Bentuk Satgas Tangkal Radikalisme
Minggu, 01 Juli 2018 - 14:11 WIB > Dibaca 461 kali Print | Komentar
Bentuk Satgas Tangkal Radikalisme
Menag RI, Lukman Hakim Saifuddin.
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Radikalisme tak hanya muncul di kampus umum negeri, tetapi juga menyusup di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN). Menag Lukman Hakim Saifuddin memerintahkan rektor PTKIN untuk membentuk satuan tugas (satgas) atau task force guna menangkal perkembangan paham radikal dan ekstrimisme di kampus.

Perintah pembentukan satgas itu merupakan salah satu hasil diskusi dalam halal bihalal dengan jajaran rektor PTKIN seluruh Indonesia di rumah dinas Menag Jumat malam lalu (29/6). ’’Agar rektor lebih serius melakukan counter narasi. Tidak hanya wacana, tetapi juga ada aksi,’’ kata Lukman.

Dia menjelaskan, kampus PTKIN harus merespons merebaknya paham Islam radikal yang saat ini sudah meresahkan masyarakat.

Menurut dia, paham Islam radikal dan ekstrimisme mulai memengaruhi sejumlah mahasiswa bahkan dosen. Baik itu di kampus umum negeri, maupuan PTKIN. Contohnya pernah terjadi pembaitan ISIS di lingkungan kampus UIN Syarif Hidayatullah, Tangerang Selatan.

’’Masing-masing rektor membuat task force. Kumpulkan dosen yang memiliki kemampuan untuk mengisi forum-forum publik dengan narasi Islam rahamatan lil alamin,’’ tuturnya.

Forum publik itu mulai dari mimbar akademik di kampus, kolom tulisan di media massa, seminar-seminar publik, sampai timeline media sosial.

Dia tidak ingin forum-forum publik itu malah jadi media promosi kelompok paham Islam radikal. Lukman tidak ingin Islam malah dibajak oleh kelompok radikal dan ekstremisme yang ingin menjatuhkan bangsa Indonesia. Kata dia, keberadaan task force atau satgas itu cukup penting. Sebab urusan menangkal radikalisme di kampus tidak bisa hanya dibebankan ke rektor. ’’Saya paham rektor itu kesibukannya luar biasa,’’ jelasnya.

Selain membentuk satgas, Lukman juga ingin memperbaiki kurikulum di PTKIN. Misalnya dosen mata kuliah umum seperti ekonomi, kedokteran, dan sejenisnya, diberikan penataran tentang keislaman dan keindonesia yang cukup. Begitu pula mahasiswa yang mengambil jurusan umum, juga diberikan porsi perkuliahan studi Islam yang komperhensif.

’’(Mata kuliah) Studi Islam perlu untuk semua program studi,’’ katanya.

Lukman merasa heran ketika ada mahasiswa atau bahkan dosen yang menjadikan fiqih sebagai akidah. Sebab, varian fiqih itu sangat banyak. Untuk itu dia mengatakan mahasiswa harus dibekali dengan dasar-dasar ilmu keislaman yang cukup.

Pertemuan ini juga dihadiri rektor UIN Syarif Hidayatullah periode 1998-2006 Azyumardi Azra. ’’Mengimpor radikalisme ke Indonesia itu keblinger. Proses radikalisasi di kampus umum dan UIN itu ada. Di prodi-prodi umum,’’ ungkapnya.(wan/oki/)

KOMENTAR
Berita Update
Bayi Lahir Bisa  Langsung Dapat Akta

Bayi Lahir Bisa Langsung Dapat Akta
Jumat, 16 November 2018 - 12:15 wib

Berusaha Lari saat Diperiksa Petugas
Jumat, 16 November 2018 - 12:00 wib

Jojo Tumbangkan Ginting
Jumat, 16 November 2018 - 11:15 wib

Lagi, Longsor Km 81 Lintas Riau-Sumbar
Jumat, 16 November 2018 - 10:45 wib

Antusias Saksikan Kirab AAL
Jumat, 16 November 2018 - 10:30 wib

Dedet Desak Penyelesaian Jembatan Siak IV
Jumat, 16 November 2018 - 10:20 wib
DPRD Tantang  Balik Pemprov Puasa SPPD

DPRD Tantang Balik Pemprov Puasa SPPD
Jumat, 16 November 2018 - 10:00 wib
High Waist Jeans
Si Classic Ala 90’S
Jumat, 16 November 2018 - 09:36 wib
Cari Berita
Nasional Terbaru
Ketum Bro Sandi: Di Masa Depan, Air Akan Lebih Berharga dari Emas
Megawati Ingin Diganti

Jumat, 16 November 2018 - 11:00 WIB

Ketum Bro Sandi: Di Masa Depan, Air akan Lebih Berharga dari Emas
GTT Digaji Rp1,5 Juta Sebulan

Kamis, 15 November 2018 - 09:55 WIB

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 20:40 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us