Ke Pawahang Kita Bermalam

24 Maret 2014 - 15.54 WIB > Dibaca 1573 kali | Komentar
 
SEPULUH tahun silam aku pernah berjanji, jika suatu waktu kau berkunjung lagi ke kotaku akan kubawa menyeberangi teluk ke Pulau Pahawang. Kita akan memancing ikan dan bermalam di sana.

Aku ceritakan, tentu dengan bumbu promosi ihwal pulau yang ada di Kabupaten Pesawaran dan konon pula dari cerita-cerita nenekmoyang merupakan milik sah pribumi setelah direstui Kesultananan Banten, Sultan Hasanuddin.

“Janji serius?” tanyamu sambil tersenyum.

Aku mengangguk cepat, kau kembali tersungging.

Lalu aku menjelaskan tentang Pulau Pahawang. Menurut cerita, Pahawang yang luasnya sekitar 9 kilometer persegi itu menghimpun 6 dusun 12 RT, dan milik masyarakat Lampung Cikoneng berdasarkan surat penyerahan dari Sultan Banten Maulana Hasanuddin.
Hal ini dikatakan M. Harirama Kedatun Keagunan, pengurus pusat Lampung Sai.

Saat ini penduduk Pulau Pahawang, mayoritas bersuku Sunda Menes dan Jawa Serang, sedangkan pribumi Lampung hanya menempati Dusun Pahawang2. Meski beradat saibatin, masyarakat Lampung asli di sini tak memunyai tetua (tokoh) adat, sehingga begawi pun boleh dibilang tak ada.

Tetapi usah khawatir kau tak puas. Lautnya yang bening sehingga dasar pasir pun bisa kau lihat dari atas perahu mesin, adalah godaan yang tak mampu kauelak. Kau mesti ingin sekali terjun ke laut dan berenang.

Bila malam rebah, bulan penuh di atas lagit Pahawang bakal menambah cantiknya pulau ini. Kau akan tergiur meninggalkan rumah lalu menuju dermaga kecil dekat kantor desa. Kerlip lampu dari rumah-rumah apung penangkar ikan atau mutiara, ah sangat rugi diabaikan.

“Benarkah begitu?” sergahmu. “Aku sudah banyak ke pantai, barangkali pantai Pahaang lebih asyik kan?”

“Tentu!” jawabku segera.

Bukan maksudku hendak memprosikan Pulau Pahawang, tapi memang pulau ini sangat eksotis meski tak ada lumba-lumba3 sebab lingkungannya masih asri. Di pesisir pantai tumbuh pohon bakau sebagai pagar agar tidak terjadi abrasi. Kemudian di sana-sini masih terbuka belantara dan perkebunan yang hijau.

Sebuah bukit memanjang dari ujung pulau ke bagian ujung lainnya. Pepohonan di atas bukit benar-benar hijau. Menurut salah seorang penduduk, di puncak bukit itu ada makam keramat bernama Sindang Pahawang.

“Saya pernah dengar cerita dari seorang warga, Saman, nama Pahawang ini diambil dari bahasa Lampung yakni pahawan yang berarti tempat kehidupan.  Namun warga Bone yang pertama singgah ke pulau ini menyebut pahawang. Sedangkan dua versi lainnya, sebab orang pertama yang mencari penghidupan di sini adalah Pak Hawang. Versi terakhir sebab adanya makam keramat Sindang Pahawang di puncak bukit itu. Soal kebenarannya, yang sejarahlah yang membuktikan,” kataku kemudian.

“Aku tak penting soal sejarah nama Pahawang. Aku sudah tergoda dengan keindahan pantainya, juga laut di saat kita menyeberang. O ya, dari mana kita menyeberang ke Pahawang?”

“Dermaga Ketapang,4 banyak perahu motor yang sandar untuk mengantar ke Pahawang,” kataku.

Kau pun semakin bergelora, ingin segera sampai di Pahawang. Sayang waktu cutimu tak lama, kau mesti kembali ke kota kelahiranmu. Lalu kau kau berjanji musim cuti yang akan datang, kau akan kembali.

“Duh, sayang tak bisa sekarang…” kau mengeluh. “Tapi aku janji akan datang lagi, dan kita ke Pahawang untuk bermalam…”

Kini aku yang menggangguk. Kau menarik lenganku untuk mencium punggung telapakku. Tinggal beberapa menit kau akan menaiki pesawat udara menuju kotamu. Dua hari kita bersama, seperti bertahun-tahun bisa kuhapus kenangannya. Ah, rasanya hingga dunia ini tutup pun tak bisa kuhilangkan kenangan bersamamu.

