Forum Komite Setuju Komite SMAN 14 Dibekukan
Jumat, 20 Juli 2018 - 10:21 WIB > Dibaca 476 kali Print | Komentar
KOTA (RIAUPOS.CO) - Forum Komite SMA, SMK dan SLB Provinsi Riau ikut mendukung bahkan memberikan rekomendasi terhadap pembekuan Komite SMAN 14 Pekanbaru. Rekomendasi itu diberikan setelah Forum Komite memanggil pihak kepala sekolah dan jajarannya untuk meminta penjelasan.

Ketua Forum Komite SMA, SMK dan SLB Provinsi Riau, Delisis Hasanto mengatakan, berdasarkan hasil pertemuan antara pihak forum dengan pihak sekolah maka diambil keputusan bahwa forum merekomendasikan pembekukan komite SMAN 14 Pekanbaru.

“Jadi permasalahan yang terjadi di SMAN 14 Pekanbaru itu kepala sekolahnya sudah membuat surat kepada Forum Komite SMA, SMK SLB Provinsi Riau. Surat itu menyatakan bahwa dia tidak bisa lagi bermitra dengan komite yang karakternya seperti itu. Surat itu kami bahas bersama dengan dinas pendidikan bersama MKKS. Di sana kami panggil kepala sekolah dengan jajarannya. Kami tanya betul, apa sih sesungguhnya yang terjadi di sekolah,” ungkap Delisis kepada Riau Pos, Kamis (19/7).

Lanjut Delisis, pada rapat pertemuan dan melihat barang barang bukti yang ada, forum sepakat untuk merekomendasikan untuk membekukan SK Komite SMAN 14. Karena sudah tidak lagi sesuai dengan prinsip kaedah komite yang normal dilakukan. ‘‘Dan itu sudah melanggar tupoksinya. Kami melihat beberapa contoh uang komite itu tidak boleh komite yang membelanjakan, harus sekolah. Komite itu hanya memonitor,” tambahnya.

Menurutnya, Komite SMAN 14 Pekanbaru juga tidak bisa ikut campur dalam melakukan penilaian terhadap kinerja majelis guru dan kepala sekolah. “Dan juga memberikan persetujuan. Ini dipungut sendiri dibiayai sendiri. Yang kedua tidak ada haknya komite untuk mengukur kompetensi guru,” ujarnya.

Sementara Kepala SMAN 14 Pekanbaru Syamwar menilai, kebijakan Forum Komite yang merekomemdasilan pembekuan Komite SMAN 14 dinilai sudah tepat. Saat ini SMAN 14 Pekanbaru smentara ini tidak mempuyai komite. Sedangkan untuk pergantian pengurus komite yang baru masih menunggu instruksi Disdik Riau. Ia menganggap Marah Rusli (Ketua Komite SMAN 14 sebelumnya) memang sudah tidak bisa menjadi mitra sekolah karena sudah melampaui wewenangnya.

“Secara teknis dia sudah ikut campur dalam internal sekolah. Kalau kita baca Permendikbud 75/2016, itu sudah mencederai pendidikan. Ia mulai masuk ke internal pidato dengan siswa lalu menjelekkan siswa. Pidato di depan majelis guru menjelekkan guru,” katanya.

Menurutnya, komite mempunyai tupoksi sesuai ketentuan Permemdikbud yakni mengawasi dan sebagai mitra sekolah. “Karena komite itu kan mengontrol dan mengawasi bagaimana jalannya sekolah itu. Sebagai mitra sekolah ya komite bersama samalah mengelola keuangan itu. Kami pihak sekolah menggunakan anggaran lalu disetujui oleh pihak komite,” katanya.

Saat ditanya tentang bakal ada mutasi guru bermasalah, ia tidak bisa menjawabnya. “Kalau itu saya tidak bisa berkomentar. Itu bukan wewenang saya. Yang pasti untuk sementara SMA 14 Pekanbaru tidak punya komite. Itu sesuai penjelasan kepala dinas pendidikan,” jelasnya lagi.

Sedangkan Marah Rusli saat dikonfirmasi menilai bahwa dirinya sudah bekerja sesuai tupoksi selama menjadi ketua komite di sekolah tersebut. “Mereka itu tidak membaca Permendikbud Nomor 75, apa saja tugas dari pada komite sekolah itu. Komite sekolah itu juga berkewajiban meningkatkan mutu pendidikan, meningkatkan sarana dan prasarana, juga meningkatkan kualitas pendidikan dan pembinaan,” terangnya.

Lanjut Marah Rusli, ia sudah bertindak sesuai dan benar. Beberapa hal yang salah harus diberitahukan ke pihak sekolah. “Waktu saya baru dua pekan jadi ketua komite (SMAN 14), saya menghadiri acara imtak. Lalu pada hari Jumat ada pembacaan Alquran, ada ceramah. Dari sana saya tahu bacaan Alqurannya tidak ada yang betul. Lalu saat saya diberikan kesempatan untuk memberi kata sambutan, saya bilang kalau sudah tingkat SMA begini baca Alqurannya seperti itu, berarti guru agamanya tidak benar. Maksud saya itu bukan guru SMA tetapi guru mengajinya,” kata Marah.

Ia juga memberikan contoh lain. Yaitu pesantren kilat di bulan Ramadan. “Pesantren kilat itu dianggarkan uang komite sebesar Rp26 juta. Sementara kegiatannya hanya ceramah, ceramah, ceramah. Lalu saya konsultasi dengan kepala sekolah untuk tahun ini kita fokuskan bacaan Alquran anak. Jadi kurangi jadwal ceramah-ceramah itu,” sebutnya.(ilo)


KOMENTAR
Berita Update

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri
Selasa, 19 November 2018 - 19:09 wib
Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Teken Petisi, Selamatkan Nuril
Selasa, 19 November 2018 - 18:47 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau
Selasa, 19 November 2018 - 17:00 wib
Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis
Selasa, 19 November 2018 - 16:30 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan
Selasa, 19 November 2018 - 16:00 wib
Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta
Selasa, 19 November 2018 - 15:15 wib
Industri Kosmetik Bakal Tumbuh Positif

Industri Kosmetik Bakal Tumbuh Positif
Selasa, 19 November 2018 - 15:15 wib
Diferensiasi dan Inovasi Jadi Kunci

Diferensiasi dan Inovasi Jadi Kunci
Selasa, 19 November 2018 - 14:30 wib

Pemkab Siak Terima CSR dari BRK
Selasa, 19 November 2018 - 14:22 wib
Cari Berita
Pekanbaru Terbaru
HUT Ke-61, PAPDI Gelar Pengabdian Masyarakat

Senin, 19 November 2018 - 10:16 WIB

IDI Riau Gembira PN Pekanbaru Menangkan Gugatan Anggotanya
1250 Orang Antusias Ikuti Rangkaian #Hands4Diabetes

Minggu, 18 November 2018 - 14:18 WIB

Banyak Pengalaman dan Ilmu Jurnalistik yang Didapat

Jumat, 16 November 2018 - 14:25 WIB

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini