Operet Anak Tengkulup Paya

Kenalkan Teater Sejak Usia Dini

16 Maret 2014 - 18.58 WIB > Dibaca 1689 kali | Komentar
 
Kepolosan dan keluguan, puluhan anak-anak dari Sanggar Keletah Budak (SKB) berakting di atas panggung dalam pentas Operet Anak Tengkulup Paya. Memainkan karakter tokoh yang diperannya masing-masing, tampaklah kemudian kreativitas dan juga jati diri anak-anak tersalurkan lewat media seni yang disebut teater.

Laporan EDWIR SULAIMAN, Pekanbaru


SANGGAR Keletah Budak asuhan Teater Selembayung Riau mempersembahkan operet anak berjudul Tengkulup Paya di Anjung Seni Idrus Tintin pada 7-9 Maret lalu. Naskah Tengkulup Paya itu sendiri seperti yang dijelaskan sutradara, Rina Nazaruddin Entin (NE) merupakan cerita rakyat yang berasal dari Kuansing, legenda tentang anak durhaka.

Di sebuah kampung dahulunya terdapat seorang anak perempuan yang hidup bersama ibunya. Tetapi anak perempuan tersebut sangat pemalas. Tidak hanya itu, anak perempuan itu juga merasa risih dan malu dengan kehidupan mereka yang miskin. Dia merasa iri ketika melihat teman-temannya dibelikan apa saja oleh orang tuanya. Sementara dia tidak dapat meminta apa diinginkan karena ibunya hanya bekerja di ladang milik orang. Setiap hari pulang hanya bisa membawa sedikit makanan, upah dari kerjanya itu.

Suatu hari anak perempuan tersebut merasa muak dan kesal. Dia mengatakan kepada ibunya bahwa sangat malu dengan pekerjaan ibunya yang hanya meminta-minta dari orang. Hal itu kemudian membuat hati ibunya terluka dan ibunya kemudian lari meninggalkan anaknya yang tak tahu membalas budi tersebut. Ketika kemudian anak perempuan itu sadar, ia ingin mengejar ibunya, namun tatkala melewati tangga di depan pintu rumah, ia terjatuh ke tanah. Dan tanah disekitarnya tiba-tiba lunak atau hidup yang kemudian menelan anak perempuan tersebut.

Sampai sekarang, menurut Rina, dari pengakuan masyarakat setempat memang ada tanah seperti itu di sebuah kampung yang bernama Mudik Ulo. Tapi di atas pentas, cerita Tengkuluk Paya ini tidak serta merta dipergelarkan begitu saja. Rina yang juga merupakan pengasuh di Sanggar Keletah Budak itu mengemasnya dengan cerita modern, ada cerita di dalam cerita. Korelasi antara pesan cerita rakyat dengan kisah modern, tetap terjaga di tangan Rina sebagai sutradara.

Dalam setiap garapan di Sanggar Keletah Budak yang menjadi pertimbangan saya adalah dunia anak-anak yang memiliki keceriaan dan menyenangkan. Makanya saya selalu menghadirkan fantasi kanak-kanak agar mereka yang memainkan peran dan juga penonton bisa terhibur sekaligus hatinya tergugah dengan pesan cerita yang hendak disampaikan, ungkap Rina yang juga sebagai penulis naskah Operet Anak Tengkulup Paya tersebut.

Ruang Kreativitas Anak
Teater sebagai media seni yang senjatanya terdiri bahasa, gerak dan laku dapat mengembangkan karakter individu yang tidak hanya pada satu bidang seni saja. Dengan memperkenalkan teater kepada anak sejak dini, dapat pula mengembangkan kreativitas anak-anak. Hal itu disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unilak, Dr Junaidi SS MHum. Katanya, secara sadar atau tidak, apa yang dilakukan Sanggar Keletah Budak adalah mendidik mental anak-anak untuk bisa dan berani tampil di hadapan orang banyak.

