Pementasan Operet Anak Tengkulup Paya

Kisah Tragedi dan Kepolosan Kanak-kanak

9 Maret 2014 - 10.32 WIB > Dibaca 2847 kali | Komentar
 
Kisah Tragedi dan Kepolosan Kanak-kanak
Fidy, Ipah, Nenek, pohon-pohon dan burung-burung bernyanyi bersama dalam operet anak Tengkulup Paya karya Rina Nazaruddin Entin (NE) yang digelar di Anjung Seni Idrus Tintin, 7-9 Maret 2014. Foto: Teguh Prihatna/riaupos
Dunia kanak-kanak tak ada matinya. Apalagi yang kreatif menggali potensi dirinya di berbagai kegiatan positif. Salah satunya seni teater yang dipersembahkan anak-anak Sanggar Keletah Budak (SKB) dalam pementasan operet anak Tengkulup Paya (cerita rakyat Kuantan Singingi, Riau) di Anjung Seni Idrus Tintin, komplek Bandar Serai/purna MTQ Pekanbaru, Jumat (7/3) pukul 16.00 WIB lalu.
----------------------

PENTAS gelap. Suasana cukup hening. Penonton sudah tidak sabar ingin segera menyaksikan aksi anak-anak berusia 5-13 tahun di atas panggung gedung megah itu. Beberapa detik setelah pembawa acara membacakan susunan pemain dan semua pendukung pertunjukan, terdengar suara jam weker. Berdering kencang. Perlahan, lampu menyala ke tengah panggung, menyinari ruang kamar dengan aksesoris yang lucu. Seorang anak kecil sedang tertidur pulas, ditemani jam weker kesayangannya.

Suara tiga jam weker (diperankan Ines, Sabin dan Naya) yang memekakkan telinga tidak membuat gabis belia itu bergeming. Dia tetap saja larut dalam mimpi-mimpinya. Tiga weker yang kesal karena tidak digubris, lantas bernyanyi dan mengoyang-goyang tubuh gadis kecil bernama Fidy (diperankan Pay). Suara seorang perempuan, yang berperan sebagai Ibu (diperankan Diva Amelia) berteriak lebih kencang dari luar kamar juga tidak dihiraukan gadis itu. Suara yang mulai meninggi dengan nada ancaman akhirnya mampu membuat Fidy bangun dari tidurnya. Namun bukannya berterimakasih kepada weker karena membangunkannya di pagi hari, Fidy malah memarahi tiga wekernya yang tampak ketakutan. Panggung kembali gelap.

Saat lampu kembali menyala di tengah bagian depan panggung, adegan berpindah dari kamar ke ruang makan keluarga. Seorang lelaki (diperankan Ifan) yang menjadi Ayah terlihat sedang menikmati bacaannya sembari menunggu anak dan istrinya untuk sarapan bersama. Fidy yang berjalan ke meja makan dengan raut wajah cemberut tak mau menjawab semua pertanyaan Ayahnya dengan sopan. Akhir adegan awal itu, ditutup dengan keinginan keluarga itu berlibur ke kampung mereka, menemui nenek Fidy di Kuantan Singingi.

Di kampung, Fidy mendapatkan pengalaman berharga dari nenek dan teman-teman (diperankan Khansa dan Xena) barunya. Nenek (diperankan Nisa) mengajak Fidy ke sungai dan hutan untuk melihat serta merasakan suasana yang alami dan asri. Nenek mengharapkan, Fidy tidak hanya kenal mal-mal dan teknologi modern tapi juga kenal pohon-pohon (diperankan Kalda, Angeli, Putri dan Dini), burung-burung (diperankan Nisa, Tyas, Dila dan Fitri) dan hewan-hewan lainnya. Nenek juga menceritakan legenda yang dikenal di kampung mereka yakni Tengkulup Paya. Sebuah kisah yang mengesankan dan menjadi batu loncatan pada Fidy untuk mau berubah dan suka bangun pagi.

Harus diakui, dunia kanak-kanak memang tak ada matinya. Penuh keceriaan dan menyenangkan sekali. Karena itu, saya menghadirkan fantasi-fantasi kanak-kanak agar anak-anak yang memainkan cerita dan anak-anak yang menonton tergugah dan terhibur melihat jam weker yang lincah bisa bicara dan tertawa. Mereka juga bisa melihat burung-burung dan pepohonan bercanda dan bersukaria, ungkap penulis naskah dan sutradara operet anak Tengkulup Paya, Rina Nazaruddin Entin (NE) usai pementasan.

Cerita dan Panggung
Sebenarnya kisah yang dihadirkan dalam cerita rakyat Riau (Kuansing) berjudul Tengkulup Paya yang disusun sastrawan Riau BM Syamsuddin dalam buku cerita rakyat Riau hanya menuturkan kisah anak durhaka. Berkisah tentang sebuah keluarga miskin yang terdiri dari seorang ibu (diperankan Miftah) dan anak gadisnya yang berusia 12 tahun (diperankan Amanda). Anak gadisnya yang belia mengalami frustasi semenjak ayahnya meninggal. Ditambah lagi, si ibu tak mampu memenuhi keperluan anaknya sehari-hari seperti makan minum yang layak serta memenuhi keinginan lainnya.

