Tragis Rupa

Minggu, 12 Nov 2017 - 10:48 WIB > Dibaca 154 kali | Komentar

Melayu tampil dalam rupa tragis. “Rupanya Melayu tampil di ujung-ujung dalam kenyataan tragis”.  Boleh saja Melayu dianggap belum menjadi nyata (kenyataan tragis), namun telah memasuki tahap “rupa” (rupanya, tragis). Bagaimana kaidah ini berlangsung dan terjadi? Saya menggunakan istilah “di ujung atau di ujung-ujung”, karena berangkat dari dentuman awal dipancangnya Visi Riau 2020 itu. Ya, sejak  2.000, dia telah menjadi azam, sekaligus menjadi penggerak dan pemicu segala kegiatan atau perbuatan di atas tanah Riau ini. Semuanya dimaksudkan untuk memajukan Melayu dan kebudayaan Melayu. Sejak 2.000, maka sudah terentang 17 tahun usia hiruk pikuk tak menentu itu. Kini, tersisa 3 tahun lagi menjelang 2020, menjadi pusat kebudayaan Melayu. Tapi, kini serba senyap dan menepi.

 Gemuruh Melayu itu amat berdentum pada sebuah kala yang memihak, baik secara “political will”, apatah lagi dilihat dari imperatif kebudayaan yang diusung oleh masing-masing kabupaten/kota di Riau. Terutama, tentulah anggaran provinsi yang begitu besar dislot untuk menjayakan visi 2020. Pada masa itu, desentralisasi, otonomi daerah menjadi wacana yang amat seksi, sehingga semua provinsi seakan diberi ruang dan anggaran yang lebih ekspresif untuk membangun dan menjelitakan negeri-negeri mereka. Maka, terjadilah perlombaan dalam rempak dan rentak politik identitas. Positifnya, terjadi pula semacam “perlombaan” antara provinsi yang kaya sumber daya mineral dan bahan tambang, dengan provinsi yang miskin sumber daya alam, namun mumpuni sisi sumberdaya manusia.

Masa-masa ini, bagi provinsi dengan sumberdaya alam yang melimpah, seakan-akan tengah melaksakan “pesta besar”. Inilah kesempatan untuk menjawab sebagian kehilangan hak dan kaidah selama sentralisasi politik yang amat kuat era rezim Orde Baru. Begitu banyak uang yang beredar, begitu besar pula investasi yang masuk ke negeri ini. Dampaknya? Kehidupan kebudayaan dan kesenian amat rancak, amat mengagumkan. Segala festival yang berbau Melayu, diskusi, seminar, konferensi bertaraf internasional berbau Melayu, politik identitas, sampai penyelenggaraan PON juga dilaksanakan di Riau. Kongres-kongres partai politik, kongres kaum profesi, kongres ormas-ormas dan NGO (LSM) amat marak terjadi dan berlangsung di tanah ini. Wah negeri ini, tengah menyelenggarakan “kenduri besar”.

Mungkin lupa, mungkin pula tahap pencapaian sumberdaya manusia yang masih rata-rata, semua kegemilangan itu seakan ditelan bumi. Dia tidak berbekas, tanpa kesan. Berlalu bak air bah nan membandang. Kini, dia menjadi kenangan (tak lebih dari kenangan emas yang sudah menjadi milik masa lalu). Apakah karena salah urus? Gedung kesenian yang begitu megah, nyatanya tidak mampu mengangkat “keunggulan” seni Melayu untuk masuk dalam rekahan “matahari seni” dunia. Begitu pula di sektor wira usaha, hanya berdentum dalam kepalan jargon. Termasuk pula industri kreatif, rupanya hanya setakat “meninggi-ninggikan baliho”, kenyataan pada aras “kopi darat” tiada sama sekali, sirna dan hampa. Dan saat ini, kita disibukkan pula oleh kemauan pemerintah untuk menderaskan sektor wisata. Namun, wisata yang disodorkan tak lebih dari wisata (turisme) “arus perdana” atau “mainstream tourism”. Jika ranah ini juga yang digarap, tidak kan bisa kita mengungguli Kepri, Sumut, apatah lagi Jogja dan Bali. Mestinya, carilah celah-celah yang serba “tematik”, tak mainstream. Bagaimana dan apa? Wow... berdiskusi dan merenunglah. Jangan hanya lewat bisikan para punggawa di sekeliling penguasa yang pandangannya serba terbatas (maklum berada dalam sangkar emas kekuasaan; bawaannya sok tahu, suka masuk ke ranah abu-abu).

