PENGUNGSI ROHINGYA
Bisa Jadi Generasi yang Hilang
Sabtu, 25 Agustus 2018 - 19:18 WIB > Dibaca 554 kali Print | Komentar
Bisa Jadi Generasi yang Hilang
ANAK PENGUNGSI: Anak-anak pengungsi Rohingya menumpangi kincir raksasa bertenaga manusia di kamp Kutupalong di Cox’s Bazar, Bangladesh, Jumat (24/8/2018). (MOHAMMAD PONIR HOSSAIN/REUTERS)
DHAKA (RIAUPOS.CO) - Yang penting selamat. Hanya itu yang menjadi pegangan kaum Rohingya saat meninggalkan kampung halaman mereka di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, Agustus lalu. Tetapi, ternyata sekadar selamat tidak cukup. Kini, setelah setahun berstatus sebagai pengungsi di Bangladesh, nasib mereka tidak jelas. Anak-anak mereka pun terpaksa putus sekolah.

’’Ada bahaya yang sangat nyata di depan mata. Mereka sangat mungkin menjadi generasi yang hilang,’’ kata juru bicara Unicef Alastair Lawson-Tancred tentang anak-anak para pengungsi Rohingya kemarin (23/8). Kepada Thomson Reuters Foundation, dia mengatakan bahwa 380 ribu anak-anak itu bertahan dalam kondisi yang sulit. Mereka tinggal di rumah yang sangat sederhana, kekurangan pangan, dan tidak mengenyam pendidikan.

Pemerintah Bangladesh sengaja tidak memberikan pendidikan formal bagi anak-anak para pengungsi Rohingya tersebut. Alasannya sederhana. Supaya para pengungsi tersebut tidak kerasan. Sebab, jika mereka telanjur nyaman di Bangladesh, Perdana Menteri (PM) Sheikh Hasina khawatir kamp penampungan itu akan berubah menjadi tempat tinggal permanen.

Saat ini Bangladesh berada dalam posisi yang serbasalah. Menelantarkan kaum Rohingnya yang menjadi korban represi militer Myanmar jelas bukan pilihan. Selain akan mendatangkan kecaman, perbuatan tersebut tidak manusiawi. Tetapi, mengulurkan tangan dan memberikan para pengungsi itu tempat tinggal sementara juga malah membuat mereka repot. Sebab, Myanmar seakan enggan menerima kembali kaum Rohingya yang sudah puluhan tahun tinggal di wilayah mereka tersebut.

Sebenarnya, ada fasilitas pendidikan formal bagi anak-anak para pengungsi Rohingya. Sayangnya, fasilitas itu hanya diperuntukan anak usia 3–14 tahun. Maka, mereka yang berusia lebih dari 14 tahun terpaksa jadi pengangguran. Menurut Save the Children, saat ini ada lebih dari 6 ribu anak-anak Rohingya di Cox’s Bazar yang tinggal sendirian. Mereka sebatang kara. Karena harus menghidupi diri mereka sendiri, anak-anak tersebut jelas tidak memikirkan pendidikan.(sha/c20/hep/jpg)
KOMENTAR
Berita Update

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya
Jumat, 15 November 2018 - 17:59 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri
Jumat, 15 November 2018 - 17:00 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018
Jumat, 15 November 2018 - 16:15 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat
Jumat, 15 November 2018 - 15:45 wib
1,037 Gram Sabu dan 4,845 Pil Ekstasi
BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi
Jumat, 15 November 2018 - 15:30 wib

Pertamina Jamin Pasokan BBM di Riau Cukup
Jumat, 15 November 2018 - 15:15 wib

Bulog Tawarkan Beras Berkualitas dan Murah
Jumat, 15 November 2018 - 15:01 wib
Cari Berita
Internasional Terbaru
Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 WIB

Irlandia Selidiki Benda Terbang di Lepas Pantai Negaranya

Selasa, 13 November 2018 - 16:16 WIB

Legislator Muslim, Antitesis Politik Ketakutan

Minggu, 11 November 2018 - 20:38 WIB

Pembunuhan Khashoggi Perparah Aliansi AS-Saudi

Sabtu, 10 November 2018 - 15:48 WIB

Rossi Tergelincir, Dovi Runner-up

Senin, 05 November 2018 - 12:30 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini