PENGUNGSI ROHINGYA
Bisa Jadi Generasi yang Hilang
Sabtu, 25 Agustus 2018 - 19:18 WIB > Dibaca 488 kali Print | Komentar
Bisa Jadi Generasi yang Hilang
ANAK PENGUNGSI: Anak-anak pengungsi Rohingya menumpangi kincir raksasa bertenaga manusia di kamp Kutupalong di Cox’s Bazar, Bangladesh, Jumat (24/8/2018). (MOHAMMAD PONIR HOSSAIN/REUTERS)
Berita Terkait



DHAKA (RIAUPOS.CO) - Yang penting selamat. Hanya itu yang menjadi pegangan kaum Rohingya saat meninggalkan kampung halaman mereka di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, Agustus lalu. Tetapi, ternyata sekadar selamat tidak cukup. Kini, setelah setahun berstatus sebagai pengungsi di Bangladesh, nasib mereka tidak jelas. Anak-anak mereka pun terpaksa putus sekolah.

’’Ada bahaya yang sangat nyata di depan mata. Mereka sangat mungkin menjadi generasi yang hilang,’’ kata juru bicara Unicef Alastair Lawson-Tancred tentang anak-anak para pengungsi Rohingya kemarin (23/8). Kepada Thomson Reuters Foundation, dia mengatakan bahwa 380 ribu anak-anak itu bertahan dalam kondisi yang sulit. Mereka tinggal di rumah yang sangat sederhana, kekurangan pangan, dan tidak mengenyam pendidikan.

Pemerintah Bangladesh sengaja tidak memberikan pendidikan formal bagi anak-anak para pengungsi Rohingya tersebut. Alasannya sederhana. Supaya para pengungsi tersebut tidak kerasan. Sebab, jika mereka telanjur nyaman di Bangladesh, Perdana Menteri (PM) Sheikh Hasina khawatir kamp penampungan itu akan berubah menjadi tempat tinggal permanen.

Saat ini Bangladesh berada dalam posisi yang serbasalah. Menelantarkan kaum Rohingnya yang menjadi korban represi militer Myanmar jelas bukan pilihan. Selain akan mendatangkan kecaman, perbuatan tersebut tidak manusiawi. Tetapi, mengulurkan tangan dan memberikan para pengungsi itu tempat tinggal sementara juga malah membuat mereka repot. Sebab, Myanmar seakan enggan menerima kembali kaum Rohingya yang sudah puluhan tahun tinggal di wilayah mereka tersebut.

Sebenarnya, ada fasilitas pendidikan formal bagi anak-anak para pengungsi Rohingya. Sayangnya, fasilitas itu hanya diperuntukan anak usia 3–14 tahun. Maka, mereka yang berusia lebih dari 14 tahun terpaksa jadi pengangguran. Menurut Save the Children, saat ini ada lebih dari 6 ribu anak-anak Rohingya di Cox’s Bazar yang tinggal sendirian. Mereka sebatang kara. Karena harus menghidupi diri mereka sendiri, anak-anak tersebut jelas tidak memikirkan pendidikan.(sha/c20/hep/jpg)
KOMENTAR
Berita Update

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah
Minggu, 22 September 2018 - 15:49 wib
Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Stroberi Berjarum Repotkan Australia
Minggu, 22 September 2018 - 14:47 wib
Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu
Minggu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu
Minggu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet
Minggu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion
Minggu, 21 September 2018 - 19:00 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP
Minggu, 21 September 2018 - 18:30 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa
Minggu, 21 September 2018 - 18:00 wib
Tolak Politik Transaksional
Apresiasi Komitmen Partai
Minggu, 21 September 2018 - 17:30 wib
Warga Dambakan Aliran Listrik

Warga Dambakan Aliran Listrik
Minggu, 21 September 2018 - 17:00 wib
Cari Berita
Internasional Terbaru
Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 WIB

Najib Razak Kena 25 Dakwaan Baru

Jumat, 21 September 2018 - 15:58 WIB

Korut Segera Tutup Fasilitas Nuklir Utama Tongchang-ri

Jumat, 21 September 2018 - 14:30 WIB

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 WIB

Ancaman Serius Plastik Mikro

Kamis, 20 September 2018 - 17:37 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini