Jerebu

16 Maret 2014 - 09.25 WIB > Dibaca 6300 kali | Komentar
 
Jerebu
H Syafruddin Saleh Sai Gergaji
Tidak ada kata jerebu termaktub pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata itu dipadankan saja dengan kata asap yang bermakna ‘uap yang dapat terlihat yang dihasilkan dari pembakaran’ (KBBI, 2008:91). Kata asap, dengan demikian, belumlah memadai untuk memaknai (menandai) kondisi negeri yang sebagian wilayahnya (luas) disergap asap, seperti yang terjadi di Provinsi Riau akhir-akhir ini. Kata yang dapat memaknai kondisi seperti itu adalah jerebu.

Bahasa Melayu membedakan antara asap dan jerebu, meski keduanya boleh dikelompokkan pada kata (yang) bersinonim. Cakupan makna asap  hanya terbatas pada uap api pembakaran pada kadar yang wajar. Sementara itu, jerebu mencakupi pembakaran hutan atau rimba yang marak uap apinya sehingga merebak ke segenap ceruk dan ke sekotah daerah yang luas, yang mengakibatkan jarak pandang berkelabut disaputnya dan mengakibatkan sesak bernapas.

Banyak kosakata bahasa Melayu yang bersinonim: artinya mirip, tetapi nuansa maknanya berbeda. Dalam kehidupan sehari-hari, kosakata (bahasa Melayu) yang bersinonim itu sering dirancukan penggunaannya. Sebut saja kata senduk, sudip, sudu, dan camce. Keempat-empatnya (dalam bahasa Indonesia) disebut sendok. Begitu pula pinggan, piring, dan tadah. Dalam bahasa Indonesia, ketiga-tiganya disebut piring. Sebagai akibatnya, untuk membedakan sendok yang satu dengan sendok lainnya, bahasa Indonesia harus (terpaksa) membentuk kata turunannya: sendok nasi, sendok makan, sendok teh, dsb.

Contoh lain kosakata bahasa Melayu yang bersinonim adalah selimut dan geba(r). Selimut bermakna ‘segala jenis dan bentuk kain yang dipakai menyelimuti badan ketika berbaring atau saat tidur’, sedangkan geba(r)  berarti ‘selimut tebal yang lazimnya dari wol’. Ada pula kata haus dan kahang, yang hanya berbeda pada kadarnya: haus ‘dahaga’, sedangkan kahang ‘sangat dahaga; haus yang sangat haus atau haus pada puncak rasanya’.

Bahasa Melayu juga membedakan antara tengah-hari (pukul 10—14), petang (pukul 14—17.30), senja (pukul 17.30—menjelang terbenam matahari), dan sabelime (ketika matahari merah jingga akan tenggelam; menjelang magrib). Kalau hendak disebutkan, masih banyak contohnya.

Intinya, dalam berbahasa hendaknya kita menerapkan asas “ketepatan” dan “kesesuaian”. Tepat, artinya kata yang digunakan dapat menyatakan dengan tepat/sesuai dengan yang dimaksudkan penutur atau penulis. Sesuai, artinya kata yang digunakan dapat dipahami pendengar/pembaca sebagaimana yang dimaksudkan pengucap/penulis. Dengan kata lain, prinsip “ketepatan” dan “kesesuaian” akan menjadikan kata itu sangkil (tepat arti) dan mangkus (tepat makna).

Seyogyanyalah kita selalu berupaya menerapkan penggunaan kosakata (baik bentuk dasar maupun bentuk turunannya) dengan memertimbangkan dan menjaga nuansa makna sebagaimana mestinya. Kata-kata yang bersinonim tidaklah sama (persis) nuansa maknanya. Kata penggunaan berbeda dengan pemakaian. Pun kata simak berbeda dengan perhati(kan). Mengapa? Karena antara kata dasar guna dan kata dasar pakai, nuansa maknanya berbeda. Kata guna nuansa maknanya terarah untuk sesuatu sebagai alat, sedangkan kata pakai untuk sesuatu yang dikenakan (bukan dikenakkan, pen.) ke tubuh atau benda. Kata dasar simak bermakna saksama memerhatikan, sedangkan kata perhati(kan) nuansa maknanya lebih hanya sekedar memerhatikan saja. Hal ini bukanlah subjektivitas penulis saja (yang memandai-mandai), tetapi memang begitulah ada dan keberadaannya pada bahasa Melayu yang menjadi alas asas muasal bahasa Indonesia.

Tulisan ini sekaligus dimaksudkan untuk mengkritisi KBBI yang juga banyak merancukan pemaknaan kata. Banyak kosakata bahasa Melayu yang belum dimuatkan pada KBBI, misalnya kata jerebu dan kata kahang. Kalaupun dimuat, kahang dirujuk pada kohong yang berarti ‘berbau busuk, seperti bau bangkai’ (KBBI, 2008:713), bukan berarti ‘sangat dahaga’. Itulah sebabnya wajar jika dulu ada niat membuat Kamus Bahasa Melayu Riau. “Kitab Pengetahuan Bahasa, Kamus Logat Melayu Johor, Riau, dan Lingga” (karya Raja Ali Haji) seharusnya menjadi acuan rujukan utama penyusunan KBBI. Memperkaya kosakata bahasa Indonesia tidak patut mengabaikan kamus karangan pencipta Gurindam 12 itu, dan tidak layak pula menyimpang dari kaidah tata bahasanya.

Begitulah, mudah-mudahan Provinsi Riau dan seluruh wilayah negeri ini segera terhindar dari “bencana asap”, seiring dengan (di)muncul(kan)nya kosakata yang secara cermat dapat memaknainya: jerebu.

Mungkinkah?  Wallaahu a’laam! Salam.***


H  Syafruddin Saleh Sai Gergaji
Pensyarah di Fakultas Ilmu Budaya Unilak
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 10:30 wib

Pencatut Nama Kapolda Riau Ditangkap

Kamis, 15 November 2018 - 10:16 wib

Puluhan Pasangan Terjaring Razia

Kamis, 15 November 2018 - 10:00 wib

Anggaran Makan SMAN Plus Dihentikan

Kamis, 15 November 2018 - 09:55 wib

GTT Digaji Rp1,5 Juta Sebulan

Kamis, 15 November 2018 - 09:38 wib

Kerusakan Jalan Datuk Laksamana Semakin Parah

Kamis, 15 November 2018 - 09:36 wib

Geger, Harimau Terjebak di Antara Ruko

Kamis, 15 November 2018 - 09:00 wib

BPK Temukan Kelebihan Bayar Rp239 Juta

Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Follow Us