Tampil di muka umum itu tidak mudah, perlu mental yang kuat. Saya kira, dengan di didik atau dikenalkan anak-anak kepada teater, bisa diuji nantinya mereka akan menjadi orang yang siap tampil di hadapan umum dengan karakter dan komunikasi yang terbentuk dengan baik, kata Junaidi.

Mempelajari teater juga mampu meningkatkan keperibadian dan membangun kepekaan sosial karena apa yang ditampilkan di pentas merupakan potret sosial dari realitas masyarakat. Hal itulah kemudian menurut Junaidi, anak-anak SKB secara otomatis akan terlatih untuk peka terhadap apa yang terjadi di masyarakat. Mereka bermain, bersenang-senang sekaligus mendapat pembelajaran di dalam proses teater tersebut, terangnya.

Selain itu, pentas operet anak Tengkulup Paya juga merupakan upaya memperkenalkan sastra kepada anak-anak. Mendekatkan mereka kepada seni teater yang berarti juga mengajari mereka apresiasi terhadap seni-seni lainnya sebagai pendukung dari teater itu sendiri. Terlebih lagi, naskah-naskah yang diangkat di SKB adalah berasal dari cerita-cerita rakyat di Riau. Jutru itulah poin pentingnya, saya kira. Artinya cerita-cerita rakyat Riau yang kaya dan memang telah ada sejak dulu yang selama ini hanya bisa dibaca, ketika diangkat ke dalam media teater, ceirta itu akan menjadi lebih menarik lagi. Sangat positif, disanalah kearifan-kearifan lokal dapat terangkat yang tentu saja sesuai dengan keingianan kita bersama bagaimana pendidikan dan pengetahuan terhadap nilai-nilai muatan lokal di Riau ini tetap terjaga dan terwarisi kepada anak-anak kita sekarang, jelas Junaidi lagi.

Senada dengan hal itu, teaterawan Riau, Hang kafrawi menyebutkan SKB dibawah asuhan Selembayung adalah upaya yang sangat positif dalam rangka membangkitkan kreativitas anak-anak dengan memanfaatkan dunia kesenian sebagai medianya. Ruang dan peluang itu cukup tampak dan berdampak baik dari apa yang telah dilakukan SKB.

Seni pada umumnya memberi kebebasan kepada manusia untuk berkreatifitas. Dalam proses itu juga sebenarnya ada banyak pembelajaran terkait dengan karakter building di dalam seni teater. Capaian-capaian itu menjadi sesuatu yang otomatis didapatkan oleh sesiapa saja yang mempelajari teater. Capaian yang dimaksud, seperti kepercayaan diri, menunjukkan eksistensi diri, belajar disiplin, berkomunikasi, dan lain sebagainya.

Saya kira ini yang luar biasa itu. Ketika anak-anak tampil dengan percaya dirinya di atas panggung, menunjukkan eksistensi dirinya. Kebanyakan anak-anak sekolahan tidak tersalurkan kreatifitas dan kemampuan dirinya sehingga ketika dewasa, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Di Barat, kalau boleh saya mengambil contoh, pelajaran seni peran menjadi pelajaran wajib sehingga pada usia yang masih dini, mereka sudah bisa tampil bercerita dan berbicara dengan baik di depan umum. Nah, Pada keletah budak, hal itulah yang tersalurkan dengan baik, inikan pendidikan yang luar biasa, jelas Pimpinan Sanggar Matan tersebut.

Konsisten Garap Cerita Rakyat Riau
Sebelumnya, SKB telah sukses mementaskan operet anak Awang Putih pada 2009, kemudian cerita rakyat yang berjudul Si Lancang  2011. Konsistensi ini memang menjadi target dan program dari SKB seperti yang dikatakan Rina.

