Oleh Muhammad Ikhsan
Infak Masjid
Rabu, 06 Juni 2018 - 11:58 WIB > Dibaca 2818 kali Print | Komentar
Infak Masjid
RIAUPOS.CO - Ramadan adalah bulan yang paling banyak memberi ganjaran untuk kebaikan apa saja yang kita lakukan. Kesempatan ini juga dilakukan banyak masjid dan musala untuk mengumpulkan infak (sumbangan) sebanyak-banyaknya dari para jamaah. Kisarannya bisa antara Rp1 juta sampai Rp5 juta. Bahkan lebih untuk setiap malamnya. Beberapa masjid membuat target tertentu untuk melakukan perbaikan ataupun peningkatan fasilitas fisiknya. Para jamaah lebih termotivasi lagi untuk memberikan infaknya.

Beberapa masjid yang fasilitasnya sudah bagus, kadang-kadang bingung untuk memanfaatkan dana yang terhimpun. Maka godaan untuk memoles dan merehab masjid pun muncul. Mulai dari mengubah warna cat, membuat dinding keramik, mengganti dinding keramik dengan corak lain, mengganti pagar, membuat menara, dan semacamnya.

Akhirnya dana dari infak yang dikumpulkan tersebut terpakai semua untuk hal-hal sebenarnya tidak terlalu urgen. Namun karena uangnya ada, maka harus dihabiskan. Masyarakat pun puas karena pembangunan fisiknya nampak jelas dan pertanggungjawaban pengurus masjid selesai.

Akan tetapi, kalau dilihat dari prioritas keperluan umat dewasa ini pembangunan yang tidak urgen seperti di atas harusnya dikesampingkan dulu untuk membiayai hal-hal yang betul-betul urgen. Problem ekonomi umat, khususnya fakir miskin harusnya mendapatkan perhatian lebih besar.  Dalam bulan Ramadan ini, mungkin masyarakat berpikir bahwa persoalan fakir miskin sudah terselesaikan dengan adanya zakat fitrah di akhir Ramadan.

Padahal yang mereka terima per keluarga hanya berkisar antara Rp300 ribu sampai Rp1 juta. Kita barangkali tidak sadar, bahwa jumlah uang yang terkumpul dari zakat fitrah untuk kebanyakan masjid-masjid kita, jumlahnya masih jauh lebih rendah dari uang yang kita kumpulkan untuk infak pembangunan masjid kita. Silakan cek ke pengurus masing-masing.

Memang tidak salah kalau kita memiliki masjid yang megah dan nyaman. Tetapi, apalah artinya punya masjid megah, kalau masyarakat miskin di sekitarnya tidak bisa diayomi.  Rasanya lebih baik punya masjid yang tampilannya biasa saja, tetapi masyarakat miskinnya bisa disantuni dengan baik.  

Perlu pencerahan untuk perubahan mindset baik pada masyarakat maupun pengurus mesjid untuk bisa memanfaatkan dana infak yang diberikan ke masjid untuk bukan hanya memperbaiki fasilitas masjid, namun juga untuk mengayomi masyarakat miskin.  Kerelaan dari masyarakat penyumbang dan kesiapan dari pengurus masjid untuk menyalurkan dana ini bagi masyarakat miskin tentu diperlukan.

Saya yakin, kalau kesadaran ini bisa ditumbuhkan di tengah-tengah umat dan pengurus masjid-masjid kita, in sya Allah kemiskinan di tengah-tengah kita semakin cepat teratasi.  Tentu saja hal ini juga berlaku untuk di luar Ramadan.  Masjid harusnya bisa berfungsi untuk membantu mengentaskan kemiskinan minimal di lingkungannya. Umat yang memiliki kelebihan bisa menyalurkan bantuannya lewat masjid secara praktis.  Masyarakat miskin pun akan lebih cinta dengan masjid dan menjauhkan mereka dari kekufuran. Bukankah kefakiran mendekatkan kepada kekufuran?***

Oleh Muhammad Ikhsan, Dosen Program Doktor Lingkungan Unri

KOMENTAR
Berita Update
Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan
Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang
Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik
Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan
Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Dari Ambon Daihatsu Jelajahi Pulau Seram
Sabtu, 17 November 2018 - 08:31 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam
Sabtu, 16 November 2018 - 17:30 wib
Cari Berita
Petuah Ramadhan Terbaru
Rapat Paripurna DPRD Molor

Jumat, 27 Juli 2018 - 10:53 WIB

Memperbaiki Salat

Rabu, 13 Juni 2018 - 11:02 WIB

Puasa dan Sifat Malu

Selasa, 12 Juni 2018 - 11:14 WIB

Tatkala Harta Dipanaskan

Senin, 11 Juni 2018 - 09:53 WIB

Membasmi Mentalitas Korupsi

Minggu, 10 Juni 2018 - 12:39 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us