Teruslah Mencipta dan Berkarya

24 Maret 2014 - 16.00 WIB > Dibaca 1020 kali | Komentar
 
Menggeluti dunia seni menjadi sebuah pilihan. Meski pilihan itu kerap menawarkan tantangan, bahkan kesulitan namun diakui para seniman, itulah pemberi kepuasan batin yang tak bisa dibayar dengan apapun. Para pekerja seni, terutama seni serius (bukan pop) seakan tak pernah kehabisan gagasan untuk tetap eksis melahirkan karya-karya mereka. Lalu di manakah pemerintah daerah Riau yang selalu mengumbar pada dunia sebagai negeri berbudaya, saat seniman terseok-seok mengangkat jati diri negeri ini lewat karya seni?  

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

SENI itu tidak menjanjikan apa-apa. Seni tidak memberikan kehidupan yang layak kepada para seniman. Seni bahkan membuat orang-orang yang bertungkuslumus di dalamnya kian tak menentu, secara ekonomi. Tidak sedikit cara dan trik yang dilakukan para seniman untuk sekedar bisa mementaskan atau menjual karya mereka. Namun setelah decak kagum dan tepuk tangan para penikmatnya berakhir, para seniman sibuk menghitung berapa hutang yang harus dibayar. Kondisi yang memprihatinkan itu tidak membuat para seniman jera, lalu meninggalkan kerja kreatif mereka.

Setelah 13 tahun grup musik kami ini berdiri dan berjalan untuk menggelar konser dan pementasan musik yang mengangkat kebudayaan Melayu Riau, hingga detik ini kami harus berjuang sendiri. Kalaulah menunggu perhatian pemerintah daerah atau pusat, janganlah berharap karya-karya yang tercipta dapat dipentaskan. Meminta bantuan pada pemerintah, kita seperti peminta-minta (pengemis, red), ulas komposer Riau Rino Dezapati Mby.

Rino Dezapati dan kawan-kawan bersama grup musiknya Riau Rhythm Chambers Indonesia (RRCI), dalam waktu dekat, tepatnya, 3-5 April 2014 mendatang akan menggelar konser musik bertajuk Jejak Suara Suvarnadvipa di gedung teater tertutup Anjung Seni Idrus Tintin, Pekanbaru-Riau. Konser tersebut diungkapkan Rino menjadi bukti atas kepedulian generasi muda pada budaya Melayu dan kekayaan lokal yang kian hari kian tergerus karut marut zaman.

Karya yang berangkat dari peradaban awal Melayu di Sumatera yang didanai sendiri, tanpa peran serta pemerintah daerah Riau itu rencananya digelar di 10 kota di Indonesia antara lain Pekanbaru (Riau), Kepulauan Riau (Kepri), Medan (Sumut), Padangpanjang (Sumbar), Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Serang dan Surabaya. Seharusnya komunitas dan kelompok-kelompok budaya itu wajib dibantu. Kita bisa lihat di negara-negara maju dan berkembang lainnya. Pemerintah mereka begitu peduli pada seniman dan mau membayar orang-orang yang tunak di wilayah seni dan budaya. Bahkan mereka (pemerintah) mendorong untuk menciptakan kelompok dan komunitas kebudayaan tetap hidup dan tak tergerus oleh waktu, ujar Rino panjang lebar.  

Sementara itu, pimpinan Riau Beraksi (studio seni peran) Willy Fwiandry berujar dengan mengutip sebuah pameo, Lebih baik seni dan budaya tanpa negara daripada negara tanpa seni dan budaya. Lalu ia membuat sebuah pertanyaan, Sepenting itukah? dan dijawabnya sendiri, Bagi saya kalimat itu tidaklah berlebihan.

Diuraikannya, karya seni bertugas untuk memelihara sensitivitas manusia terhadap makna kehidupan. Karya seni mampu menyusup jauh, mengacak-acak emosi pada sanubari setiap orang. Karya seni menjaga manusia agar tetap manusiawi.

Saya tidak bisa bayangkan sebuah negara yang hanya diisi robot-robot belaka, jauh dari perasaan senang, kecewa, marah dan bahagia. Untuk itu, seniman atau pelaku seni atau lagi pekerja seni serta penikmat seni layak mendapat perhatian dari negara, kata Willy disela-sela sesi latihan jelang mementaskan karyanya berjudul Opera Rimba yang dilaksanakan, 26-30 Maret 2014 di gedung teater tertutup Anjung Seni Idrus Tintin.

