Contohnya tokoh Bapak Ketua atau Kepala Desa, dominasi kekuasaan dan sikap otoriter yang diperankan aktor membuat kita benci sekali. sampai-sampai rasanya mau saya maki bapak ketua itu, kata Angga yan gjuga merupakan musisi muda Riau tersebut.

Tidak hanya Angga, salah seorang mahasiswa Farmasi Universitas Riau, Desmariani yang turut menyaksikan pementasan mengatakan iri melihat permainan akting para aktor di atas panggung. Permainan aktornya menarik, Pemuda, Bapak Ketua, Bujang, Mak dan semuanyalah. Meski durasi pementasan panjang sekali tapi kita larut dalam konflik-konflik yang terjadi dalam cerita. Rasanya jadi ingin belajar teater juga, kata Desmariani yang terlihat dua malam menyaksikan pementasan SKH.

Akting bukanlah sesuatu yang hanya bisa diucapkan. Perlu proses dan waktu serta beberapa kiat seperti misalnya observasi dan tawaran-tawaran permainan yang disuguhkan aktor kepada sutradara dalam proses latihan. Salah seroang aktor SKH, Hang Kafrawi yang bereperan sebagai Bapak Ketua mengakui hal itu. Katanya, proses latihan SKH yang memakan waktu hampir tujuh bulan itu sememang dimanfaatkan kawan-kawan aktor untuk mencari dan menemui karakter yang tepat sesuai dengan peran masing-masing. Pencarian itu yang kemudian ditawarkan kepada Sutradara. Dalam prosesnya, kata Kafrawi tentulah terjadi bongkar pasang berkali-kali.

Untuk karakter saya sebagai Bapak Ketua, tak banyak kiat-kiat yang saya lakukan. Sebagai tokoh yang otoriter, saya memulai dengan fisik. Kumis dan janggut serta jambang sengaja saya pelihara selama enam bulan, tak dicukur-cukur. Sedangkan untuk karakter yang lebih mendalam, saya cukup mengingat memori saya terkait dengan tokoh-tokoh pemimpin otoriter, yang kemudian secara emosional saya coba hadirkan dalam setiap permainan, jelas Kafrawi yang juga merupakan kajur di Sastra Indonesia FIB Unilak itu.

Perbincangan Alot
Diskusi usai pementasan sepertinya menjadi agenda yang wajib pula bagi setiap pelaku tetaer di Riau ini. Karena dengan berdiskusi, ada banyak hal yang kemudian dapat diperbincangkan. Tak jarang pula dalam sebuah diskusi, para pelaku teater menemukan hal-hal baru yang dapat dijadikan referensi untuk ke depannya lebih baik.

Diskusi panjang yang berlangsung hampir tengah malam itu, memperbincangkan seputar proses kreatif, latar belakang pementasan, konsep pemanggungan serta beberapa hal tekhnis yang dari sudut pelaku teater lainnya perlu pembenahan.

Diskusi juga melebar ke persoalan terkait dengan alasan penulis menulis naskah Serikat Kacamata Hitam. Artinya, karya teater di atas pentas dapat dijadikan sebagai pintu pembuka untuk kemudian para seniman memperbincangkan hal-hal lain seperti politik, sosial, sejarah, ekonomi dan lain-lain.

Sebagai sebuah karya tentu saja memiliki kekurangan dan kelebihan dari sudut pandang penonton yang mengerti dengan teater. Hal itu disampaikan pimpinan sanggar Selembayung, Fedli Azis. Katanya, apapun bentuk dan konsep pertunjukan yang ditawarkan sutradara dalam pentas teater Serikat Kacamata Hitam adalah tontonan di mana penonton dapat menikmati perlawanan di dalamnya. Saya menikmati itu, menikmati karakter dari Pemuda dan Bujang yang melakukan perlawanan ketika keadaan timpang dan sudah carut marut, tegas Fedli.

Seniman Tak Ada Pensiunnya
Seniman ditandai dengan karyanya, sebuah proses keatif yang dihasilkan dan dilakukan secara kontinu itulah kemudian eksistensinya akan tetap bertahan. Dan tak ada waktu pensiun bagi seniman, semakin tua, semakin ditunggu karya-karyanya. Hal itu disampaikan Willy dalam diskusi usai pementasan Serikat Kacamata Hitam (SKH).

Pentas teater SKH produksi sanggar Teater Matan selama tiga malam berturut-turut itu menurut Willy merupakan proses untuk terus berkarya dan menunjukkan bahwa pekerja teater di Riau ini tak pernah berhenti untuk terus berinovasi dan berkarya.

Saya pribadi memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada sutradara Deni Afriadi dalam pentas Serikat Kacamata Hitam ini.

Dengan usianya terbilang masih muda sudah berbuat sesuatu, sudah menggelarkan karyanya. Hal ini menurut saya menarik, masih muda saja sudah menyutradarai sebuah pertunjukan teater. Jika hal ini dipertahankan secara kontinu dalam prosesnya, maka ke depan bisa kita bayangkan, semakin semaraknya teater di Riau ini, jelas Willy yang juga merupakan pimpinan Komunitas Riau Beraksi tersebut sembari menambahkan seniman itu semakin tua, akan semakin dinantikan karya-karyanya.

Sedangkan Fedli menyebutkan generasi pelaku teater di Riau hari ini dalam tahap pembelajaran yang membutuhkan semangat besar untuk tetap bertahan. Untuk itu kata Fedli perlunya pelaku-pelaku seni yang masih muda sebagai regenerasi meneruskan dan tetap menjayakan teater di Riau ini. Kita di sini sama-sama belajar, belajar menyutradarai, akting dan lainnya. Saya hendak mengatakan, hari ini Deni sudah berbuat sesuatu dan kita tentu juga menunggu Deni yang lainnya, kata Fedli.

Sementara itu, pimpinan sanggar Teater Matan, Hang Kafrawi dalam diskusi tersebut membenarkan apa yang telah disampaikan Willy dan Fedli. Kata Kafrawi, di sanggar Matan, memang tidak menetapkan satu orang sutradara. Kami sepakat untuk memberikan laluan kepada kawan-kawan  yang kiranya punya keinginan dan kemampuan untuk menyturadarai pertunjukan selama ia bisa mempertanggung jawabkannya, kata Kafrawi.

Menanggapi hal itu, Deni Afriadi mengucapkan terima kasihnya atas sokongan dan dukungan dari kawan-kawan seniman yang sudi hadir mengapresiasi karyanya. Pentas teater SKH itu sendiri diakui Deni sebagai proses pembelajaran di seni teater. Tentu saja, ini diharapkan bukanlah yang pertama dan terakhir. Kami di Teater Matan akan berusaha tetap menawarkan pertunjukan teater lainnya sebagaimana juga kawan-kawan teater dari komunitas lain yang juga tak berhenti untuk terus berkarya. Ya, semoga jaya teater di Riau ini, tutup Deni.(fed/*6)
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us