Momen otonomi daerah yang hampir dua dasawarsa berlalu itu, tak dimanfaatkan secara maksimal dan kemas oleh pemerintah daerah. Momentum booming uang dan anggaran (yang besar) tidak membekas di Bengkalis (bandingkan dengan Kutai Kertanegara Kaltim). Begitu pula tak membekas di serata Provinsi Riau (bandingkan berkah tsunami di Aceh, pembangunan infrastruktur jalan raya dengan standar Eropa). Infrastruktur yang dibangun tidak lebih dari monumen-monumen “mercu gading” yang tak bermanfaat secara langsung bagi rakyat (sibuk membangun gedung-gedung pemerintah) yang rakyatnya gamang memandang, apatah lagi mendatangi dan memasukinya. Demaga hebat dengan nama besar yang bertengger di pantai Kota Bengkalis, tak selari dengan pertumbuhan pelayaran antar pulau (insulander) yang nyatanya kian menurun. Sebab, ketika pembangunan jalan raya diperkuat, orientasi transportasi manusia otomatis beralih ke moda overland (transportasi darat) dan ferry yang berpembawaan roll on- roll off (roro), yang mampu membawa muatan kendaraan mobil dan motor untuk melayari gerakan antar pulau, termasuk dari Batam, Karimun dan Bintan yang masuk ke Sumatera melalui pelabuhan Tanjung Buton Siak.

Dikatakan pembangunan kota-kota menjadi suatu azam pembangunan Melayu, juga tidak nampak sama sekali kota yang bisa dibanggakan, kecuali Kota Siak Sri Indrapura yang amat molek berbungkus taman dan hutan tropis oleh Arwin AS. Namun, tidak dilanjutkan secara lihai oleh pemimpin hari ini. Nyatanya, Melayu dan kebudayaan Melayu tengah menjalani fase “rupa-rupa tragis” lembaga-lembaga kesenian dan kebudayaan yang sejatinya menjadi pilar dan mitra pemerintah, sama sekali tak “berdarah” (bukan lagi kurang darah). Termasuk juga media massa (cetak dan elektronik), telah bergeser menjadi media-media umum dan biasa-biasa saja yang menumpang terbit di daerah, dengan tiada usaha untuk menggali “mata air” kebudayaan Melayu. Termasuk lembaga pucuk nilai semacam Lembaga Adat Melayu Riau, mulai bergeser ke tepi, ditugasi menebali “garis pinggir” lapangan. Tak lagi memikul “tugas dan mandat” serba “pucuk”. Syarikat-syarikat bisnis, kian tumpul dalam kebijakannya terhadap kebudayaan dan kesenian. Seakan memasang jarak dan tembok hijab yang tinggi-tebal. Lembaga kesenian yang membuat kita berani  menegakkan kepala berjalan di permukaan bumi ini, mulai letoi, jengah dan tanpa asa. Figur sentralnya kian terpinggir atau bahkan terpinggirkan. Sebab, dunia ini memang berorientasi pada “kemudaan”. Ketuaan atau kerentaan adalah kutukan, bagi dunia yang berorientasi serba muda. Maka, setiap hari orang-orang tua memamer foto-foto masa muda. “Ini gaya ayah masa muda, ini style bunda dua puluh tahun lalu”. Dan tidak pernah; “Ini foto ayah masa kini yang terserang stroke”. He he. Apa yang salah pada Melayu dan lembaga kebudayaan Melayu? Jawabnya: Tiada perencanaan yang masak di kala muda. Memetik rupa tragis di masa tua.


KOMENTAR
BERITA POPULER
Kapal Patroli Raksasa Buatan Batam Diluncurkan

Kapal Patroli Raksasa Buatan Batam Diluncurkan

23 Nov 2017 - 10:22 WIB | 969 Klik
Suparman dan DjoharDihukum 6 Tahun Penjara

Suparman dan DjoharDihukum 6 Tahun Penjara

23 Nov 2017 - 10:58 WIB | 807 Klik
Cagubri Dari Demokrat Masih Berproses

Cagubri Dari Demokrat Masih Berproses

23 Nov 2017 - 10:35 WIB | 801 Klik
Setnov Sudah Coreng Citra DPR

Setnov Sudah Coreng Citra DPR

23 Nov 2017 - 12:04 WIB | 758 Klik
Pasar Baba Boentjit Perkaya Atraksi Pinggir Sungai Musi

Pasar Baba Boentjit Perkaya Atraksi Pinggir Sungai Musi

23 Nov 2017 - 10:02 WIB | 687 Klik

Follow Us