PENGUNGSI ROHINGYA
Bisa Jadi Generasi yang Hilang
Sabtu, 25 Agustus 2018 - 19:18 WIB > Dibaca 626 kali Print | Komentar
Bisa Jadi Generasi yang Hilang
ANAK PENGUNGSI: Anak-anak pengungsi Rohingya menumpangi kincir raksasa bertenaga manusia di kamp Kutupalong di Cox’s Bazar, Bangladesh, Jumat (24/8/2018). (MOHAMMAD PONIR HOSSAIN/REUTERS)
DHAKA (RIAUPOS.CO) - Yang penting selamat. Hanya itu yang menjadi pegangan kaum Rohingya saat meninggalkan kampung halaman mereka di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, Agustus lalu. Tetapi, ternyata sekadar selamat tidak cukup. Kini, setelah setahun berstatus sebagai pengungsi di Bangladesh, nasib mereka tidak jelas. Anak-anak mereka pun terpaksa putus sekolah.

’’Ada bahaya yang sangat nyata di depan mata. Mereka sangat mungkin menjadi generasi yang hilang,’’ kata juru bicara Unicef Alastair Lawson-Tancred tentang anak-anak para pengungsi Rohingya kemarin (23/8). Kepada Thomson Reuters Foundation, dia mengatakan bahwa 380 ribu anak-anak itu bertahan dalam kondisi yang sulit. Mereka tinggal di rumah yang sangat sederhana, kekurangan pangan, dan tidak mengenyam pendidikan.

Pemerintah Bangladesh sengaja tidak memberikan pendidikan formal bagi anak-anak para pengungsi Rohingya tersebut. Alasannya sederhana. Supaya para pengungsi tersebut tidak kerasan. Sebab, jika mereka telanjur nyaman di Bangladesh, Perdana Menteri (PM) Sheikh Hasina khawatir kamp penampungan itu akan berubah menjadi tempat tinggal permanen.

Saat ini Bangladesh berada dalam posisi yang serbasalah. Menelantarkan kaum Rohingnya yang menjadi korban represi militer Myanmar jelas bukan pilihan. Selain akan mendatangkan kecaman, perbuatan tersebut tidak manusiawi. Tetapi, mengulurkan tangan dan memberikan para pengungsi itu tempat tinggal sementara juga malah membuat mereka repot. Sebab, Myanmar seakan enggan menerima kembali kaum Rohingya yang sudah puluhan tahun tinggal di wilayah mereka tersebut.

Sebenarnya, ada fasilitas pendidikan formal bagi anak-anak para pengungsi Rohingya. Sayangnya, fasilitas itu hanya diperuntukan anak usia 3–14 tahun. Maka, mereka yang berusia lebih dari 14 tahun terpaksa jadi pengangguran. Menurut Save the Children, saat ini ada lebih dari 6 ribu anak-anak Rohingya di Cox’s Bazar yang tinggal sendirian. Mereka sebatang kara. Karena harus menghidupi diri mereka sendiri, anak-anak tersebut jelas tidak memikirkan pendidikan.(sha/c20/hep/jpg)
KOMENTAR
Berita Update
TNI Berikan Penyuluhan Bahaya Narkoba ke Sekolah

TNI Berikan Penyuluhan Bahaya Narkoba ke Sekolah
Selasa, 22 Januari 2019 - 13:17 wib
Polres Meranti Juara Turnamen Futsal Sago Old Star 2019

Polres Meranti Juara Turnamen Futsal Sago Old Star 2019
Selasa, 22 Januari 2019 - 13:00 wib

Pengedar 2 Kg Ganja Dibekuk Polisi
Selasa, 22 Januari 2019 - 12:30 wib

Tuntut Lahan, Warga Ancam Temui Presiden
Selasa, 22 Januari 2019 - 11:35 wib
Tunggakan BPJS Dianggarkan Rp25 Miliar

Tunggakan BPJS Dianggarkan Rp25 Miliar
Selasa, 22 Januari 2019 - 11:25 wib

PT ISB Serahkan Bibit Ikan untuk Warga Rambah
Selasa, 22 Januari 2019 - 11:15 wib

Jadwalkan Periksa Maraton 45 Artis
Selasa, 22 Januari 2019 - 11:05 wib
Cari Berita
Internasional Terbaru
Australia Tak Ingin Bebas Bersyarat

Selasa, 22 Januari 2019 - 10:25 WIB

Atletico Belum Tentu Beli Morata

Kamis, 17 Januari 2019 - 12:25 WIB

Ditawarkan ke Klub Italia

Kamis, 17 Januari 2019 - 12:15 WIB

Anthony Ginting Belum Terbendung

Kamis, 17 Januari 2019 - 11:25 WIB

Wozniacki ke Babak Ketiga

Kamis, 17 Januari 2019 - 11:15 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us