Sejak itu aku menunggumu datang lagi ke kotaku. Sepenuh harapan sebab kita akan bermalam di Pahawang, sebuah pulau yang terus bergetar.

Pulau Pahawang yang dihuni oleh masyarakat asal Banten dan sedikit pribumi Lampung ini, di bagian timur sudah dikavling oleh warga berkebangsaan Prancis. Sebuah villa berdinding dan berlantai kayu itu amat eksotis.

Sebuah kapal motor besar dikandangkan. Juga sebuah dermaga terbuat dari kayu begitu anggun menunggu si pemilik datang untuk berlibur. Setelah itu villa-nya ditinggal, dan para pekerja yang digaji akan mengurus.

Para pekerja di villa orang asing itu adalah penduduk Pahawang. Mereka mendapatkan bedeng, bahan makanan untuk sehari-hari, dan tentu saja upah perbulan.

“Lupakan villa itu, kita tak akan bermalam di sana….”

“Lalu di mana? Ada motel, cottage, atau…”

“Kita menginap di rumah warga. Kita baur dengan penduduk. Cukup memberi uang beberapa ratus ribu, mereka akan riang menyediakan kita makan dan kamar tidurnya…”

“Oww…”

Itu terakhir kita saling kontak melalui telepon selular. Setelahnya, tak ada kabar darimu. Nomor kontakmu yang kuhubungi selalu jawaban dari operator selular. Aku menduga kau sudah mengganti nomor kontak. Telepon lain tak kumiliki.

Beberapa teman yang mengenalmu saat kutanya ihwal keberadaanmu, juga tak ada yang tahu. Mereka seperti sepakat menjawab: “Sudah lama aku tak berhubungan dengan Fitri.”

Aku mulai ingin melupakan pengembaraan ke Pahawang bersamamu. Aku pun hendak menghapus niatku mengajakmu bermalam di pulau itu. Aku makin mengerti, aku hanya pejantan yang cuma memiliki impian. Sementara kau adalah betina yang bisa saja mendapatkan lebih dariku.

Sebuah puisi yang pernah kutulis di Pulau Pahawang lalu kuserahkan padamu, sehingga kau makin kepayang untuk berkunjung ke pulau itu kini mesti kucabik-cabik. Meski sebelumnya kubaca lagi puisiku itu:

malam turun di pahawang
kelam berenang dalam gelombang
tak ada bulan di sini,
tak ada bintang
makin berselimut pekat

tapi dari rumah-rumah warga
binar lampu tenaga surya
membias ke halaman, jalan setapak

“di sini kau akan cecap asin laut,
wangi coklat dan cengkih...”
kata mahasdika,
warga pahawang

matanya menerawang…
5

**

AKU merasa tak butuh lagi pada puisi itu. Aku semula menghimpun kata-kata untuk mengisahkan Pahawang, karena aku yakin kau akan suka Pahawang. Kenyatannya? Sudah lima tahun, enam tahun, dan seterusnya tak ada kabar darimu.

Dugaanku kau sudah berkeluarga. Kemudian dibawa suamimu pindah ke kota lain, atau mungkin ke luar negeri sebab suamimu bekerja di sana. Boleh jadi kau jadi tenaga kerja wanita di luar negeri?

Ah, bermacam dugaan berseliweran; datang dan pergi. Walaupun kabarmu tak juga datang, malah semakin pergi jauh…

**

PETANG tandang. Telepon genggamku bergetar. Satu pesan pendek mampir, aku buka dan ingin tahu dari mana datangnya. Ternyata short masage servise darimu.

Aku malas menjawab. Sepertinya aku ingin membalas kelakuanmu, tatkala aku meneleponmu tak diangkat dan sewaktu kukirim pesan pendek tak pula kau menjawab.

Beberapa menit lagi pesan pendekmu kembali masuk. Hampir sama dengan isi kirimanmu sebelumnya.

“Maaf kalau mengganggu, mungkin kau sudah berkeluarga sekarang, boleh aku kenal dan berteman dengan istrimu? Besok siang aku akan main ke kotamu, bisa jemput aku?”

Jari-jari tanganku hendak memencet tombol handphone, mau membalas pesan pendekmu. Dan urung, Jamal datang memberi tahu.

