Corak Bahasa

24 Maret 2014 - 15.51 WIB > Dibaca 2845 kali | Komentar
 
Corak Bahasa
Secara tipologis, bahasa-bahasa di dunia ini dapat dikelompokkan berdasarkan tipe atau corak khusus yang sama/mirip. Bahasa Arab, Latin, dan Sanskerta, misalnya, oleh para linguis dimasukkan ke dalam satu kelompok (sebagai bahasa fleksi) karena memilki tipe atau corak khusus yang sama/mirip: struktur dan hubungan gramatikal kata-katanya ditentukan oleh perubahan bentuknya. Lain halnya dengan bahasa Indonesia (dan bahasa-bahasaAustronesia yang pada umumnya tergolong sebagai bahasa aglutinatif),struktur dan hubungan gramatikal kata-katanya ditentukan oleh kombinasi unsur-unsur bahasanya secara bebas: pengurutan, pengimbuhan, penggabungan, atau pengulangan. Sementara itu, bahasa Inggris (yang tergolong sebagai bahasa flekso-aglutinatif) sebagian struktur morfologisnya mengikuti tipe atau corak bahasa fleksi dan sebagian lagi mengikuti tipe atau corak bahasa aglutinatif.

Hal itu dapat terlihat, misalnya, dalam menyatakan makna jenis dan jamak.Dalam bahasa Arab,karena struktur dan hubungan gramatikal kata-katanya ditentukan oleh perubahan bentuknya,makna jenis dan jamak sudah dapatterlihat dengan jelas (hanya) pada satukata: seperti thalib ‘murid laki-laki/tunggal’, thalibun ‘murid laki-laki/jamak’, thalibah ‘murid perempuan/tunggal’, danthalibat ‘murid perempuan/jamak’. Dalam bahasa Inggris, makna itu baru tercakupi jika dinyatakan dalam dua kata (sekalipun janggal): boy student ‘murid laki-laki/tunggal’,boy students‘murid laki-laki/jamak’, girl student ‘murid perempuan/tunggal’, dan girl students ‘murid perempuan/jamak’. Sementara itu, karena tidak memiliki penanda khusus, dalam bahasa Indonesia makna itu harus tereksplisitkan dalam tiga kata (berupagabungan kataatau kata ulang), misalnyalima murid laki-laki, tujuh murid perempuan, banyak murid laki-laki,ratusan murid perempuan, atau murid-murid laki-laki dan murid-murid perempuan.

Mungkin, karena tipe dan coraknya seperti itu, bahasa Indonesia selalu dianggap sebagai bahasa yang “boros kata”. Padahal, dalam hal jenis ini sesungguhnya bahasa Indonesia justru jauh lebih simpel dan demokratis (daripada bahasa-bahasa fleksi) karena netral. Kata-kata netral, seperti pemuda, siswa, mahasiswa, muslim, dan sastrawan, misalnya, sebenarnya sudah mencakupi (makna) laki-laki dan perempuan sehingga tidak perlu lagi diciptakan bentuk pemudi, siswi, mahasiswi, muslimin/muslimat, dan sastrawati.

Bagaimana dengan kata-kata yang menunjukkan jenis (kelamin), seperti dewa-dewi, seniman-seniwati, dan wartawan-wartawati? Bukankah perubahan dari /a/ menjadi /i/ serta dari /man/ dan /wan/ menjadi /wati/ merupakan penanda (perubahan) jenis?

Sesuai dengan tipologinya, bahasa Indonesia (dan bahasa-bahasa Austronesia yang pada umumnya tergolong sebagai bahasa aglutinatif) sesungguhnya tidak mengenal penanda jenis (kelamin) seperti itu. Dalam bahasa Indonesia, jenis kelamin diwujudkan dalam bentuk kata: laki-laki, perempuan, dan banci (?); pria, wanita, dan waria (?); dsb.. Kata-kata yang disebutkan sebagai contah diatas, dengan demikian, pantas diduga merupakan kata serapan (bentukan) dari bahasa asing (Sanskerta).

Dalam sejarah penyerapan kata-kata asing, bahasa Indonesia selalu menyerap dalam bentuk utuhnya (yang mewakili sebuah makna atau konsep tertentu), tidak pernah menyerap perangkat pembentuknya (imbuhan dan penanda lainnya). Kata modernisasi, standardisasi, dan legalisasi, misalnya, di samping diserap kata dasarnya: modernmenjadi modern, standardmenjadi standar, dan legalmenjadi legal, juga diserap secara utuh dari modernization, standardization, dan legalization. Artinya, bahasa Indonesia tidak pernah menyerap –ization menjadi –isasi secara terpisah, sebagai akhiran.

Anehnya, banyak orang yang menganggap bahwa akhiran-akhiran asing itu milik bahasa Indonesia sehingga bermunculanlah bentukan-bentukan baru (dan lucu), seperti turinisasi, lelenisasi, neonisasi, kuningisasi, dan semenisasi. Begitu pun akhiran-akhiran dari bahasa Sanskerta yang disebutkan di atas. Mungkin karena sudah dianggap miliknya, akhiran-akhiran itu “diperkosanya” untuk membentuk kata-kata lucu lainnya, seperti santriwan-santriwati, pirsawan-pirsawati, antariksawan-antariksawati, dan budayawan-budayawati. Bahkan, konon ada orang yang tiba-tiba mau menggunakan selebritas karena menganggap sebagai bentuk maskulin selebritis, teracuni bentuk dewa-dewi, putera-puteri, pemuda-pemudi, dst..

Atas kenyataan seperti itu, apresiasi yang tinggi pantas diberikan pada orang-orang yang masih mau mencari kebenaran, dengan kreatif menciptakanbentuk-bentuk alternatif(baru): seperti pemodernan, penstandaran, dan pelegalan sebagai pilihan lain dari modernisasi,standardisasi, danlegalisasiyang telah ada sebelumnya. Artinya, jika dianalogikan sebagai pakaian, pe-/-an adalah pakaian sendiri, sedang –ization (–isasi) adalah pakaian orang lain. Dengan demikian, membentuk kata-kata bahasa Indonesia dengan -isasi (seperti turi menjadi turinisasi, lele menjadi lelenisasi, neon menjadi neonisasi, kuning menjadi kuningisasi, dan semen menjadi semenisasi) sama artinya dengan berpakaian yang bukan miliknya.

Sebagai penutup, tulisan ini akan menampilkan salah satu puisi mbeling Remy Silado, berjudul “Belajar Menghargai Hak Asasi Kawan”. Meskipun jika dilihat dari judulnya tidak memperlihatkan keterkaitan,bisa jadi isi puisi itu justru menjadi inti tulisan ini. Mungkin, Remy Silado juga sedang meluapkan “kekesalannya”. Tidak percaya? Baca saja puisi mbelingnya itu berikut ini.

BELAJAR MENGHARGAI HAK ASASI KAWAN
jika
laki mahasiswa
ya perempuan mahasiswi
jika
laki saudara
ya perempuan saudari
jika
laki pemuda
ya perempuan pemudi
jika
laki putra
ya perempuan putri
jika
laki kawan
ya perempuan kawin
jika
kawan kawin
ya jangan ngintip
Bagaimana? Betul kan, Remy Silado sedang meluapkan “kekesalannya”?


Salam.***


Agus Sri Danardana
Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Rabu, 14 November 2018 - 14:30 wib

Daud Yordan Mau Istirahat Dulu

Follow Us