Kejari Taja Diskusi Pencegahan Paham Radikal
Jumat, 20 Juli 2018 - 18:00 WIB > Dibaca 463 kali Print | Komentar
Kejari Taja Diskusi Pencegahan Paham Radikal
FOTO BERSAMA: Kajari Inhil Susilo dan istri dan Bupati Inhil HM Wardan beserta istri foto bersama Nasir Abbas, narasumber diskusi panel pencegahan paham radikalisme di Tembilahan, Kamis (19/7/2018).
INHIL(RIAUPOS.CO) - Bersempena memperingati Hari Bakti Adhiyaksa ke-58, Kejaksaan Negeri (Kejari) Indragiri Hilir (Inhil) menaja diskusi panel pencegahan paham radikal, Kamis (18/7).


Dalam kegiatan ini, Kejari Inhil mendatangkan narasumber dari mantan teroris, Nasir Abbas. Sedangkan peserta terdiri dari pelajar, mahasiswa, ormas dan kalangan pegawai.


Nasir Abbas yang juga merupakan guru Imam Samudra mengatakan bahwa Pancasila adalah dasar negara Indonesia. Tak satupun sila yang ada di dalamnya bertentangan dengan Alquran.


‘’Jadi kalau ada yang menanyakan mana tinggi Alquran dengan Pancasila, itu pertanyaanya yang salah. Alquran tak bisa dibandingkan dengan Pancasila, karena konteknya berbeda,” kata Nasir Abbas.


Sebagai mantan seorang teroris, dia mengajak seluruh peserta yang hadir untuk mengamalkan Pancasila sebagai kontek pembangunan dalam mempererat persatuan maupun kesatuan bangsa.


Dia mengakui bahwa pemahaman teroris cukup sempit baik terhadap Pancasila maupun Alquran. Maka dari itu dia merasa bersyukur dapat ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Dari sanalah dia dapat memahami Islam yang sebenarnya.


‘’Membunuh lawan dimanapun berada dibenarkan Alquran. Tapi dalam medan perperangan, tidak mereka yang ada di pantai ataupun di hotel saat sedang sarapan,” tegasnya.


Sementara itu Kajari Inhil Susilo dalam pemaparannya mengatakan, terosris merupakan kejahatan yang perlu di tumpas. Penumpasan harus hingga sampai ke akar dan tempat-tempat lahirnya doktrin radikal.


Selama ini dia melihat penumpasan teroris ibarat membasmi nyamuk yang kelihatan terbang dimana-mana. Tapi alangkah baiknya, penumpasan nyamuk dimulai dari tempat-tempat di mana nyamuk berkembang.


‘’Kita sepakat bahwa Alquran tidak bisa dibanding-bandingkan dengan Pancasila. Begitu pula Nabi Muhammad dengan presiden. Nabi Muhammad, lebih banyak berbicara kepentingan akhirat. Sedangkan presiden, pemimpin sebuah negara,” imbuhnya.


Diskusi berlangsung cukup menarik, apalagi setelah pembawa acara Titin Triana, membuka kesempatan kepada untuk menyampaikan beberapa pertanyaan seputar topik diskusi. Hanpir semua peserta mengacungkan tangan untuk bertanya.


Hanya saja tidak semua dapat diakomodir, karena keterbatasan waktu.(adv)
KOMENTAR
Berita Update

Ketua HHRMA Riau Periode 2018-2021 Dilantik
Jumat, 18 Oktober 2018 - 20:54 wib

Warga Koto Tuo Baserah Berharap Produksi Padi Melimpah
Jumat, 18 Oktober 2018 - 20:00 wib

Bupati Diberi Kehormatan
Jumat, 18 Oktober 2018 - 19:30 wib

Lima BUMD Terima Bantuan Pusat
Jumat, 18 Oktober 2018 - 18:30 wib

SMAN 2 Pangkalankerinci Perkemahan Akbar se-Riau
Jumat, 18 Oktober 2018 - 18:00 wib
Chris Kanter Pimpin Indosat

Chris Kanter Pimpin Indosat
Jumat, 18 Oktober 2018 - 17:35 wib
Langsung Temui Dirjen di Jakarta
Bupati Perjuangkan Pembangunan Jembatan ke Kementerian PUPR RI
Jumat, 18 Oktober 2018 - 17:30 wib
Cari Berita
Advertorial Terbaru
Bayi Meninggal  karena Virus Rubbela

Senin, 15 Oktober 2018 - 15:57 WIB

REI Expo 2018 Tawarkan Ratusan Rumah

Jumat, 12 Oktober 2018 - 14:22 WIB

STIKes Hang Tuah-FAI UIR Jalin Kerja Sama

Rabu, 26 September 2018 - 10:15 WIB

Diduga Pelaku Pencuri Sepeda Motor Kantor Gubri Ditangkap

Selasa, 25 September 2018 - 14:50 WIB

Bupati Buka MTQ Kecamatan Tempuling

Rabu, 19 September 2018 - 16:45 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us