Anak itu suka melawan ibunya dan membantah bahkan membentak serta menghina ibunya, hampir setiap saat. Anak itu juga memarahi semua orang yang coba mengingatkan tabiat buruknya. Karena tak mampu lagi mendidik anaknya, maka ibunya memasrahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa. Anak itu terperosok ke dalam tanah yang menelan tubuhnya hidup-hidup. Gadis itu meminta ampun pada ibunya namun nasi sudah menjadi bubur dan dia menghilang. Tanah tempat anak itu tenggelam berbau busuk dan semua tanaman tak bisa tumbuh di atasnya. Hingga saat ini, kisah Tengkulup Paya dikenal masyarakat di sekitar kampung Mudik Ulo, Lubuk Jambi, Kuansing.

Kalau sekedar menghadirkan kisah ini saja, anak-anak mungkin kurang tertarik karena kisahnya terlalu tragis dan saya tak ingin kisah dalam karya operet ini hanya kisah tragedinya. Saya menghadirkan kisah lain yang lebih ceria namun syarat dengan unsur edukasi (pendidikan) bagi anak-anak agar tidak melawan kepada kedua orang tuanya, ulas Rina NE.

Banjir Apresiasi
Kisah keluarga Fidy yang tinggal di kota dan kisah neneknya di kampung merupakan kisah tambahan untuk keperluan karya pemanggungan. Kisah tambahan itu dimaksudkan untuk mendekatkan cerita rakyat dengan dunia kanak-kanak masa kini. Agar tambah menarik, sutradara menggandeng orang-orang yang ahli dalam bidang-bidang pendukung pemanggungan. Untuk penata musik, Rina mengajak musisi Iwan bin Landel dan kawan-kawan, penata gerak Tri Sepnita, penata panggung dipercayakan kepada Saho dan kawan-kawan, kostum dan make up kepada Serly dan Henny.

Karya yang saya lihat tadi cukup menyenangkan dan memberikan warna dalam perkembangan teater Riau. Ini jarang-jarang terjadi dan saya berharap Rina NE dan kawan-kawan terus mendidik anak-anak dalam bidang seni akting. Salut buat Sanggar Keletah Budak dan Teater Selembayung Riau yang terus eksis menghasilkan karya-karya baru setiap tahunnya, ulas Ketua Umum Dewan Kesenian Riau (DKR) Kazzaini Ks yang ikut menonton bersama ratusan penonton lainnya.

Sementara itu, Kepala Museum Sang Nila Utama Riau Yoserizal Zen dengan tegas berujar, perlu diacungi jempol kepada Rina yang setia untuk mengangkat cerita-cerita rakyat Riau ke atas panggung. Selain Tengkulup Paya, sebelumnya Rina juga mementaskan cerita rakyat Riau yang lain seperti Batang Tuaka (Inhu), Si Lancang (Kampar) dan lainnya. Saya terharu menyaksikan anak-anak kecil yang mampu bekerja sama dan menampilkan kemampuannya mengolah bakat akting mereka. Mudah-mudahan ke depan mereka menjadi aktor-aktris terbaik Riau dan Indonesia, kata Atuk Yos, sapaan akrab sastrawan Abad 21 itu yang memang rajin menonton pementasan Sanggar Keletah Budak.

Salah seorang penonton asal SMAN 5 Pekanbaru Maulana Imung Wicaksono yang menonton bersama beberapa temannya mengatakan, puas dan suka melihat anak-anak kecil yang percaya diri dan mampu mengajak penonton larut dalam tontonannya. Akting mereka begitu alami dan mereka tampil dengan dirinya yang polos sehingga penonton bertahan sampai pentas usai.

Saya lihat tadi, penonton tak mau keluar dan merasa belum puas menyaksikan cerita yang disuguhkan. Mereka tetap bertahan di tempat duduk masing-masing, padahal pentas sudah berakhir, jelas Imung melepas tawa.

Penikmat operet anak Tengkulup Paya produksi Sanggar Keletah Budak memberi apresiasi dan terbukti sepanjang pertunjukan berlangsung mereka tersenyum senang dan kadang tak mampu menahan tawanya. Bahkan ada juga penonton yang terpingkal-pingkal menyaksikan aksi aktor-aktris cilik bermain dan bernyanyi bersama. Saya tak percaya mereka bisa berakting dan bernyanyi di atas panggung disaksikan ratusan penonton. Luar biasa dan saya harap ke depa masih bisa menonton karya-karya terbaru sanggar anak-anak ini, ungkap Erwin, salah seorang mahasiswa di kota ini.

Salah seorang orang tua aktor cilik, Sugeng menuturkan, siapapun yang menonton karya ini akan menyukainya. Menonton karya ini, dirinya pun seperti melakukan aktivitas refresing otak karena penuh dengan hiburan tanpa meninggalkan pesan berharga, tidak saja bagi anak-anak tapi remaja dan orang tua.

Ke depan, saya berharap agar pemerintah daerah bahkan pihak-pihak swasta mau mengulurkan bantuannya kepada sanggar ini dan komunitas-komunitas lainnya yang kreatif menghasilkan karya-karya seni mereka. Pemerintah dan pihak swasta jangan menutup mata karena mereka adalah ujung tombak dari perkembangan seni dan budaya daerah, tegasnya.

Pementasan operet anak Tengkulup Paya digelar selama tiga hari, 7-9 Maret 2014. Setiap harinya, gedung pertunjukan disesaki penonton dari berbagai kalangan. Baik nak-anak, remaja, orang tua hingga kakek nenek.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Follow Us