“Aku baru menerima SMS dari Fitri. Dia minta kau buka handphone, dia baru kirim kabar,” kata Jamal semringah.

Kulihat teman sekantorku itu. Sekelebat saja, lalu aku asyik mengedit berita yang bakal menayang esok siang.

“Hei kau dengar aku gak? Baru saja Fitri meng-SMSku, dia minta kau baca SMSnya lalu balas…”

“Ya ya…” kataku pendek. “Kau tak lihat aku sedang sibuk begini? Aku harus menyelesaikan dua episode, karena mau liburan Natal. Mana lebih penting menjawab pesan pendeknya daripada kerjaanku?”

“Dua-duanya sama penting,” jawab Jamal, temanku si tubuh pendek itu.

Akhirnya, aku menjawab singkat: “tak mengganggu, boleh…”

Aku sudah berdusta padamu. Sampai kini aku masih lajang, tak bergairah berkenalan dengan perempuan setelah cintaku tak jelas perginya bersamaan hilangnya kabar dari orang yang amat kucintai. Ialah kau…

“Terima kasih. Bisa jemputku besok jam 10 siang di Bandara Radin Inten?” katamu lagi dalam pesan pendek yang masuk ke handphoneku.

“InsyaAllah…”

“Yang pasti dong, biar aku tak menunggu-nunggu…”

“Itu pasti, jika diizinkan Tuhan…”

“Jawab ya atau tidak…”

“Oc,” tulisku pendek.

“Janji serius?”

“Y.”

Hanya satu huruf kukirim, seperti khawatir pulsaku tersedot jika lebih dari sehuruf.

“Trims.”

Sebelum pukul 10.00 aku sudah di Bandara Radin Inten di Branti,6 supaya tak tergopoh-gopoh di perjalanan. Makum beberapa tahun terakhir ini, arus kendaraan dari pusat kota Bandarlampung sampai bandara sangat padat.

Sepertinya pemerintah perlu membatasi penjualan kendaraan, khususnya roda empat. Tetapi kebijakan ini, siapa pun pemimpinnya, sulit menerapkan. Kenderaan roda empat terus dipasarkan. Sementara motor dengan mudah diperoleh melalui kredit dengan uang muka relatif murah.

Akibatnya di beberapa ruas jalan pada jam-jam tertentu macet total. Apalagi kebijakan walikota yang menutup beberapa pembatas jalan, kendaraan makin merayap.

Aku coba mengontakmu, tak ada suara apa-apa. Pastilah kau masih melayang di udara, pikirku. Sudah dua batang rokok filter kutumpaskan di bawah sepatuku.

Saat hendak menghidupkan rokok ketiga, telepon genggamku meraung-raung.

“Ya…”

“Sebentar ya, mau ambil barang di bagasi…”

“Oke,” jawabku, lalu telepon dimatikan.

Kau keluar dari ruangan bagasi, menarik tas koper hitam. Tidak begitu besar, sehingga kalaupun dibawa ke pesawat tak ada masalah.

“Aku ribet aja kalau dibawa ke pesawat, jadi kutitip di bagasi. Gratis ini…” katamu tersenyum, seperti tahu apa yang berada di dalam benakku.

“Ya. Apalagi Cengkareng sangat ketat,” jawabku sekenanya.

“Bener.”

Lalu diam. Kau memegang lenganku, ketika aku melangkah menuju mobilku di area parkir. Lumayan jauh, tapi akan mudah jika aku hendak keluar dari bandara ini.

“Sudah makan?”

Kau menggeleng.

“Kita makan di rumah makan itu ya?” kataku sambil menunjuk sebuah rumah makan dekat Bandara Radin Inten II, sekitar 3 ratus meter saja.

Bersisian kita menyantap makanan yang terhidang. Kulihat kau sangat semangat memasukkan setiap sendok makanan.

“Aku selalu digoda Pahawang. Sudah sangat lama, namun baru sekarang….”

“Kenapa? Kenapa selama ini tak ada….”

“Sebab…”

“Karena apa? Kau sudah berkeluarga?” tanyaku ragu-ragu.

Kau menggeleng.

“Maksudmu?”

“Aku sengaja tak mengontakmu. Aku juga sengaja mengganti nomor kontakku. Tetapi nomor kontakmu tetap kusimpan…”

“Kenapa?”

“Ah, sudahlah tak perlu kuceritakan sekarang. Masih ada waktu lain kan? Mungkin di Pahawang nanti. Kau mau mengajakku ke pulau itu kan, seperti janjimu dulu?”

