Pahlawan dan Puisi

9 Maret 2014 - 10.37 WIB > Dibaca 2002 kali | Komentar
 
Pahlawan dan Puisi
Alex Nainggolan
“Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” ungkap Ir. Soekarno suatu ketika. Ya, sejarah memang upaya melawan lupa. “Kekuasaan terbesar manusia adalah kekuasaan melawan lupa,” kata Milan Kundera. Lewat sejarah, setidaknya kita diajak mengembara ke masa silam. Sebuah masa yang barangkali teramat ganjil. Sebuah masa, yang menurut W.S. Rendra, tak seorang pun kuasa menghapusnya. Melalui sejarah pula, kita diajak bermenung—atau setidaknya memberikan catatan ihwal perjalanan bangsa yang pernah terpuruk—agar tidak terperosok ke dalam lubang yang sama.

Sejarah telah menciptakan sejumlah nama, baik yang layak disebut pahlawan maupun yang layak dianggap pengkhianat. Meskipun demikian, tak jarang pula sejarah menciptakan wilayah kelabu: tidak jelas dalam mengidentifikasi seseorang, sebagai pahlawan atau pengkhianat.

Pahlawan adalah orang yang mempunyai jasa bagi bangsanya, orang yang lebih mengutamakan kepentingan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadinya, orang yang rela memberikan apa saja demi kemajuan negerinya. Setiap langkah dan sepak terjang pahlawan terbit dari pangkal hati yang terdalam. Ketulusannya setara dengan kasih sayang ibu kepada anaknya.

Pahlawan, dengan demikian, tidak harus selalu digambarkan secara heroik, seperti yang pernah dilakukan Chairil Anwar dalam sajak “Diponegoro” dan Toto Sudarto Bachtiar dalam sajak “Pahlawan Tak Dikenal”. Artinya, sesungguhnya kita pun pantas menyematkan gelar pahlawan kepada siapa pun yang tulus berbakti pada bangsa ini (seperti guru, tukang sapu jalanan, tukang angkat sampah, dan petugas keamanan).

Sebagaimana halnya sejarah, puisi terkadang dianggap sebagai kekuatan yang mampu membongkar segala ingatan kolektif purba. Setiap rangkaian diksi (puisi) dimahfumi terlibat dalam unsur kognitif pembacanya sehingga muncul sebuah rasa yang mendorong terbukanya jalan pikiran. Bahwa puisi mampu membuka rongga di dada yang pernah tersumbat, barangkali dapat dimaknai sebagai kebenaran. Itulah sebabnya, dengan teks-teks yang meliputinya, puisi dipercaya sebagai cermin.

Setidaknya, puisi dianggap mampu berteriak dan peka terhadap kemanusiaan sehingga kesadaran di dalam setiap individu bisa terbentuk. Oleh karena itu, setiap membaca kelindan kata yang runut di dalam puisi, terutama puisi dengan tema kepahlawanan, kita seperti disergap oleh semangat patriotisme yang tinggi. Saat membaca “Krawang-Bekasi”-nya Chairil Anwar, misalnya, kita seperti merasa mampu mengubah peristiwa dengan sekejap. Pun seolah kita merasa mampu dengan mudah berbuat seperti yang dilakukan Chairil Anwar, semudah membalik telapak tangan; betapa mayat bergeletakan, terbaring di sepanjang daerah itu.

Atas dasar itu, kemerdekaan yang merupakan buah kemenangan dari para pahlawan menuntut kerja yang serius yang harus senantiasa diurus. Kemerdekaan tidak cukup hanya dipertahankan dan diisi, tetapi juga harus diberi makna yang segar. Kemerdekaan tidak cukup diisi dengan kehadiran sejumlah sergapan peristiwa yang menggiriskan hati, semacam korupsi, kaum miskin yang bertambah banyak, atau gontok-gontokan di setiap pelosok negeri. Peristiwa yang menggiriskan itu, kadangkala, justru membuat kita abai pada ihwal “kerja keras” yang pernah diperbuat oleh para pahlawan.

Sebuah republik lahir, tulis Goenawan Mohammad, adalah sebuah modernitas dengan segala kesalahannya, tak melihat dirinya datang dari surga. Sebuah republik, lanjutnya, tak sakral dan tak selesai berbicara. Artinya, ada sebuah “perjuangan” yang panjang ketika sebuah negara berdiri dan tak akan pernah final lantaran mustahil untuk tertutup dari segala hal.

Kemerdekaan yang kita peroleh merupakan sebuah potret dari kesungguhan untuk berdiri di atas kaki sendiri, mandiri mengatur setiap bagiannya sendiri, utamanya untuk kepentingan masyarakat banyak. Bertindak sendiri, lalu teguh dengan keputusan yang diambil, sebab ia diperoleh dari sebuah “lorong yang tragis”, dengan menumpahkan darah juga air mata.

Tak heran pula jika Agus R. Sarjono pun menggugat ihwal kemerdekaan negeri ini. Dalam sajaknya, “Iklan Wisata Sebuah Biro Perjalanan”, ia berkisah tentang keterpecahbelahan daerah di Indonesia, lengkap dengan deskripsi para korbannya. Adalah sebuah kondisi yang menyakitkan jika ternyata persatuan dan kesatuan di negeri ini telah begitu retak dan berkarat.

Dalam sajak itu, Agus bertutur dengan ironi yang getir: Jika anda dari negeri maju/ di sini bakal Anda dapatkan pengalaman baru./ Anda dijamin tak akan merasa bosan/ karena bisa bertualang ke berbagai pedalaman./ Sengaja kami batasi jumlah kota-kota besar/ sebanyak jumlah konglomerat, hingga tak sukar/ kita mengingat. Selebihnya dusun dan hamparan gelap,/ seperti hamparan kaum melarat.//

Sungguh, betapa nikmat kemerdekaan negeri ini tidak hadir dalam sekejap. Kemerdekaan adalah sebuah proses yang panjang, dengan riak ataupun ombak yang melingkupinya. Di sana, cucuran keringat, air mata, bahkan nyawa muncul dengan kental pada sosok pahlawan. Semua itu ada yang tercatat, tetapi banyak pula yang luput oleh sejarah, seperti yang diungkapkan Chairil Anwar dakam “Krawang-Bekasi”-nya: ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan/ kemenangan dan harapan/ atau tidak untuk apa-apa,/ Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata/ Kaulah sekarang yang berkata//

Begitulah, para pahlawan telah banyak “berbuat” untuk negeri ini. Bagaimana dengan kita?***


Alex R. Nainggolan
Pembaca puisi, berdomisili di Edelweis, Poris Plawad, Kota Tangerang
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Follow Us