Cabe-cabean

2 Maret 2014 - 10.08 WIB > Dibaca 4461 kali | Komentar
 
Cabe-cabean
Saat ini, berkembang sebuah istilah baru yang sangat popular dan marak digunakan oleh komunitas Alay, yaitu cabe-cabean. Istilah cabe-cabean ini, oleh Imey Mey, juga dijadikan sebuah lagu dan sangat sering ditayangkan di televisi ataupun diperdengarkan di radio beberapa waktu belakangan. Bahkan, lagu “Cabe-Cabean” itu pun dijadikan musik selingan sebelum jeda iklan oleh sebuah stasiun televisi swasta nasional.

Istilah cabe-cabean, pada awalnya, digunakan secara terbatas di kalangan remaja yang tergabung dalam kelompok balap motor liar di Jakarta. Pemenang dalam balap motor liar itu, konon, dapat mengencani salah seorang (gadis) anggota kelompoknya. Anggota kelompok yang dikencani itulah yang kemudian mereka sebut cabe-cabean.

Belakangan ini, penggunaan istilah cabe-cabean meluas: digunakan untuk menyebut anak baru gede (ABG) perempuan yang gampang dijadikan “mainan” ABG laki-laki “nakal”. Hal tersebut tercermin dalam lirik lagu Imey Mey yang dikutip berikut ini.

Orang bilang ABG sekarang genit-genit juga kecentilan keganjenan
gaya berlebihan keluyuran
cuma nampang doang
cabe-cabean
orang bilang cewek gampangan
cabe-cabean
cewek-cewek murahan
cabe-cabean
orang bilang cewek kampungan
cabe-cabean
cewek buat mainan


Dari cuplikan lirik lagu itu dapat diketahui bahwa istilah cabe-cabean mengandung pengertian ‘gadis remaja (cewek) murahan, kampungan, gampangan, dan suka keluyuran malam sehingga dapat dijadikan “mainan” laki-laki’.

Dilihat dari bentuk katanya, cabe merupakan varian (pengucapan takbaku) dari kata cabai ‘tanaman perdu yang memiliki buah berbentuk bulat panjang dengan ujung runcing. Buah yang sudah tua berwarna merah kecokelatan atau hijau tua, berisi banyak biji, dan berasa pedas’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008:...).

Cabe-cabean (yang berupa kata ulang berimbuhan: kata ulang cabe-cabe yang mendapat akhiran /-an/) memiliki makna ‘menyerupai cabe’, sama halnya dengan kata mobil-mobilan dan orang-orangan yang memiliki makna ‘menyerupai mobil’ dan ‘menyerupai orang’.

Mobil-mobilan adalah mainan berupa miniatur mobil (tiruan) yang sangat disukai anak-anak dan orang-orangan adalah boneka berbentuk manusia (tiruan) yang juga sering dijadikan mainan anak-anak atau digunakan untuk menakuti-nakuti burung di sawah. Dengan demikian, jika mengikuti logika itu, kata cabe-cabean seharusnya memiliki makna ‘cabe tiruan yang digunakan sebagai mainan’.

Pada mobil-mobilan dan orang-orangan, wujud benda tiruan masih terlihat sama atau dapat dianggap sama dengan wujud benda aslinya. Hal yang sama tidak terjadi pada cabe-cabean. Wujud benda tiruan pada cabe-cabean bukan berupa cabai, melainkan berupa orang atau manusia. Tampaknya, pemaknaan istilah cabe-cabean tidak ditekankan pada wujud benda tiruannya, tetapi pada fungsi (sebagai mainan) dan rasanya (pedas).

Betulkah cabe-cabean adalah “mainan” yang enak dan pedas, seumpama sambal yang selalu dicari orang saat makan? Hanya Tuhan yang mengetahuinya. Yang pasti, orang yang sudah terbiasa makan dengan sambal tidak akan merasakan kenikmatan makanannya bila tidak dilengkapi dengan sambal yang enak dan pedas itu. Jangan-jangan, hal seperti itu yang dikehendaki oleh istilah cabe-cabean: rasa pedas ABG perempuan yang dapat dinikmati dan dicari oleh ABG laki-laki.

Demikianlah, komunitas Alay selalu dinamis dan produktif menciptakan istilah-istilah baru, yang tentu saja tidak mengacu pada pedoman pembentukan istilah bahasa Indonesia baku. Bahkan, mereka lebih sering membuat istilah secara suka-suka dan melanggar kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bagi mereka,  yang penting istilah tersebut dapat menunjukkan eksistensi ke-alay-an mereka.

Celakanya, istilah-istilah yang muncul dari kalangan komunitas Alay itu cepat popular karena langsung digunakan dalam program-program hiburan hampir pada semua stasiun televisi nasional yang ada di Indonesia, seperti program “Fesbuker”, “Campur-campur”, dan “YKS”.

Istilah-istilah mereka itu memang sangat efektif untuk memancing tawa dalam setiap ucapan para pembawa acara dan artis pemain hiburan, baik untuk mengejek atau menertawai sesama pemain, bahkan untuk menyapa jutaan pemirsa hingga ke pelosok negeri ini. Istilah-istilah dari komunitas Alay itulah yang menjadi suguhan paling “lezat” bagi remaja-remaja yang selalu berkiblat ke televisi.

Bagi para remaja yang masih belum memiliki ketahanan pribadi yang kuat, ucapan  dan segala atribut artis sering dijadikan acuan berperilaku. Itulah sebabnya, penggunaan istilah-istilah Alay berkembang dengan cepat sekali, tidak lagi digunakan terbatas oleh kalangan komunitas Alay saja, tetapi juga sudah menjadi istilah yang digunakan oleh semua kalangan remaja  sampai ke semua daerah yang dapat dijangkau oleh jaringan sinyal “kotak ajaib” bernama televisi itu.

Tidak terkecuali cabe-cabean. Kini istilah itu juga dikenal dan digunakan oleh remaja di seluruh Indonesia. Bukan tidak mungkin, fenomena perilaku nakal yang menjadikan cabe-cabean sebagai “makanan nikmat” yang selalu dicari dan/atau mudah didapatkan tersebut juga menjadi “penyakit menular” yang menjangkiti seluruh remaja di negeri ini, tidak terkecuali remaja Bumi Melayu yang  kita cintai ini. Semoga hal itu tidak terjadi. Amin!


Raja Saleh
Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Sabtu, 17 November 2018 - 08:31 wib

Dari Ambon Daihatsu Jelajahi Pulau Seram

Follow Us