“Janjiku sepuluh tahun silam, tidak lagi dulu…”

“Ya. Sudahlah jangan dibahas lagi. Kau mau kan mengajakku ke Pehawang? Maksudku, mau kan kita ke Pehawang dan bermalam di sana?”

Aku mengangguk pelan.

“Jangan ragu dong…” potongmu. “Kamu masih seperti sepuluh tahun lalu, selalu tak pernah tegas dalam setiap keputusan. Itulah yang menyebabkan aku meragukan dirimu…”

“Ooo…”

Segera kaututup kedua bibirku, sehingga kata-kataku yang hendak meluncur tercekat.

**

PUKUL 15.00 kami sudah di Dermaga Ketapang7 dan satu perahu motor sedang menunggu penumpang yang hendak menyeberang.

Kuhitung penumpang yang sudah di dalam perahu: lima orang. Berarti menjadi 7 orang dengan kami. Biasanya perahu akan bergerak jika penumpang berjumlah 10 orang, namun kali ini pemilik perahu mulai menghidupkan mesin.

Aku pamit duduk di sebelah nakhoda. Sementara kau memilih duduk di dekat anjungan.
“Mau berlibur di Pahawang ya, mas?” tanya pemilik perahu.

Aku mengangguk.

“Enak ya belum punya anak, berlibur ke mana pun hanya berdua,” lanjut dia.

Aku hanya tersenyum.

“Bermalam di rumah siapa, mas? Kan di sana belum ada penginapan…”

“Di rumah pak Mahasdika, salah seorang warga di sana…”

“Ya, saya kenal pak Mahasdika. Dia biasa menerima dan menjamu para relawan lingkungan hidup.  Rumahnya selalu ramai…” dia menerangkan.

Aku tahu.

“Sudah pernah ke Pahawang?”

“Baru sekali, tapi bersama rombongan konservasi mangrove di sana. Saya menginap di rumah pak Mahasdika…”

“O ya, kalau tak salah pulangnya dengan perahu saya. Ada yang minta diturunkan di Ketapang dan sebagiannya di Duta Wisata8 karena sekalian menjemput rombongan kedua.”

Aku ingat. Ya perahu ini yang membawaku pulang selepas dzuhur usai penanaman pohon bakau di bagian selatan Pulau Pahawang sepuluh tahun silam.

Kini aku kembali menaiki perahu motor ini. Tidak bersama rombongan, namun denganmu. Perempuan yang telah kukenal puluhan tahun lalu. Ah, rinduku berdebar-debar.

Menjelang magrib, perahu motor yang kutumpangi bersandar di Dermaga Pengentahan9 dan aku turun sambil memegang erat tanganmu. Bagaikan sepasang itik yang mau terjun ke laut, demikianlah kami.

Langit di barat semburat kekuningan. Itulah sunset, batinku. Kau seperti ingin bergegas menuju bibir dermaga. Secepatnya mengeluarkan kamera dari tas. Sekejap kemudian, kamera sudah mengarah ke matahari.

“Wow! Beautiful!” katamu, tak henti-henti kau memuji kecantikan langit di sebelah barat yang kami tatap dari Pahawang.

“Esok pagi, aku mau mengabadikan sunrest. Jangan sampai kita kesiangan, oke?!” ujarmu kembali.

Aku mengangguk. Tersenyum. Memandang wajahmu lama sekali.
 
“Kamu juga masih seperti kulihat 10 tahun lalu…”

“Maksudmu?”

“Masih cantik dan manis…” pujiku.

“Kau sudah berubah rupanya…”

“Kenapa?”

“Aku suka itu. Menyukaimu karena tidak lagi seperti dulu.”

“Kau sudah berani memujiku…”

“Ooo…” hanya itu yang keluar dari bibirku hingga membentuk bundaran.

Lalu malam luruh. Bagai permadani hitam. Demikian pekat. Kami memilih dermaga untuk menatap laut lepas. Saling berdekapan.

“Seandainya…” lirihmu. Lama terdiam. Di langit hanya sedikit bintang, bulan sesabit. Ombak berulang-ulang menghantam pantai, lalu kembali ke lautan. Kau merapatkan sal yang melilit lehermu. Sekilas kulihat kulit putihmu. Lehermu jenjang, aku bergumam.

“Ah, kita hanya berteman. Seperti katamu, dan itu…” sambungmu kemudian memecahkan kesunyian, menyadarkan pikiranku yang telah jauh.