Cerita-cerita Rakyat Riau yang menjadi pilihan SKB memang sudah menjadi keinginan dan kesepakatan bersama untuk diangkat. Itulah yang kemudian digilirkan tiap tahunnya. Disebutkan Rina hal itu dilakukan untuk memperkenalkan kepada khalayak keberadaan cerita rakyat Riau yang sebenarnya cukup kaya dan bervariasi, terutama kepada anak-anak. Di samping itu juga semoga pertunjukan yang dipentaskan dapat pula menjadi pembelajaran bagi anak-anak zaman sekarang ini di mana mereka lebih mengetahui serial kartun-kartun yang disuguhkan di televisi.

Ke depannya, SKB juga sudah mempersiapkan beberapa cerita rakyat Riau yang lainnya seperti Umbut Muda Gelang Banyak dari Kabupaten Siak, Mahligai Keloyang dari Kabupaten Indragiri Hilir dan Mambang Linau dari Kabupaten Bengkalis. Dan masih ada beberap apilihan lagi yang perlu disesuaikan dan dibicarakan untuk persiapan ke depannya. Yang jelas, Insyaallah kami akan terus produksi dan hal itu tercapai tentu saja tak lepas dari support penonton baik dari orang tua anak, guru-guru dan yang terpenting itu adalah semangat anak-anak SKB dan bantuan dana yang cukup, jelas Rina.

Seribuan penonton yang hadir selama tiga hari di Anjung Seni Idrus Tintin mengapresaisi pertunjukan operet Tengkulup Paya yang berlangsung sekitar satu jam lebih tersebut. Melihat pola tingkah anak-anak bermain dengan polos terkadang juga memukau, penonton tertawa dan juga merasa sedih di beberapa adegan yang menuntut demikian. Namun cerita rakyat yang disuguhkan membuat penonton merasa dekat dengan hal-hal yang diceritakan di dalam pertunjukan.

Hal itu juga diungkapkan Ketua Umum Dewan Kesenian Riau (DKR), Kazzaini KS. Katanya pertunjukannya pas dan mantap. Maksudnya cerita pas untuk anak-anak dan pesan moralnya pun sampai. Apalagi ceritanya memang diangkat dari cerita rakyat Riau. Latar belakang cerita yang memang sangat terasa dekat dengan kita, imbuh Kazzaini.

Demikian juga yang disampaikan Kepala Museum Sang Nila Utama, Yoserizal Zen. Cerita rakyat Riau terdata di museum melebihi puluhan banyaknya. Dengan bebagai versi dan variasi cerita yang ada memiliki pesan moral yang beragam pula. Menurut Yoserizal. Ketika ceirta itu diangkat dalam bentuk pentas serupa SKB atau pun dalam bentuk tulisan, tentunya mampu menyampaikan pesan edukasi yang bagus kepada anak-anak. Nah, Keletah Budak secara kontinu mengangkat cerita rakyat Riau di atas panggung yang tentunya menjadi pengetahuan dan pelajaran baik kepada mereka yang bermain teater maupun penonton, ucap Yoserizal.

Willy Fwi selaku pimpinan Studio Seni Peran Riau Beraksi sangat support atas komitmen SKB mengangkat cerita-cerita yang berasal dari Rakyat Riau. Baginya, jika terdokumentasi dengan baik, akan sangat berguna bagi anak cucu kelak. Tapi yang jelas, menyaksikan Operet Anak Tengkulup Paya, saya seperti dicubit melihat anak-anak mengingatkan kita agar tidak nakal kepada pohon. Suara anak adalah suara kejujuran dan itu yang membuat saya seolah meringis perih, jelasnya singkat.

Trik dan upaya SKB memperkenalkan nilai-nilai masa lalu kepada anak-anak juga patut diacungkan jempol. Kata Hang Kafrawi, SKB membungkus cerita masa lalu dalam kemasan kekinian. Hal itu menjadi penting disebabkan anak-anak pada masa ini tidak akan tertarik lagi jika sebuah nilai-nilai historis dipentaskan begitu saja di atas panggung. cerita sejarah berupa legenda, dongeng tidak lagi mampu melawan tekhnologi yang menawarkan apa saja kepada anak-anak.

