Membela Marwah Melayu

Minggu, 05 Nov 2017 - 10:54 WIB > Dibaca 586 kali | Komentar

 “DUH, baru tahu sekarang,” kalimat pendek itu muncul dari kawan saya Abdul Wahab melalui pesan pendek telepon genggam pagi semalam. “Kalau tahu lebih awal, mau aku berangkat ke Pekanbaru, bergabung dengan kawan-kawan atau saudara-saudara dari Kuansing dalam apa yang mereka sebut pertemuan untuk menegakkan marwah Melayu,” sambung Wahab lagi.

Mungkin tidak sedikit yang membaca pesan yang dibawa Wahab tersebut, yakni ajakan khususnya kepada masyarakat dan pelajar maupum mahasiswa asal Kuansing di Pekanbaru untuk berkumpul bakda Zuhur hari itu. Dipusatkan di tugu keris, simpang Diponegoro – Pattimura, pesan tersebut menyatakan bahwa pertemuan dimaksudkan untuk menyatakan solidaritas dalam bingkai membela marwah Melayu. Dari tugu tersebut, demikian saya beranggapan setelah menggabungkan berbagai informasi waktu itu, mereka akan menuju Balai Adat Melayu Riau, yang hanya berjarak sekitar 200 meter. Dari sini, mereka akan bergabung dengan sekitar seribu orang masyarakat Kuansing yang datang langsung dari negeri jalur itu.

Syahdan, cepat dapat diduga, bahwa program tersebut terlecut akibat percekcokan antara dua anggota DPRD Riau di Bandara Sultan Syarif Kasim II awal pekan, yakni Suhardiman Amby dengan Kordias Pasaribu. Berbagai versi berkembang melalui media terutama daring . Tetapi yang pasti, pihak Kordias telah memberi keterangan dalam kesempatan pertama kepada pihak Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) antara lain karena dikaitkan dengan posisi Suhardiman sebagai seorang pemuka adat Melayu baik di Kuansing maupun di LAMR sendiri.


LAMR memamg sejak Selasa lalu aktif meminta keterangan, tidak saja dari pihak Kordias, tetapi juga Suhardiman, dan anggota DPRD yang menyaksikan peristiwa cekcok tersebut baik langsung maupun tidak langsung. Tentu saja, kasus ini oleh LAMR didekati secara adat yang dengan kebesaran Melayu, senantiasa berupaya mencari penyelesaian secara baik.  Pastilah akan dikedepankan sistem hukum yang merujuk pada bagaimana hukum ditegakkan laksana membunuh ular, amat populer dalam masyarakat Kuansing. Dalam sistem ini disebutkan ular sebagai simbol kejahatan harus dipukul mati, tetapi tongkat pemukulnya tidak patah, sedangkan rumput tempat bianatang itu melata,  tidak rebah. Jika disederhanakan, ungkapan itu bermakna bagaimana hukum ditegakkan tanpa mencederai hal-hal lain.

Wahab pada gilirannya menitikberatkan rasa marwah Melayu yang menjadi payung aksi solidaritas hari Sabtu tersebut. “Salut aku pada masyarakat Kuansing yang langsung bergetar hatinya ketika pemimpinnya, pemuka adatnya, terusik oleh sesuatu yang tak patut. Sebab bagaimanapun, pemuka adat adalah salah satu simbol suatu komunitas adat yang di dalamnya menyimpan berbagai khazanah jiwa masyarakat,”  tulis Wahab.***

Dia kemudian menulis bahwa masyarakat kabupaten/ kota lain di Riau juga berperasaan sama, sehingga apa yang dilakukan masyarakat Kuansing tersebut juga dapat disebutkan mewakili perasaan masyarakat Riau. “Itulah sebabnya engkau hendak ke Pekanbaru, bergabung dengan warga Kuansing itu kan?” tanya saya.

Meski tidak menjawab pertanyaan itu, saya paham bahwa jarang sekali terdengar wujud solidaritas menegakkan marwah Melayu secara kolektif ini. Setelah pembentukan Provinsi Riau tahun 1957, wujud menegakkan marwah Melayu seperti hanya selesai dalam ungkapan kecuali pada beberapa peristiwa seperti Kongres Rakyat Riau II sampai awal reformasi.  “Tentu kita harap, wujud unjuk rasa untuk menegakkan marwah Melayu itu berjalan damai,” tulis Wahab.

Di sisi lain, memang banyak sisi-sisi yang seharusnya mewujudkan aksi menegakkan marwah Melayu itu. Cara yang paling ideal adalah berprestasi dan sama-sama mendorong prestasi dalam masyarakat pada bidang apa pun, di samping amat perlu pula melakukan apa yang dilakukan masyarakat Kuansing hari Sabtu itu. Hal ini merupakan sebagai suatu bentuk pernyataan, sehingga orang lain tahu apa yang Melayu rasakan dan inginkan, sehingga mudah pula mereka mengambil sikap. Sesuatu yang saya pikir lumrah dalam masyarakat kini. ***



KOMENTAR
BERITA TERBARU
Hati-hati Bunda, Keseringan Bilang "Jangan" pada Anak Bisa Bahaya

Hati-hati Bunda, Keseringan Bilang "Jangan" pada Anak Bisa Bahaya

25 Februari 2018 - 12:31 WIB
Rumah Sunting yang Kian “Cling”

Rumah Sunting yang Kian “Cling”

25 Februari 2018 - 12:29 WIB

Eks Wakapolda Sumut Diduga Dibunuh

25 Februari 2018 - 12:22 WIB
SMA Cendana Raih Juara Lexie English Writing

SMA Cendana Raih Juara Lexie English Writing

25 Februari 2018 - 12:22 WIB
Nuansa Sosial Warnai Milad SMKN 7

Nuansa Sosial Warnai Milad SMKN 7

25 Februari 2018 - 12:18 WIB
Susu Kental Manis Tak Layak Dikonsumsi Anak

Susu Kental Manis Tak Layak Dikonsumsi Anak

25 Februari 2018 - 12:10 WIB
Bunda Bad Mood? Coba Lakukan Latihan Ini

Bunda Bad Mood? Coba Lakukan Latihan Ini

25 Februari 2018 - 12:07 WIB
Hilang Nyaman di Taman Rekreasi

Hilang Nyaman di Taman Rekreasi

25 Februari 2018 - 12:05 WIB
BERITA POPULER
PTPN V dan Bank Riau Kepri Pesta Gol

PTPN V dan Bank Riau Kepri Pesta Gol

25 Feb 2018 - 11:05 WIB | 495 Klik
Dewasa tapi Tetap Galau? No More!

Dewasa tapi Tetap Galau? No More!

25 Feb 2018 - 11:07 WIB | 433 Klik
KPU Diputus Tidak Bersalah

KPU Diputus Tidak Bersalah

25 Feb 2018 - 11:42 WIB | 368 Klik
Smartphone Kena Air Hujan? Begini Caranya

Smartphone Kena Air Hujan? Begini Caranya

25 Feb 2018 - 10:18 WIB | 351 Klik
RS Awal Bros Pekanbaru Gelar Simposium Cohesive

RS Awal Bros Pekanbaru Gelar Simposium Cohesive

25 Feb 2018 - 10:25 WIB | 265 Klik

Follow Us