“Tetapi aku tak bisa lama seperti ini.”

“Aku juga. Amat tersiksa…”

“Lantas?”

“Entahlah,” katamu selanjutnya.

Aku mendesis.

“Kenapa?”

“Kau ragu…” jawabku. “Apakah kau masih meragukan…”

“Ah, baiknya kita tinggalkan percakapan soal itu. Mari nikmati malam indah ini…” kau ingin mengalihkan perbincangan.

Aku setuju. Walaupun kita belum diikat oleh kesepakatan, debar-debar di hati kita masing-masing sudah berkenan menjawab.

“Kita perlu waktu untuk menyatukan perbedaan-perbedaan yang kita miliki,” bisikmu. “Apalagi keluarga besarku tak pernah dekat pada pribadi seniman. Kami hanya membeli lukisan dari perantara, dan tak pernah berhubungan dengan si penciptanya. Begitu pula dengan seorang penyair, semakin asing dan aneh…”

Aku maklum. Kau dilahirkan dari keluarga berada. Hidup serba-ada. Karya-karya lukisan, yang katamu, bertebaran di hampir seluruh ruangan di rumahmu ayahmu yang membeli melalui perantara.

“Semua lukisan dari perlukis ternama ada di rumahku. Hanya Monalisa yang tak kami miliki…” ceritamu suatu kesempatan sambil tertawa.

“Tapi aku tak bisa lama seperti ini,” ulangku, setelah beberapa lama kami terdiam. Meski tubuhmu kian merapat di dadaku. Helai-helai rambutmu karena digerakkan angin membelai pipi dan hidungku. Aromanya wangi.

Tanganku menyentuh pipimu. Kau diam. Kutarik pelan-pelan agar menghadap wajahku. Kudekatkan bibirku, kau tetap diam. Sebuah kecupan di bibirmu tanpa kau tolak.

Malam terus beranjak. Angin semakin kencang. Pahawang kian kelam.***


Pahawang 21-22 Desember—Bandarlampung 26 Desember 2012

Catatan
2 Berdasarkan percakapan dengan Saman, warga Dusun Pahawang, asli Lampung bermarga Punduh, Kabupaten Pesawaran.

3 Lumba-lumba dapat dilihat di perairan laut dekat Pulau Kiluan, masih wilayah Kabupaten Pesawaran.

4 Dermaga penyeberangan ini berada di Desa Ketapang, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran.

5 Puisi ini pertama kali kulempar ke duni maya ( facebook ) lalu masuk dalam narasi Ensik Lampung, salah satu program unggulan Lampung TV untuk episode “Pahawang 2”, menayang Rabu, 26 Desember 2012 pukul 15.30-16.00.

6 Nama pelabunan  udara di Provinsi Lampung diambil dari nama Pahlawan Nasional asal Lampung yakni Radin Inten II. Radin Inten adalah pahlawan di zaman kolinial Belanda dari Kalianda Lampung Selatan. Meski Bandara Radin Inten ini berada di daerah Branti, Natar, Lampung Selatan, para awak maskapai penerbangan menyebut Bandara Radin Inten Bandarlampung. Jelas ini disebabkan kesalah-fahaman menentukan lokasi/geografis.

7 Untuk menuju Pulau Pahawang, agar lebih cepat dan aman sebaiknya melalui dermaga yang ada di Desa Ketapang, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Lampung Selatan. Dari Bandarlampung arahkan kendaraan menuju Lempasing, lalu ikuti saja jalan yang kadang di bagian kiri terlihat pantai, hingga Padang Cermin.

8 Duta Wisata adalah taman hiburan pantai yang ada di Lempasing, Bandarlampung. Kalau perjalanan dari sini ke Pahawang membutuhkan waktu sekitar 2 jam.

9 Pengentahan (Penggentahan) adalah nama dusun di Pulau Pahawang. Pulau ini terbagi 6 dusun dan 12 RT. Salah satunya Dusun Pengentahan yang berarti tempat penitipan barang sebelum diangkat ke Ketapang atau sebelum dibawa ke dusun masing-masing. Dusun lainnya ialah Pahawang; di daerah ini mayoritas penduduk pribumi Lampung.



Isbedy Stiawan

merupakan sastrawan asal Lampung yang telah menghasilkan banyak karya berupa sajak, cerpen dan esai.
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Sabtu, 17 November 2018 - 08:31 wib

Dari Ambon Daihatsu Jelajahi Pulau Seram

Follow Us