Revolusi Industri 4.0 Perkuat Hulu
Sabtu, 01 September 2018 - 11:49 WIB > Dibaca 610 kali Print | Komentar
Berita Terkait



JAKARTA (RIAUPOS.CO)- Sebagian negara yang ekonominya ditopang sektor industri mulai bergerak ke arah revolusi industri 4.0. Termasuk Indonesia yang tengah berupaya mentransformasikan industri-industri untuk bergerak ke era industri 4.0. Yaitu, era industri yang banyak mengandalkan otomasi dan konektivitas dalam produksinya.

Revolusi industri 4.0 bukan langkah untuk menutup 100 persen keran impor. Namun, industri 4.0 bisa memberikan peluang bagi produk dalam negeri untuk lebih berdaya saing.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara menegaskan, industri 4.0 dapat mendatangkan dampak positif bagi industri dalam negeri. Sebab, untuk menuju industri 4.0, pemerintah berfokus memperkuat sektor hulu.

’’Dengan struktur hulu yang kuat, kami juga akan memperbaiki alur aliran barang sehingga hilir pun bisa menjadi efisien. Zona industri pun didesain lebih efisien untuk menarik investor,’’ ujar Ngakan dalam workshop Pendalaman Kebijakan Industri di Jogjakarta, Kamis (30/8).

Dia menegaskan, revolusi industri 4.0 tidak bertujuan menghentikan impor. Sebab, saat ini semua negara telah terlibat dalam global supply chain. Termasuk Indonesia yang produksi industri andalannya masih bergantung pada bahan baku impor.

’’Kadang kita perlu impor karena kalau kita buat sendiri bisa jadi tidak efisien. Karena itu, kita datangkan dari luar. Tapi, yang penting, di dalam negeri bisa dilakukan nilai tambah yang tinggi,’’ jelas Ngakan.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka Kementerian Perindustrian Muhdori menegaskan, dalam rangka memperkuat hulu industri, impor bahan baku tetap penting dilakukan. ’’Impor untuk garmen itu tidak apa-apa. Asalkan, itu bahan baku untuk produksi bahan jadi yang memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor,’’ ujarnya.

Dari impor bahan baku kain, 30 persen digunakan untuk memenuhi kebutuhan pakaian jadi dalam negeri, sedangkan 70 persen lainnya untuk ekspor.

Hal itu menunjukkan bahwa industri tekstil garmen masih memiliki peluang besar.(agf/c5/oki/jpg)
KOMENTAR
Berita Update
Calon Tuan Rumah  Bawa Kepala Daerah

Calon Tuan Rumah Bawa Kepala Daerah
Rabu, 23 Januari 2019 - 17:25 wib
Hakim Kuatkan Putusan PN Siak
Nelson Tetap Dihukum Setahun Penjara
Hakim Kuatkan Putusan PN Siak
Rabu, 23 Januari 2019 - 17:00 wib
Per usak Atribut PD Segera Jalani Persidangan

Per usak Atribut PD Segera Jalani Persidangan
Rabu, 23 Januari 2019 - 16:25 wib
Hadirkan 15 Saksi, Satu Alat Bukti Dibatalkan

Hadirkan 15 Saksi, Satu Alat Bukti Dibatalkan
Rabu, 23 Januari 2019 - 16:15 wib
Berkas Tersangka Ribuan Ekstasi Dilengkapi

Berkas Tersangka Ribuan Ekstasi Dilengkapi
Rabu, 23 Januari 2019 - 16:05 wib
Curanmor Kembali Beraksi, Resahkan Warga Dumai

Curanmor Kembali Beraksi, Resahkan Warga Dumai
Rabu, 23 Januari 2019 - 15:40 wib
120 Kasus DBD, Mayoritas Anak-Anak

120 Kasus DBD, Mayoritas Anak-Anak
Rabu, 23 Januari 2019 - 15:15 wib
Penempatan Kerja Menjadi Tanggung Jawab Bersama

Penempatan Kerja Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Rabu, 23 Januari 2019 - 15:00 wib

Pembangunan Harus Berjalan Maksimal
Rabu, 23 Januari 2019 - 14:46 wib
Cari Berita
Ekonomi-Bisnis Terbaru
12,5 Ton Siput Diekspor ke Malaysia

Rabu, 23 Januari 2019 - 14:33 WIB

Gojek Siap Perkenalkan Layanan Daring

Rabu, 23 Januari 2019 - 12:32 WIB

Bebas Ekspor Kelapa Diharapkan Tak Hanya Manis di Bibir
Siapkan Diri untuk Mengikuti Kompetisi di GameZ Telkomsel
PWI Diperkenalkan Cikal Bakal Berdirinya PT RAPP

Rabu, 23 Januari 2019 - 10:35 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us