Pimpinan Rumah Sunting, Kunni Masrohanti menambahkan, menjadi seniman, termasuk seniman teater memang pilihan maka karya yang dihasilkan bukan pula mainan. Dengan kata lain, tidak main-main dalam berkarya. Lebih tegas dijelaskannya, karya besar lahir dari tangan orang-orang besar dengan cita-cita yang besar, kesungguhan yang besar, biaya yang besar, dan pastinya pengorbanan yang besar. Bukan hanya waktu, tenaga dan fikiran tapi juga harta benda.

Kesungguhan dalam berkarya inilah yang membuat saya tidak pernah berhenti berkarya sejak 1996 hingga hari ini. Meski tanpa bantuan pemerintah sama sekali, saya dan kawan-kawan di Rumah Sunting, serta kawan-kawan teater di Riau punya banyak cara untuk mewujudkan karya itu. Hingga saat ini karya it uterus saja lahir dan lahir, seolah tidak pernah mengenal berhenti, apalagi mati, ujar sutradara yang akan mementaskan karya terbarunya berjudul Jalang pada 11-12 April 2014 di gedung teater tertutup Anjung Seni Idrus Tintin.

Sastrawan dan juga sutradara teater Riau Hang Kafrawi menyebut, ada panggilan hati nurani untuk tetap dan terus berkarya dalam dunia seni. Karena itu, ada tidaknya bantuan, karya terus tercipta dan mengalir setiap saat.

Walaupun setelah pementasan dilaksanakan, hutang semakin melilit pinggang tapi tak satupun seniman yang takut akan hal itu. Mereka terus saja mencipta, berkarya dan member manfaat kepada banyak orang lewat percabangan seni yang mereka geluti.

Inilah yang seharusnya jadi perhatian khusus pemerintah melalui dinas terkait. Mereka, dinas terkait dengan seni dan budaya hendaknya memantau terus geliat seni di Riau. Sayangnya, pemerintah melalui bidang terkait tidak pernah melakukan hal itu, aku Hang Kafrawi yang juga aktor tersebut.Menurut dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning itu, semakin pemerintah abai, semakin gelora dan semangat juang para seniman kian terpacu untuk berkarya dan berkarya. Mereka (seniman) tidak patah arang karena persoalan tersebut sebab panggilan hati nurani jauh lebih berharga ketimbang mengeluh dan mengaku kalah. Pokoknya, seniman tidak boleh menyerah pada keadaan dan teruslah melahirkan karya-karya baru. Saya percaya, bantuan dari pemerintah itu ada, tapi mungkin saja tidak tepat sasaran atau diberikan kepada orang-orang yang tidak berhak menerimanya, jelas Pimpinan Teater Matan yang baru saja menyelesaikan produksi pementasan teater berjudul Serikat Kacamata Hitam, sutradara Deni Afriadi, Februari 2014 lalu di Anjung Seni Idrus Tintin.

Pimpinan Sanggar Keletah Budak RIna Nazaruddin Entin (NE) yang juga baru saja menyelesaikan pementasan operet anak Tengkulup Paya awal Maret 2014 di Anjung Seni Idrus Tintin mengaku, tidak mendapat bantuan dari pemerintah, baik Kota Pekanbaru maupun Provinsi Riau. Mereka menggelar karya dengan cara dan trik mereka sendiri sehingga karya bisa digelar. Salah satunya dengan menjual tiket kepada penikmat seni yang ada di Riau, khususnya Kota Pekanbaru. Hasilnya, cukup membanggakan meski hasil penjualan tiket belum mampu menutup biaya produksi yang dikeluarkan.

Paling tidak, dengan menjual tiket, setengah dari biaya produksi yang diperlukan bisa didapatkan. Harga tiketnya juga sesuai dengan gengsi komunitas masing-masing yang berkisar dari Rp25.000 hingga Rp50.000. Terlalu menyakitkan kalau mau berkarya harus menunggu atau meminta bantuan pada pemerintah daerah. Mereka tidak peduli, bahkan menonton pertunjukan pun tidak mau. Karena itu, bergerak saja sendiri dan ajak masyarakat untuk sama-sama peduli pada seni dan budaya. Biarlah pemerintah dengan helat-helat seremonial yang takkan menyentuh ke masyarakat luas, tegasnya.***
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 21:38 wib

PT Amanah Travel Berangkatkan 23 Jamaah Umrah

Selasa, 20 November 2018 - 19:30 wib

Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat

Selasa, 20 November 2018 - 18:51 wib

Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018

Selasa, 20 November 2018 - 18:25 wib

Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama

Selasa, 20 November 2018 - 17:54 wib

Surat Suara Lebih Besar dari Koran

Selasa, 20 November 2018 - 17:38 wib

2 Hafiz Rohul Raih Juara di MHQ ASEAN

Selasa, 20 November 2018 - 17:36 wib

Najib Razak Kembali Diperiksa KPK Malaysia

Selasa, 20 November 2018 - 17:32 wib

Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor

Follow Us