Negeri tanpa Pagi dan Petang

9 Maret 2014 - 09.19 WIB > Dibaca 1528 kali | Komentar
 
Negeri tanpa Pagi dan Petang
Kalau ada negara yang malamnya lebih panjang dari siangnya, atau sebaliknya, maka itu benar-benar kenyataan di kawasan kutub. Mereka pun punya musim yang lebih banyak, mulai musim dingin (salju), semi, panas hingga musim gugur. Tapi Riau yang beriklim tropis ternyata memiliki suasana alam yang hampir mirip dengan negeri-negeri di kutub atau sub tropis itu. Selain musim hujan dan panas, kini ada lagi musim gugur dan musim seminya. Musim gugur adalah saat pepohonan meranggas karena panas, yang lantas terbakar atau dibakar, dan musim seminya adalah saat bibit-bibit sawit mulai tumbuh usai disemai pada lahan-lahan itu.

Riau kini juga punya malam yang lebih panjang dibanding negeri-negeri lain di kawasan tropis ini. Matahari yang biasanya sudah muncul pukul 6.00 WIB, kini enggan untuk menampakkan diri. Kadang pukul 9.00 WIB, barulah sang surya muncul. Itu pun dalam kondisi yang redup. Kadang jadwal kemunculannya jauh lebih siang. Sebelum petang datang, biasanya matahari pun sudah tak terlihat lagi sekitar pukul 16.00 WIB, hingga malam menjelang. Negeri ini sekarang telah berubah menjadi negeri tanpa pagi dan petang, negeri yang mataharinya enggan memberi energi kehidupan.

Memang benar teori biologi bahwa matahari adalah sumber energi kehidupan. Dalam teori biologi, matahari menghidupkan tumbuhan dengan proses fotosintesisnya. Dari sanalah manusia dapat hidup, karena tumbuh-tumbuhan adalah bahan makanan untuk hewan peliharaan dan manusia sekaligus. Matahari juga menjadi sumber energi bagi kehidupan lainnya. Bagaimana jika ia enggan muncul di pagi hari? Inilah konsekuensi yang kita rasakan sekarang. Saat matahari tak muncul juga, anak-anak sekolah diminta gurunya datang ke sekolah pukul 08.00 WIB, tidak seperti jadwal biasanya pukul 07.00 WIB. Bahkan dalam kondisi kian ekstrem, sekolah mulai diliburkan hingga berpekan-pekan, bahkan berbilang bulan. Akibat matahari tak muncul, pesawat tak bisa diterbangkan, hingga siang menjelang. Bandara bahkan tutup hingga enam jam dari seharusnya mulai ada aktivitas penerbangan pukul 06.30 WIB. Betapa banyak aktivitas yang terganggu karena ketidakmunculan matahari. Dan betapa benar anggapan bahwa matahari memang sumber energi kehidupan.

  Matahari sebenarnya masih setia menemani orang Riau. Ia masih terbit sesuai jadwalnya, dan tidak ingkar janji. Ia masih menjalani orbitnya sesuai sunnatullah. Yang kita bicarakan saat ini adalah soal asap yang menutupi matahari saat pagi dan petang. Sudah lebih sebulan belakangan langit Riau dipenuhi asap. Tak hanya memenuhi ruang publik dengan asap berikut segala konsekuensinya, asap-asap itu juga menutupi sinar matahari.

  Musim asap kini seakan menjadi agenda tahunan. Bahkan ia bisa lebih sering dari beberapa tahun belakangan. Baru saja Agustus-Oktober 2013 lalu asap menyelimuti negeri, kini asap-asap kembali datang di awal tahun 2014. Dan tidak ada jaminan setelah asap awal 2014 ini usai dalam beberapa pekan ke depan, pada tahun yang sama bulan Agustus-Oktober mendatang, asap akan menyelimuti kembali.

Kita memang tak pernah belajar apa-apa dari pengalaman yang lalu. Akibatnya alam kembali memberikan konsekuensi, memberikan musim lain yang sama sekali tak menyenangkan: musim asap. Tapi yang lebih buruk dari itu adalah musim di saat kita tak dapat menikmati matahari terbit dan matahari terbenam secara semestinya. Selamat tinggal sunrise dan sunset. Alangkah buruknya keadaan di sebuah negeri tanpa pagi dan petang. Malam-malam terasa lebih panjang dan membosankan. Itulah negeri kita sekarang.***


Muhammad Amin
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 November 2018 - 14:00 wib

Diprioritaskan untuk Koridor Rumbai dan Tenayan Raya

Rabu, 21 November 2018 - 13:45 wib

Bupati Motivasi Anak Siak Terus Berprestasi

Rabu, 21 November 2018 - 13:36 wib

Oknum Polisi Pesta Narkoba

Rabu, 21 November 2018 - 13:30 wib

Pencegahan Kejahatan, Buat Pelaku Tidak Nyaman

Rabu, 21 November 2018 - 13:15 wib

Syamsuar Hadiri Haul Marhum Pekan

Rabu, 21 November 2018 - 13:07 wib

2019, Satu Suara Dihargai Rp1.000

Rabu, 21 November 2018 - 13:00 wib

Pelajar Jadi Korban Tabrak Lari

Rabu, 21 November 2018 - 12:45 wib

Pemkab Bakal Hibahkan Gedung SMK

Follow Us