Ada unsur-unsur modern yang juga diusung SKB, baik dari properti pertunjukan maupun hal-hal yang dibicarakan seperti jam weker, mall dan lainnya. Kesemua itu menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton sehingga penonton yang rata-rata lebih banyak anak-anak merasa dekat dengan hal-hal yang dipentaskan di atas panggung, jelas Ketua Jurusan Sastra Indonesia UNILAK itu.

Pestanya Anak-anak
Pemandangan yang tak kalah menarik lagi dari pentas operet anak Tengkulup Paya adalah ketika gedung teater tertutup Anjung Seni Idrus Tintin diramaikan oleh anak-anak yang rata-rata dari SD dan SMP meskipun juga tak ketinggalan siswa-siswi SMA yang ada di Pekanbaru. Mereka dengan ekspresi riang dan bangganya dapat menyaksikan pertunjukan di gedung tersebut.

Tampak misalnya, riuh rendah anak-anak menunggu di pintu masuk kemudian setelah mendapat tempat duduk, bergurau senda sesama dan kemudian mereka duduk tenang menyaksikan teman-temannya bermain di atas panggung. Pimpinan Komunitas Rumah Suntting menyebutnya seperti pesta anak-anak.

Katanya, biasanya Asit dipenuhi remaja dan orang dewasa tapi tiga hari belakangan ini berbondong-bondong anak-anak datang memenuhi gedung. Ini luar biasa saya kira. Mendidik anak-anak untuk mengetahui dan mengalami langsung proses berkesenian. Permianan anak-anak yang lugu dalam berakting juga merupakan kekuatan dari SKB dan keunikannya tersendiri, kata Kunni.

Tak tanggung memang, seorang guru dari SD 183 Panam-Pekanbaru, Teti Siska membawa muridnya menyaksikan Operet Anak Tengkulup Paya dengan menggunakan empat unit bus besar yang jumlah siswanya sekitar 200 lebih. Kami mengajak anak-anak mulai dari kelas III sampai kelas VI. Karena menurut kami penting juga mereka mengapresiasi pertunjukan operet anak ini. Di samping bisa dijadikan sebagai media pembelajaran langsung, anak-anak kami juga bisa terhibur, kata Teti sembari menambahkan di sekolah memang ada pelajaran yang terkait dengan seni teater atau drama.

Apa yang dilakukan oleh pihak sekolah SD 183 itu juga menurut pengakuan Teti atas suport dari Kepala Sekolah dan juga orang tua murid. Dukungan itulah yang diperlukan karena dengan mudah akhirnya kami mengkoordinir keberangkatan anak-anak. Inikan untuk keperluan bersama juga, maksudnya, pentas Operet Anak dari SKB juga bisa menjadi bahan ajar bagi guru-guru yang ikut serta menyaksikan. Makanya memang, setiap SKB pentas, kami insyaallah hadir terus mengapresiasikanya, ungkap Alumni Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) tersebut.

Menanggapi tanggapan positif serta antusias penonton, Rina yang juga merupakan pengasuh di Sanggar Keletah Budak merasa bersyukur sekali. Bagi Rina, teater bukan saja untuk kesenangan dan kepuasan pribadi tetapi bagaimana teater bisa bermanfaat bagi dunia pendidikan dan masyarakat, apalagi sanggar Keletah Budak yang memang dibangun bertujuan memberikan bimbingan, pelatihan dan pembelajaran terkhusus kepada anak-anak terhadap kesenian.

Kami mengucapkan terima kasih tak berhingga kepada SD 183 Pekanbaru yang setiap SKB pentas selalu memberikan apresiasi yang bagus. Selain itu juga terima kasih kepada sekolah-sekolah lain seperti SMA 5, SMA 1, SMA 9, SMK Labor, PAUD, TK, SD, SMP serta masyarakat umum yang sudah menyaksikan pentas Operet Tengkulup Paya, tutup Rina.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Rabu, 19 September 2018 - 17:45 wib

Sekda Lantik Pengurus HNSI Tembilahan Hulu

Follow Us